Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Aksi Unik Harry Maguire di AS Usai Dicoret Thomas Tuchel

Pemain Manchester United Harry Maguire saat membagikan stiker Panini kepada para penggemar di New York City
Harry Maguire terlihat di New York membagikan stiker Panini setelah dicoret pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel lewat panggilan FaceTime. (Ilustrasi: AI)

NEW YORK — Bek Manchester United, Harry Maguire, tertangkap kamera melakukan aksi unik di Amerika Serikat. Pemain bertahan berusia 31 tahun tersebut memilih terbang ke New York City tengah pekan lalu, mengalihkan fokus setelah namanya secara mengejutkan dicoret dari skuad Timnas Inggris besutan Thomas Tuchel.

Langkah ini menjadi terapi instan yang cerdas bagi sang pemain. Bukannya meratapi nasib di rumah, Maguire justru muncul dalam sebuah acara promosi di Negeri Paman Sam. Mantan kapten Setan Merah itu terlihat semringah saat membagikan stiker dan buku koleksi resmi dari produsen album legendaris asal Italia, Panini, kepada kerumunan penggemar yang memadati lokasi acara di Times Square.

Sikap ramah Maguire langsung mencuri perhatian publik setempat. Meski gagal ambil bagian dalam skuad terbaru Tiga Singa, ia tetap melayani sesi tanya jawab singkat, bersenda gurau, hingga meladeni permintaan foto bersama para suporter yang mengular sejak pagi hari.

“Selalu menyenangkan melihat para penggemar di seluruh dunia. Antusiasme di sini sangat luar biasa,” kata Harry Maguire seperti dikutip dari akun media sosial pribadinya saat memamerkan foto kebersamaan dengan fans di New York.

Curhat Colongan Soal Pemecatan via FaceTime

Di balik senyum lebarnya di New York, ganjalan taktis tentu masih dirasakan sang pemain. Maguire sebenarnya tampil cukup solid dalam beberapa laga terakhir bersama Manchester United, namun performa itu tidak meluluhkan hati Thomas Tuchel yang menginginkan dinamika baru di lini belakang.

Berbicara dalam siniar The Rest is Football bersama striker legendaris Inggris, Gary Lineker, Maguire akhirnya blak-blakan mengenai proses pencoretan dirinya. Ia menyebut metode komunikasi Tuchel sangat tidak biasa dan cenderung canggung bagi pemain senior sepertinya.

“Dia menelepon semua orang melalui FaceTime,” ungkap Harry Maguire menceritakan momen pahit saat pengumuman skuad tersebut. “Itu adalah percakapan yang cukup tidak menyenangkan bagi pemain mana pun.”

Tuchel awalnya mengirimkan pesan singkat untuk menentukan waktu obrolan, sebelum akhirnya melakukan panggilan video langsung. Bagi Maguire, cara ini sangat menantang bagi kedua belah pihak karena emosi tidak bisa disembunyikan di depan kamera.

“Itu cara yang cukup unik untuk melakukan hal seperti itu. Soalnya, pasti sulit untuk melihat reaksi setiap pemain secara langsung lewat layar handphone secara instan,” tambah pemain yang telah mengantongi 64 penampilan bersama Tiga Singa tersebut.

Kalah Saing dengan Darah Muda

Keputusan Tuchel terbilang berani sekaligus kejam bagi generasi mapan. Maguire sejatinya sempat berhasil menembus tim nasional kembali setelah menunjukkan etos kerja tinggi di Carrington. Konsistensi permainan di level klub sempat membubung tinggi harapannya untuk terus mengawal lini belakang negaranya.

Namun, juru taktik asal Jerman itu lebih memilih meremajakan sektor pertahanan. Tuchel memprioritaskan nama-nama yang lebih bertenaga, cepat dalam transisi, dan fasih memainkan skema penguasaan bola aktif dari lini belakang.

Nama Pemain Usia Klub Asal
Marc Guehi 24 Tahun Crystal Palace
Levi Colwill 21 Tahun Chelsea
Ezri Konsa 27 Tahun Aston Villa
Taylor Harwood-Bellis 22 Tahun Southampton

Selain deretan bek di atas, Tuchel juga menyertakan John Stones dari Manchester City. Keputusan memanggil Stones sempat memicu perdebatan di kalangan pandit Inggris mengingat sang pemain memiliki riwayat cedera yang cukup rentan musim ini.

Bagi publik Inggris, keputusan ini menandai akhir dari sebuah era. Maguire telah menjadi pilar penting sejak Piala Dunia 2018. Kepergiannya dari skuad utama menunjukkan bahwa Tuchel tidak ragu memotong nama besar demi kecocokan taktik.

Dilema Taktis Garis Pertahanan Tinggi

Mengapa Maguire terdepak? Jawabannya ada pada gaya main. Analisis taktis menunjukkan bahwa gaya bertahan defensif blok rendah yang menjadi kekuatan utama Maguire kurang cocok dengan skema garis pertahanan tinggi yang disukai Tuchel.

Tuchel menuntut bek tengah yang memiliki kecepatan pemulihan posisi (recovery pace) mumpuni saat tim terkena serangan balik cepat. Pada aspek ini, Maguire kerap kewalahan saat ruang di belakangnya terlalu terbuka lebar.

Kini, dengan liga yang akan segera bergulir kembali, Maguire harus segera mengalihkan fokus penuhnya untuk mengamankan posisi utama di bawah asuhan Ruben Amorim di Old Trafford. Pembuktian di atas lapangan hijau bersama Manchester United adalah satu-satunya cara tersisa untuk mengetuk kembali pintu tim nasional.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda