ROTTERDAM — Perdebatan mengenai lini depan tim nasional Belanda kembali membara setelah performa loyo Memphis Depay memicu gelombang ketidakpuasan baru. Hasil imbang 2-2 kontra Jepang dalam laga uji coba terbaru tidak hanya mengekspos rapuhnya organisasi permainan De Oranje, tetapi juga mengundang badai kritik Memphis Depay yang kini dinilai mulai kehilangan sentuhan magisnya di level internasional.
Masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua, penyerang yang kini berkarier di Corinthians tersebut diharapkan mampu menjadi pemecah kebuntuan. Nyatanya, ia justru tampil terisolasi, sering kehilangan bola, dan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Pendukung Belanda di stadion bahkan sempat menyorakinya, sebuah pemandangan yang mempertegas bahwa kesabaran publik mulai habis.
Aspek kebugaran dan ketajaman sang pemain kini dipertanyakan menjelang turnamen besar. Pertanyaan besar pun muncul: apakah publik sepak bola Belanda sudah mulai jenuh dengan kehadiran mantan penyerang Barcelona tersebut?
Skeptisisme yang Menjelma Jadi Fakta Lapangan
Sjoerd Mossou, jurnalis senior dari media Belanda *Algemeen Dagblad*, menjelaskan bahwa skeptisisme publik terhadap penyerang berusia 30 tahun itu sebenarnya bukan barang baru. Bahkan saat Depay masih berada di masa keemasannya dan rajin mencetak gol, riak-riak keraguan dari suporter selalu terdengar di seantero negeri.
“Ya, tentu saja ada kejenuhan. Tapi hal itu sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan saat dia masih tampil bagus,” ujar Mossou saat berbicara di podcast *AD Voetbal*.
Dulu, Mossou menilai keraguan publik tidak berdasar karena statistik Depay sangat mumpuni. Sejarah mencatat Depay telah mengemas 46 gol dari 98 penampilan bersama timnas, hanya terpaut empat gol dari Robin van Persie sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Belanda. Namun, situasi hari ini sudah jauh berubah.
Kritik Memphis Depay saat ini dianggap sebagai ruang diskusi yang sangat wajar karena performanya di atas lapangan memang merosot tajam. Penampilannya saat melawan Jepang dicap tidak menunjukkan level seorang penyerang utama yang siap bertarung di turnamen sekalas Piala Dunia. Kehilangan kecepatan dalam transisi dan minimnya pressing intensif membuat skema ofensif Belanda sering macet di sepertiga akhir lapangan.
“Penampilannya sebagai pemain pengganti itu tentu saja memalukan. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia siap menjadi penyerang utama Oranje,” tambah Mossou dengan nada gusar.
Dilema Taktis Ronald Koeman
Situasi ini menaruh beban berat di pundak pelatih kepala, Ronald Koeman. Selama ini, Koeman dikenal sebagai sosok pelatih yang sangat memercayai kapasitas Depay di lini serang dan kerap pasang badan menghadapi kritik media lokal.
Depay kerap menjadi penyelamat taktik Koeman pada periode pertamanya melatih Belanda. Hubungan interpersonal yang erat sejak bekerja sama di Lyon dan Barcelona membuat Koeman selalu memberikan garansi tempat utama bagi pemain bertato tersebut.
| Aspek Penilaian | Memphis Depay (Saat Ini) | Opsi Alternatif (Brobbey/Zirkzee) |
|---|---|---|
| Intensitas Pressing | Rendah (Sering terlambat menutup ruang) | Tinggi (Aktif mematikan build-up lawan) |
| Kebugaran Fisik | Rentan cedera otot, menit bermain minim | Bugar, kompetitif di liga top Eropa |
| Karakter Bermain | Cenderung turun menjemput bola (posisi 10) | Target man murni di dalam kotak penalti |
Kini, keputusan Koeman diuji oleh realitas performa sang pemain. Menyingkirkan top skor sepanjang masa kedua timnas Belanda tersebut dari daftar sebelas pertama tentu butuh keberanian taktis yang luar biasa. Di bangku cadangan, nama-nama seperti Brian Brobbey dan Joshua Zirkzee mulai menuntut menit bermain lebih lewat performa impresif di level klub. Menahan mereka di bangku cadangan demi memaksakan Depay yang tidak fit bisa memicu perpecahan di ruang ganti.
Nasib Berbeda dengan Virgil van Dijk
Berbeda dengan polemik yang menimpa lini serang, situasi di lini belakang Belanda dinilai jauh lebih stabil. Kapten tim, Virgil van Dijk, juga sempat menerima kritik usai laga melawan Jepang akibat gol kedua lawan yang lahir dari areanya, namun posisinya dinilai tidak akan goyah.
Mossou menyoroti bagaimana media massa terbelah dalam menilai performa bek Liverpool tersebut. Beberapa media memberi nilai merah karena dianggap kurang agresif, sementara yang lain justru memilihnya sebagai pemain terbaik laga berkat akurasi distribusinya dari lini belakang.
“Kita bisa membicarakannya panjang lebar, tapi dia tidak akan dikeluarkan dari tim. Dia kapten kami,” tegas Mossou.
Duet Van Dijk bersama Jan Paul van Hecke di jantung pertahanan dinilai tetap menjadi fondasi terkuat yang dimiliki Belanda saat ini, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki Koeman di sektor penyerangan. Belanda kini harus segera berbenah sebelum laga kompetitif berikutnya tiba, dengan mata publik yang dipastikan akan terus mengawasi setiap gerak-gerik Depay di lapangan hijau.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.