Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Jeblok ke Level Terendah 5 Tahun, Investor Asing Terus Kabur

Layar perdagangan bursa saham Indonesia menampilkan grafik merah menurun tajam IHSG
(Ilustrasi: AI)

Pasar modal Indonesia kembali dilanda tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,02 persen dalam sesi perdagangan terkini, menyentuh posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Penurunan tajam ini menandai periode turbulensi berkepanjangan yang melanda Bursa Efek Indonesia (BEI), dipicu oleh aksi jual masif investor asing yang tak kunjung mereda.

Kemerosotan ini bukan sekadar koreksi teknikal harian, melainkan cerminan kekhawatiran struktural lebih dalam terhadap prospek ekonomi Indonesia dan ketidakpastian pasar global yang terus membayangi. Posisi IHSG yang kini berada di level terendah sejak 2021 mengirimkan sinyal peringatan kepada para pelaku pasar dan pembuat kebijakan tentang urgensi langkah stabilisasi.

Latar Belakang Tekanan Pasar Modal Indonesia

Tekanan terhadap IHSG bukan fenomena tiba-tiba. Sejak awal tahun, pasar modal Indonesia menghadapi serangkaian tantangan struktural yang saling bertumpuk. Ketidakpastian ekonomi global, ditandai dengan kebijakan moneter ketat bank sentral negara maju dan perang dagang berkepanjangan, telah memicu capital flight dari pasar emerging market termasuk Indonesia.

Investor asing, yang secara historis menjadi penyumbang signifikan likuiditas pasar modal domestik, telah menunjukkan pola net sell (jual bersih) konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Aksi jual ini didorong oleh pencarian safe haven di tengah volatilitas global, serta persepsi risiko yang meningkat terhadap aset-aset emerging market.

Dalam konteks regional, Indonesia juga harus bersaing dengan pasar lain di Asia Tenggara dan Asia yang menawarkan valuasi lebih menarik atau fundamental ekonomi yang dinilai lebih solid. Vietnam, misalnya, telah menarik perhatian investor dengan pertumbuhan ekonomi konsisten dan reformasi struktural yang agresif.

Detail Penurunan IHSG dan Sentimen Pasar

Ambruknya IHSG sebesar 3,02 persen dalam sehari merupakan penurunan point yang cukup signifikan, menembus support teknikal penting yang selama ini menjadi penopang psikologis pasar. Level terendah dalam lima tahun ini menempatkan indeks pada posisi yang bahkan lebih rendah dari periode pemulihan pasca-pandemi COVID-19, ketika pasar mulai bangkit dari keterpurukan 2020.

Aksi jual tidak hanya terjadi pada saham-saham lapis kedua atau ketiga, namun juga menyasar saham-saham blue chip dan liquid yang menjadi favorit investor institusional. Sektor perbankan, konsumer, dan komoditas—yang biasanya menjadi penyangga indeks—ikut terseret dalam tekanan jual masif.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda