Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Robotaxi Uber Meluncur di Houston pada 2027

Robotaxi Uber Meluncur di Houston pada 2027
Robotaxi Uber akan hadir di Houston, Amerika Serikat, pada pertengahan 2027, dan rencana ini memberi gambaran jelas: layanan transportasi online sedang berge…. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Robotaxi Uber akan hadir di Houston, Amerika Serikat, pada pertengahan 2027, dan rencana ini memberi gambaran jelas: layanan transportasi online sedang bergerak menuju fase baru tanpa sopir manusia di balik kemudi. Bagi pengemudi taksi online, perusahaan aplikasi, sampai pengguna harian, perubahan ini bukan sekadar urusan mobil canggih.

Uber menyiapkan layanan robotaxi premium itu bersama produsen kendaraan listrik Lucid dan perusahaan teknologi kendaraan otonom Nuro. Houston dipilih sebagai pasar kedua dalam kerja sama tiga perusahaan tersebut, setelah San Francisco yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.

Dikutip dari Reuters, Kamis (18/6/2026), Uber menyatakan fokus awal program ini berada di San Francisco dan Houston. Setelah dua kota itu, perusahaan menargetkan perluasan ke puluhan kota dalam beberapa tahun mendatang.

Nama Uber punya jejak khusus di Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat itu pernah menjadi pelopor layanan transportasi berbasis aplikasi di banyak negara, termasuk Indonesia, sebelum akhirnya hengkang dari Asia Tenggara setelah menjual bisnisnya kepada Grab. Kini, Uber mencoba masuk lebih jauh ke babak berikutnya: armada transportasi online yang dikendalikan sistem otonom.

Robotaxi Uber dan arah baru transportasi online

Rencana robotaxi Uber penting karena model bisnis transportasi online selama ini bertumpu pada dua hal: aplikasi dan jaringan pengemudi. Aplikasi mengatur permintaan, tarif, rute, serta pembayaran. Pengemudi menjalankan perjalanan di jalan raya.

Robotaxi menggeser susunan itu. Mobil tidak lagi hanya menjadi kendaraan milik mitra pengemudi, melainkan bagian dari armada yang dimiliki atau dioperasikan perusahaan. Dalam kerja sama ini, Uber akan menjadi pemilik sekaligus operator armada robotaxi.

Artinya, Uber tidak hanya menyediakan aplikasi pemesanan. Perusahaan juga mengurus kendaraan, pengalaman penumpang di dalam kabin, hingga cara pengguna berinteraksi dengan mobil selama perjalanan. Dari membuka pintu, memastikan tujuan, sampai penanganan bila ada masalah di tengah jalan.

Di Houston, Uber juga mulai membangun fondasi fisik untuk layanan itu. Perusahaan telah memiliki depot seluas 50.000 kaki persegi serta fasilitas pengisian daya khusus yang akan menjadi pusat operasional robotaxi. Bukan cuma aplikasi di ponsel. Ada garasi besar, pengisian baterai, pemeriksaan kendaraan, dan sistem pemantauan armada.

Langkah ini menunjukkan satu hal sederhana: transportasi online otonom membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih kompleks dibanding layanan ride-hailing biasa. Mobil harus siap, baterai harus terisi, perangkat lunak harus diperbarui, dan kendaraan perlu dicek sebelum kembali ke jalan.

Kenapa San Francisco dan Houston jadi medan uji

San Francisco dan Houston bukan wilayah kosong bagi robotaxi. Di dua kota itu, Uber akan berhadapan langsung dengan Waymo, perusahaan kendaraan otonom milik Alphabet, induk Google. Waymo telah mengoperasikan layanan robotaxi komersial di kedua wilayah tersebut.

Persaingan ini membuat peluncuran Uber terasa lebih serius. Uber tidak masuk ke pasar yang belum terbentuk, melainkan mencoba mengejar pemain yang sudah berjalan lebih dulu. Taruhannya besar: kepercayaan penumpang, izin regulator, dan kemampuan kendaraan menghadapi kondisi jalan nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, Nuro telah menguji SUV Lucid Gravity yang dilengkapi sistem mengemudi otonom di San Francisco. Reuters melaporkan, perusahaan juga memberi kesempatan kepada karyawan Uber untuk memesan robotaxi Lucid dalam tahap pengujian.

Namun, kendaraan itu belum sepenuhnya beroperasi tanpa manusia. Pengemudi keselamatan masih berada di dalam kendaraan. Ini terjadi meski Nuro sudah memperoleh izin dari Departemen Kendaraan Bermotor California atau DMV pada bulan lalu untuk menghapus pengemudi keselamatan dari kendaraan uji mereka.

Di Houston, armada gabungan Uber dan Nuro yang berjumlah 100 kendaraan otonom juga sedang diuji di jalan raya. Lagi-lagi, pengemudi keselamatan masih duduk di balik kemudi. Pendekatan bertahap ini lazim dalam pengembangan kendaraan otonom, karena kondisi jalan umum jauh lebih rumit daripada simulasi komputer.

Jalan bisa basah. Marka bisa pudar. Ada pesepeda yang tiba-tiba memotong jalur, kendaraan parkir sembarangan, atau pejalan kaki yang ragu menyeberang. Detail kecil seperti itu sering menjadi ujian terbesar bagi sistem swakemudi.

Teknologi di balik mobil tanpa sopir

Robotaxi Lucid Gravity yang diperkenalkan pada Januari lalu dibekali kamera beresolusi tinggi, sensor lidar solid-state, dan radar. Kombinasi perangkat ini membantu kendaraan membaca lingkungan sekitar dengan lebih akurat.

Kamera menangkap objek visual seperti rambu, lampu lalu lintas, kendaraan lain, dan pejalan kaki. Lidar memetakan jarak serta bentuk objek menggunakan pantulan cahaya laser. Radar membantu membaca pergerakan benda, termasuk dalam kondisi yang kurang ideal bagi kamera.

Semua data itu diproses oleh sistem otonom Nuro. Sistem harus mengambil keputusan dalam waktu sangat singkat: kapan melambat, kapan berhenti, kapan berpindah jalur, dan bagaimana menjaga jarak aman. Pada tahap pengembangan, Nuro tidak hanya menguji mobil di jalan umum.

Perusahaan juga memakai lintasan tertutup dan simulasi. Dua metode ini memungkinkan pengembang menguji skenario ekstrem tanpa membahayakan pengguna jalan, misalnya kendaraan yang tiba-tiba berhenti, objek jatuh di jalan, atau perubahan lalu lintas yang tidak biasa.

Bagi penumpang, teknologi ini mungkin terlihat sederhana dari luar. Pesan mobil, masuk, duduk, lalu sampai tujuan. Tapi di belakangnya ada tumpukan sensor, peta digital, perangkat lunak, koneksi data, pusat operasi, dan standar keselamatan yang harus bekerja nyaris tanpa jeda.

Dampak bagi pengemudi online dan industri kendaraan listrik

Pertanyaan yang paling dekat dengan publik tentu soal nasib pengemudi. Bila robotaxi makin luas, apakah pekerjaan pengemudi online akan langsung hilang? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Peluncuran di Houston baru direncanakan pada 2027, dengan pengujian yang masih memakai pengemudi keselamatan. Perluasan ke puluhan kota pun membutuhkan izin, kesiapan infrastruktur, penerimaan publik, dan pembuktian keselamatan. Prosesnya panjang. Tidak semalam.

Tapi arah industrinya jelas. Perusahaan aplikasi melihat robotaxi sebagai cara mengontrol biaya operasional, ketersediaan armada, dan kualitas layanan. Bila kendaraan bisa berjalan tanpa sopir, model kemitraan yang selama ini dikenal di ride-hailing akan berubah.

Bagi Lucid, kerja sama ini membuka peluang baru. Startup kendaraan listrik itu selama ini menghadapi tantangan untuk meningkatkan penjualan secara massal, seperti banyak produsen EV lain yang harus bersaing dengan dominasi Tesla. Pesanan armada robotaxi dapat memberi volume produksi yang lebih stabil.

Uber bahkan sudah menanamkan investasi besar pada dua mitranya. Perusahaan menggelontorkan sekitar US$500 juta ke Nuro dan berkomitmen menginvestasikan US$500 juta ke Lucid. Uber juga sepakat membeli sedikitnya 35.000 unit kendaraan Lucid yang disiapkan untuk beroperasi sebagai robotaxi.

Bagi Nuro, kerja sama ini menjadi titik balik. Pada 2024, startup tersebut mengubah strategi besar-besaran dengan menghentikan pengembangan robot pengantar barang buatannya sendiri. Nuro lalu beralih melisensikan teknologi mengemudi otonom kepada produsen kendaraan dan mitra lain.

Pelajaran untuk pasar seperti Indonesia

Indonesia belum berada di tahap peluncuran robotaxi massal. Tantangannya berbeda. Jalan perkotaan padat, perilaku lalu lintas sangat beragam, sepeda motor mendominasi, dan infrastruktur digital maupun pengisian daya belum merata.

Namun, perkembangan Uber tetap relevan untuk dibaca dari sini. Grab dan Gojek, dua nama besar transportasi online di Indonesia, tumbuh di pasar yang dahulu juga sempat dimasuki Uber. Bila teknologi otonom menjadi arus utama di negara maju, dampaknya pada model bisnis global bisa ikut terasa ke pasar lain.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah mobil tanpa sopir akan segera hadir di Jakarta, Surabaya, atau kota besar lain. Pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana pemerintah, perusahaan, dan pekerja menyiapkan transisi ketika teknologi mulai mengambil peran yang sebelumnya dikerjakan manusia?

Regulasi keselamatan juga akan menjadi kunci. Robotaxi tidak cukup dinilai dari kecanggihan sensor atau nama besar investornya. Publik perlu tahu siapa bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan, bagaimana data perjalanan dipakai, serta bagaimana sistem diuji sebelum diizinkan membawa penumpang umum.

Ringkasan singkat tentang robotaxi Uber

Apa rencana Uber? Uber berencana meluncurkan layanan robotaxi premium di Houston pada pertengahan 2027 bersama Lucid dan Nuro, setelah San Francisco yang ditargetkan mulai akhir tahun ini.

Apakah mobilnya sudah tanpa sopir sepenuhnya? Belum. Pengujian di San Francisco dan Houston masih melibatkan pengemudi keselamatan, meski Nuro sudah mendapat izin di California untuk menghapus pengemudi keselamatan dari kendaraan uji.

Kenapa ini penting? Robotaxi dapat mengubah struktur transportasi online, dari model berbasis mitra pengemudi menjadi armada yang dimiliki dan dioperasikan perusahaan teknologi. Dampaknya akan terasa pada industri kendaraan listrik, pekerjaan pengemudi, dan aturan keselamatan jalan.

Untuk saat ini, mata industri tertuju ke San Francisco dan Houston. Jika dua kota itu berhasil menjadi panggung uji yang aman dan dipercaya pengguna, babak berikutnya tinggal menunggu satu hal: kota mana yang akan menyusul.

(YF)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda