Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Pilpres Kolombia: Peluang Kemenangan Sayap Kanan di Pemilu Kolombia

Kotak suara pemilu Kolombia dengan bendera nasional di ruang pemungutan suara
Pilpres Kolombia putaran kedua krusial. (Ilustrasi: AI)

BOGOTA — Nasib perdamaian di Kolombia kini berada di ujung tanduk setelah jutaan warga mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih pemimpin baru mereka. Pemilu Kolombia kali ini menjadi penentu apakah negara di Amerika Latin ini akan kembali ke jalur konfrontasi militer penuh atau melanjutkan jalur diplomasi damai yang selama ini dirintis dengan kelompok gerilya.

Hasil pemilu ini dipastikan berdampak langsung pada stabilitas keamanan domestik dan peta politik regional Amerika Latin. Jika kubu sayap kanan menang, rencana perdamaian menyeluruh dengan kelompok kartel dan gerilyawan dipastikan bakal kandas, memicu kekhawatiran akan kembalinya perang saudara yang telah merenggut ratusan ribu nyawa.

## Dominasi Abelardo de la Espriella di Putaran Kedua

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, pengacara miliarder berhaluan sayap kanan yang mengagumi Donald Trump, Abelardo de la Espriella, kini memimpin perolehan suara. De la Espriella secara terbuka berjanji untuk membuang rencana “perdamaian total” (total peace) yang diusung presiden petahana Gustavo Petro. Rencana perdamaian tersebut sebelumnya fokus pada negosiasi pelucutan senjata organisasi kriminal. Sebaliknya, De la Espriella memilih jalan perang.

“Tujuan utama saya adalah menangkap atau membunuh sepuluh gembong narkoteroris dan pemimpin kejahatan terorganisasi dalam tiga bulan pertama menjabat,” tegas De la Espriella dalam wawancara yang dilansir dari Radio Caracol.

Lawan politiknya adalah senator sayap kiri Ivan Cepeda yang merupakan anak didik dan penerus pilihan Petro. Cepeda, arsitek utama di balik program “perdamaian total”, kini berjuang keras menarik pemilih moderat setelah menderita kekalahan mengejutkan pada putaran pertama tiga minggu lalu. Kekalahan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemilih mulai jenuh dengan pendekatan negosiasi yang dianggap terlalu lunak terhadap kelompok kriminal bersenjata.

## Gelombang Kanan Baru di Amerika Latin

Pemilu Kolombia yang diikuti oleh lebih dari 41 juta pemilih ini mencerminkan tren politik yang lebih luas di kawasan. Kemenangan tokoh sayap kanan dengan pendekatan tangan besi sebelumnya telah terjadi di beberapa negara tetangga. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran sentimen publik yang signifikan di seluruh Amerika Latin, di mana isu keamanan kini mengalahkan isu kesejahteraan sosial.

Chili (Kast) 90%
Peru (Fujimori) 85%
Kolombia (Espriella-Poll) 75%

Pengamat politik dari Los Andes University di Bogota, Sandra Borda Guzman, menilai figur De la Espriella sangat diuntungkan oleh situasi keamanan domestik yang memburuk. Meskipun angka kekerasan masih di bawah era sebelum kesepakatan damai Farc 2016, tahun lalu tercatat sebagai periode paling berdarah dalam sewindu terakhir. Kegagalan pemerintah sayap kiri dalam menekan angka penculikan dan pemerasan di wilayah pedesaan menjadi amunisi utama bagi kampanye kubu konservatif.

“Kombinasi antara tren internasional yang menyukai figur antipolitik dan situasi keamanan dalam negeri yang genting telah mendongkrak popularitasnya secara signifikan,” ujar Guzman saat dihubungi media setempat.

Bila De la Espriella resmi terpilih, peta politik Amerika Latin akan bergeser ekstrem ke kanan. Praktis hanya menyisakan Meksiko, Brasil, Uruguay, dan Guatemala yang masih bertahan di bawah pemerintahan sayap kiri. Pergeseran ini diprediksi akan mengubah pola kerja sama regional, terutama dalam penanggulangan perdagangan narkoba internasional dan kebijakan migrasi yang melibatkan Amerika Serikat.

## Tuntutan Perubahan dari Akar Rumput

Bagi sebagian pemilih, sosok De la Espriella dianggap membawa angin segar di tengah kebuntuan politik formal. Karakter “outsider” yang ia tampilkan mampu memikat kelas pekerja urban yang jenuh dengan janji manis politisi lama. Mereka menginginkan ketertiban umum kembali tegak tanpa kompromi, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan sebagian dari proses rekonsiliasi nasional.

Namun, kubu Cepeda tidak tinggal diam menghadapi gempuran narasi militeristik tersebut. Mereka mengandalkan rekam jejak keberhasilan Petro yang berhasil menurunkan angka kemiskinan ke level terendah sejak 2012 melalui perluasan program sosial dan kenaikan upah minimum. Cepeda memperingatkan bahwa menghentikan dialog hanya akan membawa Kolombia kembali ke masa-masa kelam perang saudara tanpa akhir.

Kelompok pemilih perempuan juga menyoroti beberapa pernyataan kontroversial De la Espriella di media sosial yang dinilai seksis dan merendahkan gerakan kesetaraan gender. Mobilisasi basis suara perempuan dan pemilih muda di kota-kota besar kini diharapkan menjadi kunci bagi Cepeda untuk membalikkan keadaan di detik-detik terakhir penghitungan suara.

Kini, keputusan sepenuhnya berada di tangan rakyat Kolombia yang harus memilih antara melanjutkan eksperimen perdamaian yang rapuh atau kembali ke taktik konfrontasi bersenjata yang keras. Apapun hasilnya, babak baru sejarah politik Kolombia dipastikan akan segera dimulai setelah hasil resmi pemilu diumumkan esok hari.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda