Ia menambahkan, konsumen Pertamax umumnya berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas yang punya ruang lebih besar untuk menyesuaikan pola konsumsi. Karena itu, menurut dia, dampaknya terhadap inflasi nasional relatif terbatas.
“Kenaikan Pertamax tidak akan terlalu berdampak terhadap peningkatan inflasi karena transportasi publik, baik untuk angkutan orang maupun barang, masih menggunakan BBM bersubsidi,” ujarnya.
Pasokan BBM subsidi dan risiko antrean
Abdul Rahman juga memberi perhatian pada pasokan BBM subsidi di lapangan. Ia mendorong pemerintah memastikan ketersediaan Pertalite, Bio-Solar, dan LPG 3 kilogram di seluruh daerah agar masyarakat tidak menghadapi kelangkaan atau antrean panjang.
Soalnya, kelangkaan BBM subsidi sering kali memicu efek berantai. Warga harus menunggu lebih lama di SPBU, jadwal distribusi terganggu, dan aktivitas usaha kecil ikut tersendat. Situasi seperti ini, menurut dia, justru membebani rakyat lebih besar dibanding selisih harga itu sendiri.
“Kita juga mendorong pemerintah untuk terus memastikan pasokan BBM bersubsidi tetap tersedia dan mudah diakses masyarakat. Jangan sampai terjadi kelangkaan atau antrean yang justru membebani rakyat,” kata Abdul Rahman.
Ia menilai stabilitas pasokan sama pentingnya dengan kebijakan harga. Harga yang dijaga tanpa stok yang cukup tetap menyisakan masalah di lapangan. Warga perlu kepastian, bukan sekadar angka yang tidak berubah di atas kertas.
Tekanan global dan paket insentif
Dalam pandangan Abdul Rahman, pemerintah juga perlu memperkuat paket kebijakan dan insentif ekonomi untuk menjaga aktivitas usaha. Fokusnya, kata dia, terutama pada kelompok kelas menengah yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Kelompok ini punya peran besar dalam konsumsi domestik. Jika daya beli mereka terjaga, roda usaha kecil hingga menengah ikut bergerak. Tapi bila tekanan biaya hidup terlalu kuat, konsumsi bisa melambat dan pelaku usaha ikut merasakan dampaknya.
Ia menyebut paket kebijakan dan insentif ekonomi perlu terus diperluas agar aktivitas masyarakat tetap berjalan. “Dengan begitu, daya beli dan aktivitas ekonomi kelas menengah dapat terus terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi global,” kata dia.
Di titik ini, pilihan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi menjadi semacam penyangga. Bukan solusi tunggal, memang. Tapi untuk banyak rumah tangga, keputusan itu memberi ruang napas di saat harga energi dunia belum benar-benar tenang.
ANTARA melaporkan pandangan Abdul Rahman ini sebagai respons atas kebijakan energi yang tetap menahan harga BBM subsidi di tengah tekanan ekonomi global. Bagi konsumen, sinyalnya jelas: selama Pertalite, Bio-Solar, dan LPG 3 kilogram dijaga, beban harian masih punya rem. Dan rem itu penting.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.