Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Timnas vs Vietnam: Erick Thohir Sarankan Stadion GBK

Stadion GBK Jakarta dengan bendera Indonesia untuk pertandingan Timnas Piala AFF 2026
Erick Thohir buka peluang GBK untuk Timnas Indonesia lawan Vietnam di Piala AFF 2026, disesuaikan kapasitas penonton dan kondisi lapangan. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Ketua Umum PSSI Erick Thohir membuka pintu untuk menggelar pertandingan Timnas Indonesia melawan Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) saat fase grup Piala AFF 2026, menyalahi rencana awal yang menargetkan Stadion Pakansari, Bogor. Keputusan ini bergantung pada estimasi kehadiran penonton dan kondisi rumput lapangan.

“Kalau melawan Vietnam, Thailand, atau tim besar lainnya, kemungkinan kita akan menggunakan stadion besar seperti GBK,” ungkap Erick di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Pernyataan ini menjadi menarik karena kontradiktif dengan perencanaannya sebelumnya. Direktur Utama PT Garuda Sepakbola Indonesia (GSI), Marsal Masita, pernah menyatakan GBK hanya akan diaktifkan jika Timnas lolos ke semifinal — sementara Pakansari, dengan kapasitas 38 ribu penonton, disiapkan untuk semua laga fase grup. Kini, Thohir memberi sinyal fleksibilitas yang lebih tinggi.

Fleksibilitas Stadion: Strategi Atau Kepaksa?

Keputusan venue bukan hal sepele dalam turnamen internasional. Stadion besar seperti GBK (88 ribu kapasitas) dan Pakansari memiliki karakteristik berbeda — dari aspek infrastruktur, akses transportasi, hingga atmosfer pertandingan. Perubahan rencana ini mencerminkan PSSI sedang melakukan kalibrasi ulang.

Erick menjelaskan logika di balik fleksibilitas tersebut. Pertama, kapasitas penonton. “Jika ada negara yang jumlah pendukung yang datang dari negaranya terbatas, mungkin kita akan mempertimbangkan stadion lebih kecil,” katanya. Artinya, PSSI ingin menghindari citra stadion kosong saat pertandingan berlangsung — dampak visual yang merusak brand Indonesia sebagai penyelenggara.

Faktor kedua, dan ini yang sering terabaikan dalam diskusi publik: kesehatan lapangan. “Kita ingin menjaga kapasitas stadion tetap terisi dengan baik dan juga memastikan ada rotasi penggunaan lapangan agar kondisi rumput terus membaik dan tetap prima saat digunakan untuk pertandingan,” jelas Thohir. Rotasi stadion bukan strategi menghemat, melainkan manajemen aset infrastruktur yang cerdas.

Indonesia memiliki beberapa stadion kategori internasional tersebar di berbagai pulau. Dengan merotasi penggunaan venue untuk fase grup, PSSI melindungi kualitas rumput di masing-masing stadion. Jika hanya satu stadion yang dipakai terus-menerus, degradasi lapangan akan terjadi lebih cepat — terutama dalam iklim tropis yang menuntut perawatan intensif.

Grup Berat Indonesia, Vietnam Jadi Barometer

Timnas Indonesia ditempatkan di Grup A Piala AFF 2026 bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste. Pertandingan fase grup akan berlangsung Juli 2026.

Vietnam adalah barometer kekuatan grup ini. Tim Awal Nho Khoa konsisten di final AFF dalam dekade terakhir — bahkan pernah juara pada 2008. Dukungan penonton Vietnam yang datang ke Indonesia juga kerap masif, terutama jika ada ribuan komunitas diaspora di Jabodetabek dan sekitarnya. Inilah mengapa Thohir menyebut Vietnam secara spesifik sebagai kandidat utama pengguna GBK.

Dari empat jadwal pertandingan fase grup, Indonesia memiliki dua laga kandang: melawan Vietnam dan Kamboja. Dua pertandingan sisanya dimainkan sebagai tamu. Jika Timnas memenangkan kedua laga kandang, peluang lolos semifinal akan membesar signifikan.

Komitmen Kualitas, Bukan Sekadar Kapasitas

Erick menegaskan PSSI tidak akan membeda-bedakan lawan hanya berdasarkan skala stadion. Setiap keputusan venue akan melalui analisis mendalam: estimasi kehadiran penonton, jarak aksesibilitas dari pusat kota, infrastruktur pendukung, dan kondisi lapangan real-time.

“Kami ingin memberikan pengalaman terbaik untuk suporter sekaligus memastikan Timnas bermain di kondisi lapangan yang prima,” tutup Thohir.

Pendekatan ini menandakan PSSI mulai berpikir holistik. Turnamen bukan hanya tentang hasil pertandingan, melainkan juga ekosistem yang menopangnya — dari fasilitas stadium hingga pengalaman penonton dan performa pemain. Keputusan fleksibel Thohir, apakah diterima atau dikritik, menunjukkan organisasi induk sepakbola Indonesia sedang belajar mengelola ekspektasi dan realitas operasional dalam kompetisi regional terbesar.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda