Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Pemilu Kolombia Picu Arah Baru Perang Melawan Geng

Pemilu Kolombia menentukan arah kebijakan keamanan nasional
Pemilu Kolombia berpotensi mengubah arah konflik bersenjata. (Ilustrasi: AI)

BOGOTA — Pemilu Kolombia akan menguji arah baru penanganan konflik bersenjata di negara itu, dengan putaran kedua yang digelar Minggu, 15 Juni, berpotensi membalik kebijakan keamanan yang sudah berjalan sejak perdamaian Farc 2016. Fokus utamanya jelas: pemilu Kolombia ini bisa menentukan apakah Bogotá tetap menempuh negosiasi atau kembali ke pendekatan tangan besi.

Jika kandidat unggulan Abelardo de la Espriella menang, rencana “total peace” yang diusung Presiden Gustavo Petro berisiko dihentikan. Dampaknya besar. Bukan cuma untuk kebijakan keamanan, tapi juga bagi jutaan warga yang hidup di wilayah rawan kekerasan dan kelompok bersenjata.

Pertarungan Pemilu Kolombia antara negosiasi dan serangan militer

De la Espriella, pengacara dan pebisnis kaya yang vokal mendukung Donald Trump, berjanji kembali ke konfrontasi militer skala penuh terhadap kelompok bersenjata. Ia menolak pendekatan Petro yang ingin merundingkan pelucutan senjata seluruh organisasi kriminal.

Lawan utamanya adalah Iván Cepeda, senator kiri yang menjadi penerus pilihan Petro dan salah satu arsitek utama kebijakan “total peace”. Cepeda ingin melanjutkan program itu, meski dengan “perubahan yang diperlukan”.

Menurut jajak pendapat, Cepeda sempat memimpin hampir sepanjang kampanye. Tapi ia kalah di putaran pertama tiga pekan lalu dan sejak itu kesulitan menarik pemilih moderat. Panggung kini bergeser ke De la Espriella, yang berhasil memposisikan diri sebagai figur anti-kemapanan.

Lebih dari 41 juta warga Kolombia terdaftar sebagai pemilih. Angka itu menunjukkan betapa besar taruhannya. Hasilnya diperkirakan ikut menguatkan gelombang kandidat sayap kanan di Amerika Latin, setelah Keiko Fujimori memimpin penghitungan suara di Peru dan José Antonio Kast menang di Chile tahun lalu.

Gelombang kanan dan rasa lelah publik

Sandra Borda Guzmán, dosen madya ilmu politik di Universitas Los Andes, Bogotá, mengatakan De la Espriella memanfaatkan dua tren yang kuat dalam pemilu dunia: tampil sebagai “outsider” anti-politik dan menawarkan solusi cepat atas kekerasan.

“Kombinasi antara tren internasional yang menguntungkan kandidat anti-politik dan situasi keamanan domestik Kolombia telah sangat membantunya,” kata Guzmán.

Janji De la Espriella sempat melambung tinggi. Ia mengatakan akan mengembalikan kendali negara atas wilayah yang dikuasai kelompok kriminal dalam 90 hari. Belakangan, ia tampak melunak dan mengatakan kepada Radio Caracol, “Saya tidak pernah bilang akan menyelesaikan masalah keamanan dalam 90 hari.”

Namun, garis besarnya tidak berubah. Ia tetap mengatakan bahwa dalam tiga bulan pertama menjabat, targetnya adalah “menangkap atau membunuh” 10 pemimpin besar teror narkotika dan kejahatan terorganisasi. Kalimat itu keras. Sangat keras.

De la Espriella juga punya riwayat panjang sebagai pengacara yang membela tokoh-tokoh paramiliter sayap kanan. Bagi pendukungnya, itu bukti pengalaman. Bagi lawan-lawan politiknya, itu alarm yang tak bisa diabaikan.

Kekerasan naik, ekonomi dan pemilih ikut terpengaruh

Meski tingkat kekerasan di Kolombia masih jauh di bawah masa-masa paling brutal sebelum perjanjian damai Farc, tahun lalu menjadi yang paling violent sejak kesepakatan 2016. Ini alasan kenapa isu keamanan kembali mendominasi ruang publik. Warga tidak sedang memilih di ruang hampa.

Di Cartagena, Miguel Bermúdez, administratur bisnis berusia 40 tahun, mengatakan ia akan memilih De la Espriella karena melihatnya sebagai sosok baru. Ia mengaku lelah dengan narasi politik lama. “Saya sudah lama mencari sesuatu yang terasa segar,” katanya.

Di sisi lain, Kátia Outten, dokter gigi 57 tahun dari San Andrés, memilih Cepeda karena dianggap lebih paham kebutuhan warga biasa. Ia juga menolak De la Espriella karena pandangan seksisnya, termasuk komentar radio yang menyebut ia mendapat dukungan perempuan karena ukuran penisnya.

Outten menilai perempuan, yang jumlahnya sedikit di atas 50 persen populasi, bisa memberi sinyal politik yang kuat lewat suara mereka. “Kalau kami keluar dan memilih dengan semangat pemberdayaan perempuan, kami bisa menunjukkan bahwa semua retorika itu tidak punya dasar,” ujarnya.

Pemerintahan Petro sendiri meninggalkan jejak yang campur aduk. Selama masa jabatannya, program sosial diperluas dan upah minimum dinaikkan. Tingkat kemiskinan pun turun ke level terendah sejak data resmi mulai dicatat pada 2012. Tapi isu keamanan tetap menggerogoti kepercayaan publik.

Pemilu Kolombia kali ini karena itu bukan sekadar adu dua nama. Ini pertarungan arah negara. Negosiasi atau peluru. Rekonsiliasi atau operasi militer. Dan hasilnya bisa bergema jauh melampaui Bogotá.

“Saya tidak pernah bilang akan menyelesaikan masalah keamanan dalam 90 hari,” kata Abelardo de la Espriella kepada Radio Caracol.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda