Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Bangunan Hotel Sultan Akan Diapakan Usai Diserahkan ke Negara? Ini Kata PPKGBK

Bangunan Hotel Sultan Jakarta yang diserahkan kembali kepada negara setelah eksekusi aset
Hotel Sultan diserahkan ke negara, tapi nasibnya masih belum jelas. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pertanyaan besar menggantung di atas gedung Hotel Sultan yang kini telah resmi diserahkan kembali kepada negara. Apa yang akan dilakukan pemerintah dengan aset seluas itu masih menjadi misteri, meski eksekusi pulihkan aset negara sudah dijalankan Polda Metro Jaya.

Pemerintah Pusat Kantor Gedung Grahadi Bawaslu dan Komisi Pemilihan Umum (PPKGBK) memberikan jawaban terkait rencana penggunaan bangunan eks hotel berbintang di pusat Jakarta tersebut. Menurut mereka, keputusan penuh ada di tangan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Sekretariat Negara.

“Kami sebagai pihak yang menjalankan eksekusi hanya menyerahkan kembali aset. Penggunaan selanjutnya adalah tanggung jawab Kemensesneg,” ujar perwakilan PPKGBK dalam pernyataannya.

Kasus Hotel Sultan memang bukan masalah sederhana. Properti senilai ratusan miliar rupiah ini telah menjadi sengketa bertahun-tahun. Awalnya, gedung itu adalah proyek negara dengan tujuan mulia. Namun, perjalanannya berbelok drastis.

Kronologi Panjang Sengketa

Dari proyek strategis negara, Hotel Sultan berubah menjadi objek kontroversial. Selama bertahun-tahun, bangunan tersebut diduga dikelola oleh pihak swasta tanpa izin resmi atau dengan izin yang tidak jelas statusnya. Pertanyaan siapa pemilik sah terus bergulir sampai pengadilan memutuskan aset ini harus dikembalikan kepada negara.

Eksekusi akhirnya dilakukan. Polda Metro Jaya turun langsung mengawal proses pemulihan aset negara tersebut. Operasi ini menandai babak baru dalam penyelesaian kasus yang melibatkan banyak pihak — dari birokrat, pengembang, hingga pemerintah lokal.

Transisi kepemilikan dari privat kembali ke publik bukanlah akhir cerita. Justru, ini adalah awal dari pertanyaan baru: apa yang akan menjadi fungsi bangunan itu ke depan?

Kemensesneg Diminta Ambil Peran

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari fraksi Gerindra, Dasco Ahmad, mengajukan harapan konkret. Ia meminta agar Kemensesneg dapat menampung bekas karyawan Hotel Sultan yang kehilangan pekerjaan akibat pengembalian aset. Dengan kata lain, transisi ini tidak seharusnya meninggalkan dampak sosial yang merugikan tenaga kerja.

“Pemerintah perlu memastikan bekas karyawan mendapat perlakuan adil,” tutur Dasco dalam aspirasi politiknya.

Permintaan ini mencerminkan kekhawatiran lebih luas: saat aset negara dikembalikan, bagaimana dengan ratusan orang yang bergantung pada operasional hotel? Program retraining atau realokasi kerja bisa menjadi jawaban, namun belum ada kejelasan apakah pemerintah siap mengambil langkah tersebut.

Evaluasi Aset Negara Lainnya

Kasus Hotel Sultan membuka mata terhadap aset-aset negara lainnya yang mungkin mengalami nasib serupa. Suara.com melaporkan bahwa setelah penyelesaian kasus Hotel Sultan, pemerintah juga diminta untuk mengevaluasi Lapangan Golf Ottolima di kawasan Senayan.

Pertanyaannya sederhana tapi mendesak: berapa banyak aset strategis negara yang sebenarnya “hilang” dalam kelolaan swasta tanpa pengawasan memadai? Lapangan golf premium di lokasi premium tentu punya nilai ekonomi tinggi, namun apakah ia masih milik negara?

Pemerintah sepertinya sedang menghadapi pekerjaan rumah besar dalam audit dan verifikasi aset. Hotel Sultan hanya bagian kecil dari puzzle yang jauh lebih besar.

Menunggu Keputusan Pemerintah

Saat ini, bangunan Hotel Sultan berdiri dengan status baru: aset negara yang bebas dari klaim privat, tetapi masih kosong fungsi. Pemerintah memiliki beberapa opsi. Gedung itu bisa dijadikan kantor pemerintah, sekolah negeri, museum, fasilitas publik, atau malah dilelang kembali dengan syarat lebih ketat.

Atau—besar kemungkinan—pemerintah akan merenovasi total bangunan dan menyesuaikan fungsinya dengan kebutuhan strategis jangka panjang.

Yang pasti, keputusan Kemensesneg akan menjadi indikator serius tentang bagaimana pemerintah mengelola aset publik ke depan. Transparansi dan pertimbangan dampak sosial menjadi kunci, mengingat kasus ini telah menyita perhatian publik cukup lama.

Sampai ada pengumuman resmi dari Kementerian Sekretariat Negara, Hotel Sultan tetap menjadi tanda tanya besar di jantung Jakarta.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda