Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Inggris Bidik Gelar Piala Dunia 2026, Akhiri Puasa 60 Tahun

Timnas Inggris dalam aksi turnamen besar dengan jersey putih khas Three Lions
(Ilustrasi: AI)

Tim nasional Inggris datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban harapan yang besar namun juga modal yang meyakinkan. Di bawah arahan pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, generasi emas Three Lions bertekad mengakhiri penantian panjang selama 60 tahun untuk kembali mengangkat trofi bergengsi sejak terakhir kali menjadi juara pada 1966.

Catatan sempurna dalam fase kualifikasi menunjukkan keseriusan ambisi tersebut. Inggris menyapu bersih delapan pertandingan dengan kemenangan dan tidak sekali pun kebobolan, mempertegas status mereka sebagai salah satu favorit utama dalam perebutan gelar juara dunia.

Namun bagi negara yang dijuluki sebagai kandang sepak bola modern, capaian ini sekaligus menjadi pengingat akan kontras yang menyakitkan: meski memiliki liga domestik terkuat di dunia dan mencetak talenta berkelas secara konsisten, Inggris baru sekali merasakan puncak kejayaan di level Piala Dunia.

Konsistensi Tinggi Tanpa Trofi Juara

Dalam beberapa tahun terakhir, timnas Inggris menjadi salah satu tim paling konsisten di sepak bola internasional. Namun konsistensi tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi trofi juara yang selama ini dinanti-nantikan.

Sejak mencapai semifinal Piala Dunia 2018 di Rusia, Inggris terus tampil kompetitif di berbagai turnamen besar. Mereka melaju ke final Euro 2020 sebelum kalah adu penalti dari Italia, mencapai perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar setelah disingkirkan Prancis, serta kembali menembus final Euro 2024 sebelum takluk dari Spanyol.

Rangkaian hasil tersebut menunjukkan bahwa Inggris selalu berada di level tertinggi kompetisi internasional. Namun bagi para pemain dan jutaan pendukung mereka, capaian itu belum cukup karena trofi juara tetap menjadi mimpi yang belum terwujud.

Pola ini menciptakan narasi yang familiar: Inggris selalu dekat dengan kesuksesan, namun belum mampu melewati rintangan terakhir. Tekanan untuk mengakhiri kutukan ini kini berada di pundak generasi yang dipandang paling bertalenta sejak era keemasan tahun 1960-an.

Skuad Emas di Bawah Tuchel

Thomas Tuchel membawa pendekatan baru dalam membangun skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026. Pelatih berpengalaman yang pernah meraih gelar Liga Champions bersama Chelsea ini memadukan kekuatan pemain senior dengan energi generasi muda yang sedang bersinar.

Harry Kane tetap menjadi tumpuan utama di lini depan. Penyerang Bayern Muenchen itu datang dengan modal gelar Bundesliga dan Piala Jerman, serta rekor gol yang terus bertambah baik di level klub maupun timnas.

Sementara itu, pemain-pemain seperti Jude Bellingham, Declan Rice, Bukayo Saka, Marcus Rashford, hingga deretan talenta muda lainnya menjadi simbol kekuatan generasi baru Inggris. Nama-nama ini tidak hanya mengisi skuad, tetapi menjadi pemain kunci di klub-klub papan atas Eropa.

Tuchel membuat sejumlah keputusan mengejutkan dalam pemilihan skuad akhir. Penyerang Ivan Toney mendapatkan tempat setelah tampil impresif bersama Al-Ahli dan membantu klub Arab Saudi tersebut menjuarai AFC Champions League Elite. Ollie Watkins juga masuk skuad setelah berkontribusi membawa Aston Villa meraih gelar Liga Europa.

Di sisi lain, beberapa nama besar harus tersingkir dari daftar akhir, termasuk bek senior Harry Maguire, gelandang serang Phil Foden, bek kanan Trent Alexander-Arnold, serta Cole Palmer yang mengalami musim terganggu cedera.

Tuchel mengakui proses pemilihan skuad final bukan perkara mudah mengingat banyaknya pemain berkualitas yang dimiliki Inggris saat ini. Namun ia menegaskan bahwa faktor kepercayaan, chemistry, dan kekompakan tim menjadi pertimbangan utama dalam menentukan 26 pemain yang dibawa ke turnamen.

Bekal Mental dari Kegagalan Masa Lalu

Bukayo Saka menjadi salah satu figur yang mewakili perjalanan emosional generasi Inggris saat ini. Pemain Arsenal yang kini berusia 24 tahun tersebut telah tampil dalam tiga turnamen besar dan merasakan pahitnya kekalahan di panggung final.

Menurut Saka, pengalaman gagal di sejumlah turnamen justru menjadi bahan bakar tambahan bagi tim untuk tampil lebih kuat di Piala Dunia 2026. Pemain yang membantu Arsenal mengakhiri penantian 22 tahun untuk meraih gelar Liga Inggris itu juga menilai skuad saat ini memiliki kualitas di seluruh lini dan mental juara yang lebih matang.

Kekuatan utama Inggris terletak pada keseimbangan antara pemain senior yang sarat pengalaman dengan generasi muda yang sedang berkembang pesat. Kombinasi ini diharapkan mampu mengatasi tekanan besar yang selalu mengiringi Three Lions di setiap turnamen besar.

Dalam sejarah Piala Dunia, momen paling ikonis Inggris terjadi pada edisi 1998 ketika Michael Owen mencetak gol spektakuler ke gawang Argentina pada babak 16 besar. Meski akhirnya tersingkir melalui adu penalti, gol tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu yang terbaik dalam catatan Inggris di turnamen tersebut.

Tantangan di Fase Grup

Inggris akan memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi Kroasia pada 18 Juni 2026 di Dallas Stadium. Laga ini akan menjadi ujian pertama sekaligus pemanasan mental mengingat kedua tim memiliki sejarah kompetitif yang intens.

Pertandingan kedua akan mempertemukan Inggris dengan Ghana pada 24 Juni 2026 di Boston Stadium, sebelum menutup fase grup melawan Panama pada 28 Juni 2026 di New York New Jersey Stadium.

Meski di atas kertas Inggris menjadi favorit untuk lolos dari grup, pengalaman turnamen besar mengajarkan bahwa tidak ada pertandingan yang mudah. Setiap lawan datang dengan strategi dan motivasi tinggi untuk mengalahkan salah satu tim terkuat di dunia.

Mengakhiri Kutukan 60 Tahun

Meski dikenal sebagai salah satu negara besar dalam sejarah sepak bola, Inggris baru sekali menjuarai Piala Dunia, yakni saat menjadi tuan rumah pada 1966. Sejak saat itu, berbagai generasi bertalenta gagal mengakhiri penantian panjang tersebut.

Mulai dari era Gary Lineker, Paul Gascoigne, David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, hingga Wayne Rooney belum mampu membawa Inggris kembali ke puncak dunia. Setiap generasi datang dengan harapan besar, namun pulang dengan kekecewaan.

Kini, dengan kombinasi pemain yang sedang berada pada masa puncak karir dan talenta muda yang terus berkembang, Inggris berharap dapat mengikuti jejak generasi juara dunia 1966 yang dipimpin Bobby Moore dan Geoff Hurst.

Tekanan untuk mengakhiri puasa gelar selama 60 tahun sangat besar. Namun dengan catatan sempurna di kualifikasi, skuad yang solid, dan pengalaman dari kegagalan masa lalu, generasi emas Inggris memiliki peluang terbaik untuk akhirnya membawa pulang trofi yang telah lama dinanti-nantikan oleh seluruh negeri.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda