“Mengatasi dilema pilihan yang sulit itu hanya akan bisa ditolong, dikuatkan oleh ideologi, nilai, atau keberpihakan,” tegasnya.
Ia mencontohkan berbagai keputusan yang diambil selama memimpin Kota Bogor, mulai dari pemberantasan praktik perizinan yang mengatasnamakan wali kota, keberpihakan terhadap penggunaan produk lokal oleh aparatur sipil negara, hingga penyelesaian persoalan sosial dan keberagaman melalui dialog yang panjang.
Bima juga mengungkapkan bahwa nilai-nilai kepemimpinannya dibentuk oleh keluarga, pengalaman akademik, serta tradisi intelektual Universitas Paramadina yang diwariskan oleh almarhum Nurcholish Madjid.
“Yang membantu menuntun saya menyelesaikan Kota Bogor adalah ideologi. Ideologi atau nilai itu datang dari satu proses yang panjang,” ujarnya.
Menurut Bima, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai proyek fisik, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu memelihara harapan warga terhadap masa depan daerahnya.
“Leaders are dealers of hope,” kata Bima.
Ia menjelaskan bahwa berbagai program penataan ruang publik, pembangunan pedestrian, revitalisasi kawasan kota, hingga kembali diraihnya Piala Adipura menjadi bagian dari strategi “mencicil harapan” masyarakat Kota Bogor.
Dalam kesempatan tersebut, Bima juga menyoroti pentingnya kedekatan pemimpin dengan masyarakat.
“Datanglah di kala suka dan duka kepada warga, maka kalian akan dikenang seumur-umur,” tuturnya.
Lebih lanjut, Bima menyampaikan bahwa pemimpin juga harus mampu merawat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, baik kelompok akar rumput, komunitas, akademisi, maupun kalangan elite pemerintahan.(*)
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.