Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

BPBD Babel Bangun Embung Baru Antisipasi Kemarau Ekstrem

Pekerja membangun embung cadangan air di Bangka Belitung untuk antisipasi kemarau ekstrem dan pencegahan karhutla
(Ilustrasi: AI)

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghadapi ancaman serius musim kemarau ekstrem tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel merespons situasi dengan membangun embung cadangan air baru sebagai strategi vital penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini semakin mendesak setelah embung existing mengalami penyusutan drastis, sementara prediksi cuaca menunjukkan kemarau 2026 akan lebih panjang dan kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Babel Budi Utama menegaskan pentingnya infrastruktur cadangan air ini, terutama mengingat karakteristik geografis Babel yang memiliki banyak kawasan rawan kebakaran sulit dijangkau.

“Saat ini air di embung BPBD sudah mengalami penyusutan, sehingga diperlukan pembangunan embung baru,” katanya di Pangkalpinang mengutip Antara, Kamis, (4/6/2026).

Strategi Pemanfaatan Kolong Bekas Tambang

BPBD Babel mengambil pendekatan inovatif dengan memanfaatkan kolong-kolong atau bekas tambang timah sebagai lokasi embung baru. Strategi ini memanfaatkan infrastruktur lahan bekas yang sudah tersedia, sekaligus memberikan fungsi baru pada area pasca-tambang yang selama ini tidak produktif.

“Saat ini kami sedang mencari kolong-kolong bekas tambang timah, agar bisa dijadikan sebagai embung cadangan air penanganan bencana kebakaran, khususnya karhutla, selama musim kemarau panjang ini,” jelas Budi Utama.

Pemetaan lokasi potensial tengah dilakukan untuk mengidentifikasi kolong yang paling strategis dari segi aksesibilitas dan kapasitas tampung air.

Pendekatan ini tidak hanya efisien dari segi waktu dan biaya pembangunan, tetapi juga sejalan dengan upaya reklamasi lahan bekas tambang yang selama ini menjadi isu lingkungan di Babel. Provinsi yang identik dengan pertambangan timah ini memiliki ratusan kolong bekas tambang yang berpotensi dioptimalkan sebagai infrastruktur cadangan air.

Urgensi di Tengah Prediksi Kemarau Ekstrem

Urgensi pembangunan embung tambahan ini diperkuat oleh analisis iklim terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG Kepulauan Babel Eko Sulistyo Nugroho menyampaikan prediksi mengkhawatirkan berdasarkan pemetaan spasial curah hujan bulanan periode Juni hingga November 2026.

“Beberapa wilayah diprakirakan memiliki potensi kondisi kering yang lebih signifikan dibandingkan daerah lainnya, terutama pada puncak musim kemarau pada September 2026,” kata Eko.

Wilayah prioritas kekeringan terkonsentrasi di Bangka Barat bagian barat, Bangka Selatan, Belitung bagian barat, dan Belitung Timur bagian timur.

Wilayah-wilayah ini diperkirakan menerima curah hujan jauh lebih rendah dibanding area sekitarnya, meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan secara signifikan. Kondisi ini diperburuk oleh keberadaan lahan gambut di beberapa area, yang sangat mudah terbakar saat kering dan menghasilkan kabut asap dalam skala besar.

Peran Vital Embung dalam Mitigasi Karhutla

Keberadaan embung memiliki peran strategis dalam sistem penanggulangan karhutla di Babel. Budi Utama menjelaskan bahwa embung sangat vital dalam mempercepat respons penanganan kebakaran, terutama di daerah-daerah rawan yang sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran konvensional.

“Keberadaan embung sangat vital dalam mempercepat penanganan kebakaran. Apalagi BMKG memperkirakan kemarau tahun ini lebih kering dan panjang sehingga potensi kebakaran serta kekeringan sangat besar terjadi di daerah ini,” tegasnya.

Embung berfungsi sebagai sumber air terdekat yang dapat digunakan helikopter water bombing maupun pompa portable untuk pemadaman cepat. Di kawasan lahan gambut atau hutan yang sulit diakses kendaraan berat, ketersediaan air dalam radius terjangkau menjadi faktor penentu keberhasilan pemadaman sebelum api meluas.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan akses air menjadi salah satu penyebab utama meluasnya titik api menjadi kebakaran besar. Embung yang tersebar strategis dapat mengurangi waktu respons dari jam menjadi menit, menyelamatkan ribuan hektare lahan dari kerusakan.

Implikasi untuk Ketahanan Daerah

Pembangunan embung cadangan air ini merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana jangka panjang BPBD Babel. Langkah ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan reaktif ke proaktif dalam pengelolaan risiko bencana, sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait ketahanan iklim dan ekosistem.

Infrastruktur embung tidak hanya bermanfaat untuk pemadaman karhutla, tetapi juga dapat mendukung ketahanan air masyarakat sekitar selama musim kemarau. Di beberapa daerah terpencil yang mengalami krisis air bersih saat kemarau panjang, embung dapat menjadi sumber air cadangan untuk kebutuhan sehari-hari.

Investasi pada infrastruktur adaptasi iklim seperti embung menjadi semakin penting mengingat tren perubahan iklim yang mengakibatkan pola cuaca ekstrem lebih sering terjadi. Babel, dengan karakteristik geografis kepulauan dan sejarah pertambangan intensif, memerlukan pendekatan khusus dalam membangun ketahanan terhadap bencana kekeringan dan kebakaran.

Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada koordinasi lintas sektor—dari pemetaan lokasi embung, perizinan lahan, konstruksi, hingga pemeliharaan jangka panjang. BPBD Babel kini tengah berpacu dengan waktu menjelang puncak kemarau September untuk memastikan embung-embung baru siap operasional sebelum risiko karhutla mencapai titik tertinggi.(*)

— fds

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda