Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Israel Langgar Gencatan Senjata, 190 Serangan Sasar RS Lebanon

Serangan Israel di Lebanon usai gencatan senjata dengan asap membubung dari gedung rusak
(Ilustrasi: AI)

Gencatan senjata yang baru-baru ini diumumkan dirancang sebagai upaya untuk memberikan jeda kemanusiaan dan membuka ruang bagi negosiasi lebih lanjut. Namun, lamanya gencatan senjata tersebut belum pernah dijelaskan secara rinci, dan komitmen kedua belah pihak terhadapnya tetap dipertanyakan oleh pengamat internasional.

Kronologi Serangan Terbaru dan Pelanggaran Gencatan Senjata

Serangan Israel yang diluncurkan setelah pengumuman gencatan senjata menandai pelanggaran yang cepat terhadap kesepakatan yang rapuh. Meskipun detail spesifik mengenai waktu dan target serangan terbaru masih dalam penyelidikan, pola serangan Israel terhadap Lebanon dalam beberapa bulan terakhir memberikan gambaran tentang skala dan intensitas operasi militer yang sedang berlangsung.

Menurut WHO, hampir 190 serangan telah ditujukan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon sejak Maret 2026. Angka ini mencakup serangan langsung terhadap rumah sakit, klinik, dan ambulans, serta kerusakan tidak langsung akibat serangan di area sekitar fasilitas medis. Pola ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kemungkinan pelanggaran hukum humaniter internasional, yang melindungi fasilitas kesehatan sebagai zona netral dalam konflik bersenjata.

Serangan terhadap infrastruktur kesehatan memiliki dampak yang menghancurkan bagi populasi sipil Lebanon. Sistem kesehatan negara tersebut, yang sudah rapuh akibat krisis ekonomi berkepanjangan sejak 2019, semakin tertekan oleh gelombang serangan militer. Rumah sakit di wilayah selatan Lebanon khususnya menghadapi kekurangan pasokan medis, staf yang kewalahan, dan kerusakan fisik yang menghambat kemampuan mereka untuk memberikan perawatan darurat.

Pelanggaran gencatan senjata ini juga mencerminkan dinamika politik internal di Israel. Netanyahu, yang menghadapi tekanan domestik dari sayap kanan koalisinya, memiliki insentif politik untuk menunjukkan sikap tegas terhadap Hizbullah. Namun, pendekatan ini telah memicu kritik dari Washington, dengan Trump dilaporkan frustasi atas risiko konflik yang meluas yang dapat menarik Amerika Serikat lebih dalam ke dalam konflik regional.

Di sisi lain, Hizbullah juga telah melanjutkan operasi ofensifnya. Kelompok ini mengklaim telah meluncurkan serangan drone terhadap posisi militer Israel di perbatasan, yang mengakibatkan korban di kalangan tentara Israel. Pola saling serang ini menciptakan siklus kekerasan yang sulit diputus, meskipun ada upaya diplomasi internasional.

Halaman:12345Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda