Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Ekonom: Bukan pidato Presiden Prabowo penyebab IHSG turun

Ekonom: Bukan pidato Presiden Prabowo penyebab IHSG turun
Foto: Arik Abd muhyi/Unsplash

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini mengalami fluktuasi yang memicu berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar modal. Banyak pihak sempat mengaitkan penurunan performa indeks dengan pidato Presiden Prabowo Subianto. Namun, anggapan tersebut dibantah keras oleh kalangan ahli ekonomi.

Ekonom dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara, menegaskan bahwa narasi yang menghubungkan kebijakan komunikasi Presiden dengan pelemahan IHSG sangat tidak tepat. Secara teoritis, pergerakan bursa saham domestik justru lebih dominan dipengaruhi oleh faktor fundamental perusahaan, bukan sekadar respons terhadap retorika politik.

Faktor Fundamental Jadi Penentu Utama

Surya menjelaskan bahwa kinerja emiten merupakan jangkar utama yang menjaga stabilitas pasar. Jika perusahaan-perusahaan besar yang melantai di Bursa Efek Indonesia mayoritas membukukan penurunan pendapatan atau kerugian, maka penurunan IHSG menjadi konsekuensi logis yang tidak terelakkan. Pasar modal selalu merefleksikan kesehatan keuangan para emiten di dalamnya.

“Apabila kinerja perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa secara mayoritas mengalami penurunan pendapatan atau kerugian, maka sudah sewajarnya jika nilai IHSG ikut turun,” kata Surya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Namun, fenomena saat ini menunjukkan anomali yang cukup janggal. Di satu sisi, indikator ekonomi makro Indonesia cenderung positif dan kinerja emiten pun relatif stabil. Mengapa pasar justru bergerak melemah? Surya mencurigai adanya intervensi pihak tertentu yang memiliki agenda di luar kepentingan ekonomi murni.

Dugaan Aksi Investor Irasional

Munculnya narasi yang secara masif menyalahkan pidato Presiden disinyalir Surya sebagai taktik dari segelintir investor nakal. Tindakan irasional ini diduga sengaja dimainkan untuk menciptakan sentimen negatif yang tidak berdasar, sehingga mendiskreditkan posisi pemerintah di mata pelaku pasar global maupun domestik.

Aksi spekulatif ini bukan hanya merusak mekanisme pasar yang sehat, tetapi juga mencederai kepercayaan investor yang melakukan analisis fundamental dengan benar. Bagi para investor ritel, kondisi ini menjadi pengingat untuk tetap waspada dalam mengambil keputusan investasi.

Soal apa dampak nyatanya bagi masyarakat, publik perlu memahami bahwa manipulasi sentimen di bursa dapat menyebabkan volatilitas harga yang tidak mencerminkan nilai asli perusahaan. Ketika pasar bergerak berdasarkan rumor politik alih-alih data kinerja, investor individu yang tidak sigap membaca pola seringkali menjadi pihak yang paling dirugikan secara finansial.

Pentingnya Ketegasan Regulator

Demi menjaga integritas bursa saham nasional, Surya mendesak pemerintah untuk tidak tinggal diam menghadapi perilaku pasar yang menyimpang. Tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan manipulasi atau menyebarkan sentimen irasional dengan agenda politik menjadi langkah krusial untuk melindungi kepentingan publik.

Pasar modal yang sehat membutuhkan transparansi dan kepastian hukum. Tanpa intervensi pengawasan yang kuat, narasi-narasi menyesatkan berisiko terus berulang setiap kali ada momen politik tertentu. Saat ini, fokus pelaku pasar seharusnya kembali pada fundamental ekonomi, seperti tren suku bunga, inflasi, serta laporan keuangan emiten yang bakal menjadi penentu arah bursa ke depan.

Data dari Bursa Efek Indonesia memang mencatat dinamika harian yang cukup tajam. Namun, mengaitkan setiap penurunan nilai dengan satu variabel pidato tanpa melihat konteks likuiditas global dan pergerakan sektor perbankan merupakan sebuah kekeliruan dalam membaca peta ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda