Ini berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Di Piala Dunia klasik dengan grup empat tim, setiap negara main tiga kali. Sekarang cuma dua kali.
Konsekuensinya penting. Kriteria ketiga hingga kelima yang semuanya berbasis head-to-head dan hanya bisa diterapkan jika dua tim yang bersaing sudah pernah bertemu. Kalau belum, FIFA melewati tiga kriteria itu dan langsung melompat ke selisih gol total serta jumlah gol keseluruhan.
Ini bisa terjadi, misalnya, ketika jadwal mengatur dua tim belum bertemu saat penentuan peringkat dilakukan di hari yang sama. Format tiga tim memang lebih simpel di atas kertas, tapi aturan peringkatnya menuntut pemahaman lebih hati-hati.
Contoh Konkret: Grup Fiktif
Bayangkan Grup D berakhir seperti ini:
| Tim | Poin | Selisih Gol | Gol Dicetak |
|---|---|---|---|
| Amerika Serikat | 3 | +2 | 4 |
| Turki | 3 | +2 | 3 |
| Paraguay | 3 | -1 | 2 |
Poin ketiga tim sama. Langkah pertama: cek selisih gol. Paraguay langsung tereliminasi karena selisihnya -1. AS dan Turki sama-sama +2, jadi lanjut ke kriteria dua.
Di sana, AS cetak 4 gol, Turki hanya 3. Amerika Serikat finis pertama. Turki kedua. Paraguay tersingkir tanpa perlu melihat kriteria lain.
Sederhana, tapi ada banyak skenario lebih rumit yang mungkin terjadi di turnamen nyata terutama di babak grup yang berlangsung serentak dan penuh tekanan. Memahami tujuh kriteria ini bukan sekadar pengetahuan teknis. Bagi pelatih dan federasi, ini bisa menentukan apakah sebuah bangsa lolos ke babak 32 besar atau pulang lebih awal dari Amerika Utara musim panas 2026.
Untuk melihat skor dan jadwal realtime Piala Dunia 2026 dapat melalui: JournalArta Special Event https://journalarta.com/piala-dunia-2026/
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.