Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Inflasi Babel 2,46% Dipicu Makanan & Emas Perhiasan

Pasar tradisional Bangka Belitung dengan beragam komoditas pangan yang alami kenaikan harga Mei 2026
(Ilustrasi: AI)

Kepulauan Bangka Belitung mencatat inflasi year-on-year sebesar 2,46 persen pada Mei 2026, didorong terutama oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau serta komoditas emas perhiasan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 107,67 dibandingkan 105,09 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Kepulauan Babel Sugeng Arianto menyatakan inflasi ini terjadi meski secara bulanan (month-to-month) tekanan inflasi relatif terkendali di angka 0,06 persen, yang dipengaruhi oleh momen Hari Raya Idul Adha. Temuan ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat Babel menghadapi tekanan struktural dari kenaikan harga kebutuhan pokok dan barang bernilai tinggi sepanjang tahun berjalan.

Kelompok Makanan Jadi Pendorong Utama Inflasi

Kelompok makanan, minuman dan tembakau tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 5,02 persen secara year-on-year. Komoditas yang memberikan andil signifikan antara lain cumi-cumi, daging ayam ras, beras, sawi hijau, udang basah, cabai rawit dan cabai merah. Kenaikan ini mencerminkan pola konsumsi masyarakat Babel yang sangat bergantung pada produk perikanan laut dan hasil pertanian lokal.

Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi di angka 6,65 persen, dengan emas perhiasan menjadi komoditas dominan. Fenomena ini menunjukkan peningkatan permintaan emas sebagai instrumen investasi alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Transportasi juga naik 2,77 persen, didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dan harga bahan bakar rumah tangga.

Deflasi Sektor Pendidikan Capai 16,62 Persen

Di tengah inflasi sebagian besar sektor, kelompok pendidikan justru mengalami deflasi tajam sebesar 16,62 persen. Penurunan ini terutama disumbang oleh biaya sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama. Deflasi sektor pendidikan diduga terkait dengan kebijakan subsidi atau penundaan kenaikan biaya pendidikan oleh pemerintah daerah, serta normalisasi tarif pasca-periode kenaikan tahun lalu.

Selain pendidikan, beberapa komoditas rumah tangga juga mengalami penurunan harga, termasuk bawang putih, kentang, kelapa, sabun detergen bubuk, dan mi kering instan. Penurunan ini memberikan sedikit ruang napas bagi konsumen kelas menengah ke bawah yang terdampak kenaikan harga pangan utama.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda