JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Adegan Davina yang menempelkan alat kecil ke minuman lalu terdengar bunyi “TIT” disusul tulisan TERDETEKSI SIANIDA di layar membuat penonton sinetron Terikat Janji RCTI ramai bertanya-tanya. Apakah teknologi semacam itu benar-benar ada?
Jawabannya: ada. Tapi jauh dari se-instan yang ditampilkan di layar kaca.
Mirip Spektrometer Raman Portabel
Alat yang muncul dalam episode 6 April 2026 itu bentuknya kecil seperti pemindai genggam dan memang ada padanannya di dunia nyata. Namanya Spektrometer Raman Portabel, digunakan oleh polisi, BPOM, hingga laboratorium forensik untuk mendeteksi bahan berbahaya tanpa merusak sampel.
Cara kerjanya: alat menembakkan laser ke sampel, laser dipantulkan balik, lalu perangkat lunak menganalisis “sidik jari molekul” zat tersebut dan mencocokkannya dengan database. Hasilnya keluar dalam 10 hingga 30 detik. Bisa mendeteksi sianida, pestisida, arsenik, residu bahan kimia non-edible, dan sejumlah narkotika.
Salah satu contohnya adalah LR-R Portable Raman Spectrometer yang sudah dipakai lembaga pengawas pangan dan kepolisian di berbagai negara, termasuk Indonesia melalui Labkesda dan BPOM.
Fakta vs Layar Sinetron
Di sinilah jarak antara drama televisi dan kenyataan mulai terasa. Beberapa perbandingan mendasar:
| Aspek | Di Sinetron | Kenyataan 2026 |
|---|---|---|
| Kecepatan | 1 detik, langsung bunyi | 10–30 detik + analisa database |
| Cara pakai | Tempel ke gelas, selesai | Butuh kalibrasi, sampel harus bersih |
| Jenis racun | Semua terdeteksi | Hanya yang ada di database |
| Harga alat | Seperti ponsel biasa | Rp150 juta – Rp500 juta |
| Akurasi | 100%, tak pernah meleset | Akurat, tapi false positive bisa terjadi |
Intinya: teknologinya nyata, tapi sinetron membuatnya terasa plug-and-play demi efek dramatis yang maksimal.
Keterbatasan yang Tidak Ditampilkan
Ada empat hal yang tidak terlihat di layar.
Pertama, alat ini tidak bisa mendeteksi semua jenis racun. Arsenik, merkuri, dan sianida oke. Tapi racun biologis seperti botulinum toxin butuh instrumen yang sama sekali berbeda.
Kedua, soal database. Kalau seseorang meracik racun sendiri dengan formula baru, alat hanya akan menampilkan “Unknown Substance” bukan nama zat yang dramatis.
Ketiga, posisi sampel penting. Jika racun mengendap di dasar gelas dan alat hanya memindai bagian atas cairan, hasilnya bisa meleset sepenuhnya. Perlu diaduk dulu.
Keempat, dan ini yang paling jauh dari realita sinetron yakni soal harganya. Rp150 juta sampai Rp500 juta per unit. Bukan sesuatu yang bisa dipegang orang biasa seperti memegang sendok makan.
Lebay atau Tidak?
Tidak sepenuhnya lebay. Produksi Terikat Janji tampaknya mengacu pada teknologi yang memang eksis, bukan sekadar fiksi ilmiah murni. Tapi tiga hal didramatisasi secara signifikan.
Kecepatan deteksi di sinetron dibuat instan, padahal aslinya ada jeda analisis. Tampilannya pun disederhanakan sebab di layar muncul tulisan besar “RACUN TERDETEKSI”, sementara hasil nyata berbentuk grafik spektrum yang hanya terbaca oleh teknisi terlatih. Dan karakter sinetron memegang alat senilai setengah miliar rupiah seolah itu barang dapur.
Analoginya mirip adegan hacker di film yang dalam tiga detik bisa membobol sistem NASA. Teknologinya ada. Tapi tidak pernah semudah itu.
Penggunaan detektor Raman portabel di Indonesia sendiri masih terbatas pada instansi tertentu. BPOM menggunakannya untuk pengujian pangan di lapangan, sementara Bareskrim Polri memiliki unit laboratorium forensik yang dilengkapi alat serupa untuk keperluan penyidikan kasus keracunan atau narkoba.
Jadi, kalau menonton adegan Davina dan bertanya-tanya tentang teknologi itu bukan khayalan. Hanya saja, di dunia nyata, tidak ada yang berbunyi “TIT” dalam satu detik.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.