Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Janji-janji DPR untuk Mahasiswa Demonstran: Soal MBG hingga BBM

Janji-janji DPR soal MBG dan BBM usai demo mahasiswa
Janji-janji DPR kepada mahasiswa demonstran mengerucut pada evaluasi MBG dan BBM usai audiensi di DPR RI, Kamis, 4 September 2025. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Janji-janji DPR kepada mahasiswa yang berdemo di depan Kompleks Parlemen, Senayan, mengerucut ke dua isu yang paling terasa di kantong publik: makan bergizi gratis (MBG) dan bahan bakar minyak (BBM). Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut aspirasi mahasiswa akan ditindaklanjuti setelah audiensi di gedung DPR RI, Kamis, 4 September 2025.

Pertemuan singkat itu jadi penting karena mahasiswa datang dengan tekanan yang jelas: mereka minta DPR tidak berhenti di seremonial, tapi benar-benar menjawab keresahan soal belanja negara, layanan publik, dan biaya hidup. Di luar pagar, massa aksi masih bertahan. Suaranya keras. Isunya konkret.

Dasco: aspirasi mahasiswa akan ditindaklanjuti

Usai audiensi, Dasco naik ke mobil komando dan berbicara langsung kepada mahasiswa. Dalam orasinya, ia menegaskan DPR akan menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan dalam forum tersebut. Pernyataan itu disampaikan di tengah aksi yang berlangsung di depan Gedung DPR RI, dan menjadi sinyal bahwa pimpinan dewan memilih membuka jalur komunikasi ketimbang membiarkan massa menunggu terlalu lama.

Menurut laporan Kompas.com dan sejumlah media lain yang memantau situasi di lapangan, pertemuan itu mempertemukan perwakilan mahasiswa dengan unsur pimpinan DPR. Dasco hadir sebagai wajah dari respons parlemen. Ia tidak menjabarkan seluruh poin secara rinci di hadapan massa, tapi ia menekankan bahwa tuntutan mahasiswa sudah dicatat. Sederhana, tapi tidak kecil.

Yang diburu mahasiswa bukan hanya jawaban lisan. Mereka ingin ada tindak lanjut yang bisa diukur. Itu sebabnya setiap kalimat dari pimpinan DPR langsung dibaca sebagai janji politik. Bila berhenti di panggung orasi, publik akan menilai parlemen hanya meredam tekanan sesaat. Kalau berlanjut ke rapat dan keputusan, barulah ada bobotnya.

MBG jadi titik paling panas

Salah satu isu yang mencuat dalam rangkaian pembahasan itu adalah evaluasi tata kelola MBG. Dari pemberitaan Kontan, DPR menilai evaluasi program tersebut berpotensi menghasilkan efisiensi hingga Rp 70 triliun. Angka itu membuat MBG bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan juga ladang uji bagi tata kelola anggaran negara.

Di titik ini, mahasiswa punya alasan kuat untuk mendesak. Mereka membaca MBG bukan hanya dari sisi manfaat, tapi juga dari sisi akuntabilitas. Siapa menerima, bagaimana distribusinya, seberapa besar kebocoran yang mungkin terjadi, dan apakah anggaran dipakai tepat sasaran. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang biasanya membuat demo bertahan lama.

Kalau DPR serius mengevaluasi MBG, dampaknya bisa besar. Bukan cuma pada efisiensi belanja negara, tapi juga pada kepercayaan publik terhadap program-program prioritas pemerintah. Soalnya, program yang menyentuh jutaan orang selalu rawan dipuji di atas kertas, tapi belum tentu rapi di lapangan.

BBM ikut disorot mahasiswa

Selain MBG, isu BBM ikut masuk dalam percakapan mahasiswa dengan DPR. Topik ini sensitif karena langsung menyentuh biaya hidup harian. Harga BBM memengaruhi ongkos transportasi, harga barang, sampai biaya logistik. Begitu ada sinyal kebijakan yang tidak jelas, reaksinya cepat terasa di masyarakat.

Itulah sebabnya janji DPR untuk menindaklanjuti tuntutan mahasiswa tidak bisa dibaca sebagai basa-basi politik. Publik ingin tahu apakah parlemen akan mendorong evaluasi kebijakan energi, membuka ruang kontrol lebih ketat, atau sekadar mencatat aspirasi lalu menyimpannya di laci rapat. Bedanya tipis, tapi akibatnya jauh.

Aksi mahasiswa di DPR kali ini memperlihatkan satu hal: isu makan siang gratis dan BBM bisa menyatu dalam kemarahan yang sama, yaitu rasa tidak percaya pada pengelolaan anggaran. Ketika harga kebutuhan pokok terasa menekan, setiap janji pejabat langsung diuji. Di lapangan. Bukan di podium.

Situasi di depan DPR pada hari itu juga menunjukkan bahwa mahasiswa masih memilih jalan tekanan terbuka untuk memaksa respons politik. Dalam beberapa laporan, massa aksi tetap berkumpul di sekitar kawasan parlemen sambil menunggu kepastian. Mobil komando, orasi, dan audiensi menjadi satu rangkaian yang saling mengunci. Satu langkah salah, suasana bisa memanas lagi.

Janji-janji DPR untuk mahasiswa demonstran kini tinggal menunggu pembuktian. Apakah evaluasi MBG benar-benar bergerak, apakah pembahasan soal BBM masuk ke meja kerja yang serius, dan apakah suara mahasiswa berubah menjadi keputusan? Di situlah publik akan menilai DPR. Bukan dari ramai orasinya, melainkan dari hasil akhirnya.

“Kita tindaklanjuti tuntutan mahasiswa,” kata Sufmi Dasco Ahmad saat orasi dari mobil komando usai audiensi dengan perwakilan mahasiswa di DPR RI.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda