BOSTON, JOURNALARTA.COM – Publik akan dipertontonkan duel menarik antara Norwegia dan Irak di Stadion Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026), pukul 05.00 WIB. Laga ini jadi kesempatan emas Erling Haaland memutus kebangkitan para wakil Asia yang belum terkalahkan menjelang akhir putaran pertama fase penyisihan grup.
Hingga kini, enam dari sembilan wakil Asia di Piala Dunia belum terkalahkan. Australia dan Korea Selatan bahkan sanggup meraih kemenangan meski tidak lebih diunggulkan. Sementara Iran, Qatar, Jepang, dan Arab Saudi tampil heroik dengan hasil imbang.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Qatar sukses mengimbangi permainan Swiss. Arab Saudi mendapat pujian banyak karena membuat Uruguay frustrasi. Berkat performa tersebut, tidak berlebihan jika sebagian kalangan menyebut Piala Dunia kali ini adalah eranya kebangkitan wakil Asia.
Irak Mulai Diperhitungkan
Sorotan berikutnya tertuju pada Irak. Dari awalnya kurang diperhitungkan, seiring performa bagus dari para wakil Asia, perlahan mulai banyak pihak merasa tim “Singa Mesopotamia” juga bisa menghadirkan kejutan. Pelatih Irak Graham Arnold mengatakan timnya tidak gentar meladeni Norwegia yang dihuni banyak pemain kelas dunia.
Secara peringkat dunia, Norwegia pun jauh lebih baik, menempati peringkat ke-31 dunia atau 26 tingkat di atas Irak. Arnold berharap Irak mampu melanjutkan kejutan Asia yang sudah dimulai.
“Kami harus tampil sebaik mungkin dan mencoba mengejutkan dunia. Kami harus percaya pada diri sendiri dan tidak boleh takut untuk turun ke lapangan bermain melawan mereka,” tutur Arnold dalam konferensi pers Selasa (16/6/2026).
“Para pemain harus bersemangat dan siap menghadapi pertarungan satu lawan satu. Saya pikir itulah salah satu hal yang dimiliki orang Irak — semangat juang yang hebat.”
Perjalanan Panjang Menuju Piala Dunia
Irak memiliki mentalitas setangguh batu karang. Mereka tergolong tim yang paling awal menjalani kualifikasi, namun memastikan tiket babak utama Piala Dunia paling terakhir. Berlapisnya babak kualifikasi zona Asia memaksa Irak harus memainkan total 21 laga, termasuk playoff Asia dan antarbenua melawan Bolivia. Irak menjadi kontestan Piala Dunia dengan masa kualifikasi terlama.
Di satu sisi, perjalanan panjang itu berpotensi menguras fisik dan mental. Di sisi lain, para pemain Irak lebih diuntungkan karena menjalani rangkaian pertandingan kompetitif yang intens.
“Para pemain telah melalui banyak babak playoff, banyak pertandingan penuh tekanan. Ini adalah pengalaman belajar yang baik bagi mereka,” kata Arnold.
Arnold sudah satu tahun menangani Irak. Dia termasuk sosok pelatih yang paham cara memotivasi pemain meski kurang diunggulkan. Pengalamannya bersama timnas Australia pada Piala Dunia Qatar 2022 adalah buktinya — membawa “Socceroos” yang kurang diperhitungkan hingga babak 16 besar.
Taktik Irak: 4-4-2 yang Solid
Di bawah arahan Arnold, Irak kerap menggunakan formasi 4-4-2. Struktur solid dari formasi ini memungkinkan Irak bertahan rapat dan dengan cepat melancarkan serangan balik. Penyerang Aymen Hussein dan gelandang Amir al-Ammari wajib mendapat pengawalan ekstra dari pemain Norwegia.
Hussein sangat klinis di dalam kotak penalti. Ammari piawai dalam eksekusi bola mati dan melindungi empat bek Irak. Kedua pemain ini menjadi kunci serangan balik Irak.
Satu persamaan mendasar bagi Irak dan Norwegia adalah mereka termasuk peserta lama yang baru berkesempatan kembali ke Piala Dunia setelah bertahun-tahun. Norwegia terakhir tampil di Piala Dunia 1998, melaju hingga babak 16 besar sebelum kalah dari Italia.
Penantian Irak lebih lama lagi. Terakhir kali Irak berpartisipasi di Piala Dunia adalah edisi 1986 di Meksiko. Kali ini, tekanan pada Irak tidak terlampau besar mengingat mereka akan tetap disambut bak pahlawan asal tidak menjadi lumbung gol.
Norwegia: Tim Berimbang dan Elegan
Norwegia jelas bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Di bawah arahan Pelatih Stale Solbakken, Norwegia menjelma menjadi tim yang seimbang di lini tengah. Pendekatan Solbakken lebih elegan ketimbang gaya bermain Norwegia pada 1998 yang senang umpan-umpan panjang. Kini Solbakken menekankan kontrol pada penguasaan bola.
Hasilnya nyata. Norwegia melaju mulus dari babak kualifikasi setelah menyapu bersih delapan laga dengan kemenangan. Mereka menyingkirkan raksasa seperti Italia sebelum mencapai babak utama Piala Dunia.
“Di situlah kami menetapkan standar, setelah apa yang telah kami lakukan di babak kualifikasi. Kami mengubah ekspektasi, itu bagus,” kata pemain tengah Martin Odegaard.
Trisula Serangan Norwegia
Solbakken cenderung menyukai formasi 4-3-3. Ia mengandalkan lini serang pada trisula Erling Haaland, Alexander Sorloth, dan Antonio Nusa. Ketiga pemain depan itu sudah saling memahami dalam berotasi posisi.
Sorloth, meski berposisi penyerang tengah, tidak jarang bergerak melebar saat sedang tidak menggiring bola. Ketika bola berhasil direbut, Sorloth akan segera bergabung dengan Haaland membentuk formasi dua penyerang di area kotak penalti lawan.
Laga melawan Irak terasa istimewa bagi Haaland. Penyerang Manchester City itu berkesempatan menyudahi keajaiban para wakil Asia. Haaland saat ini disebut-sebut sebagai salah satu penyerang terbaik di dunia. Postur tinggi besar serta kecepatannya dalam melepas diri dari marking lawan menjadi senjata ampuh yang sulit dibendung pertahanan Irak. Duel antara Haaland versus para bek Irak akan menjadi pertarungan seru yang menentukan nasib kedua tim di pertandingan ini.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.