Senin, 17 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Mengapa Trump Memainkan Peran sebagai Seorang Penghibur Reality Show di Perang Iran?

Mengapa Trump Memainkan Peran sebagai Seorang Penghibur Reality Show di Perang
Mengapa Trump Memainkan Peran sebagai Seorang Penghibur Reality Show di Perang

WASHINGTON — Donald Trump kembali mengobarkan retorika keras soal perang Iran dengan mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Pernyataan itu memantik pembacaan baru atas cara Trump berbicara: besar, teatrikal, dan sangat ditujukan ke audiens di dalam negeri.

Pakar pemerintahan Georgetown University Qatar, Paul Musgrave, menyebut gaya itu khas Trump. Ia menilai Presiden AS tersebut kerap melontarkan pernyataan untuk basis pendukungnya, bukan untuk dibaca mentah-mentah sebagai kebijakan yang sudah final.

Trump, showman, dan pesan politiknya

Musgrave mengatakan Trump adalah produk acara pertunjukan di televisi AS dan pada dasarnya seorang showman. Karena itu, kata dia, ucapan Trump perlu dibaca sebagai sinyal politik, bukan kalimat yang selalu harus dipahami secara literal.

“Dia adalah sosok yang gemar bicara besar. Anda harus menanggapi ucapannya dengan serius dalam beberapa hal, namun tidak secara harfiah,” ujar Musgrave.

Pandangan itu penting karena klaim soal Selat Hormuz mustahil diwujudkan begitu saja, baik secara fisik maupun hukum. Namun, ancaman itu tetap punya bobot politik. Trump sedang mengirim pesan bahwa dia tidak ingin terlihat mundur dalam konflik yang sudah berjalan berbulan-bulan.

Kalimatnya kasar. Efeknya jelas.

Di titik ini, retorika Trump juga berfungsi sebagai penekan. Ia menutup ruang bagi kesan bahwa Washington siap menerima kekalahan, sekaligus menjaga citra keras di hadapan pemilih yang selama ini menyukai gaya konfrontatifnya.

Selat Hormuz jadi titik tekan baru

Dalam laporan pembanding dari Independent, Trump bahkan mengatakan akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS “pretty soon”. Ia juga menyebut tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali bila Washington menghendakinya. Frasa itu menambah ketegangan atas jalur pelayaran strategis yang selama perang ikut menjadi pusat perseteruan.

Iran, lewat Deputi Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, merespons dengan nada keras. Ia menegaskan selat itu akan dibuka dan ditutup hanya di bawah komando Iran, seraya menyatakan AS harus menerima kekalahan dan berhenti berkhayal. Iran juga menolak melanjutkan pembicaraan dengan Washington, menurut laporan yang dikutip Independent.

Laporan itu menunjukkan kebuntuan belum pecah. Bukan karena tak ada pembicaraan sama sekali, melainkan karena masing-masing pihak memilih bahasa sendiri. Iran menyebut komunikasi dengan pihak penengah seperti Qatar dan Pakistan, sementara Washington tetap memakai tekanan verbal dan politik.

Arah konflik belum berubah

Musgrave menilai fase baru perang ini cenderung bergerak ke tekanan ekonomi yang lebih berat, termasuk sanksi tambahan. Ia juga menyebut kemungkinan perang di front lain, misalnya lewat serangan siber terhadap Iran. Dengan kata lain, konflik belum masuk jalur damai, justru bergeser ke bentuk tekanan yang lebih luas.

Dari sisi Iran, Musgrave melihat sikap yang sama kerasnya. Pemerintah di Teheran, kata dia, enggan mengakui negosiasi secara terbuka karena kelompok garis keras tidak nyaman dengan istilah itu. Di depan publik, mereka memilih menampilkan keteguhan, bukan kelonggaran.

Soalnya, siapa yang lebih dulu mengaku kalah akan kehilangan ruang tawar. Karena itu, dalam jangka pendek hingga menengah, Musgrave memperkirakan perang ini masih akan buntu. Dan selama kebuntuan itu bertahan, pernyataan Trump soal Selat Hormuz tampaknya akan terus dipakai sebagai alat tekan, bukan sekadar drama panggung.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda