Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

Toy Story 3: Kisah Persahabatan, Perpisahan, dan Pertumbuhan yang Menyentuh Hati

Ilustrasi: Toy Story 3: Kisah Persahabatan, Perpisahan, dan Pertumbuhan yang Menyentuh Hati
Ilustrasi: Toy Story 3: Kisah Persahabatan, Perpisahan, dan Pertumbuhan yang Menyentuh Hati. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Toy Story 3 bukan film anak-anak biasa. Rilisan Pixar Animation Studios tahun 2010 ini membuat jutaan penonton dewasa menangis di bioskop dan itu bukan kebetulan.

Film ketiga dari waralaba Toy Story ini menjadi salah satu sekuel animasi paling berhasil sepanjang sejarah perfilman. Meraup pendapatan lebih dari satu miliar dolar di seluruh dunia, Toy Story 3 juga menyabet dua Academy Award: Film Animasi Terbaik dan Lagu Asli Terbaik untuk We Belong Together karya Randy Newman.

Cerita yang Berubah Dewasa

Andy, pemilik para mainan yang setia, kini sudah remaja. Ia bersiap berangkat kuliah. Rencana awalnya sederhana: bawa Woody, simpan mainan lain di loteng. Tapi rencana itu berantakan.

Karena kesalahpahaman, seluruh mainan malah nyaris terbuang lalu berakhir di Tempat Penitipan Anak Sunnyside. Tempat itu tampak seperti surga bagi mainan: ramai anak, selalu dimainkan. Nyatanya tidak.

Sunnyside dikuasai Lotso, boneka beruang ungu yang tampak ramah tapi sesungguhnya kejam. Di bawah kendalinya, mainan-mainan itu diperlakukan kasar, tanpa kebebasan. Woody yang sempat memilih jalan sendiri akhirnya berbalik untuk menyelamatkan teman-temannya seperti Buzz Lightyear, Jessie, Rex, Slinky Dog, hingga karakter baru seperti Ken dan Barbie.

Pelarian mereka dari Sunnyside menjadi rangkaian adegan yang menegangkan, lucu, dan menguras emosi sekaligus.

Karakter dengan Kedalaman Nyata

Yang membedakan Toy Story 3 dari film animasi kebanyakan adalah karakter-karakternya punya luka dan dilema yang terasa nyata.

Woody tetap menjadi pemimpin yang setia. Tapi kali ini ia dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar: apakah kesetiaan kepada Andy masih relevan ketika Andy sendiri sudah beranjak dewasa? Buzz menunjukkan sisi lebih manusiawi terjebak antara fungsinya sebagai “penjaga galaksi” dan perasaannya sebagai teman.

Lotso, sang antagonis, justru menjadi salah satu penjahat paling kompleks dalam animasi Pixar. Ia pernah ditinggalkan pemiliknya. Luka itu mengubahnya menjadi sosok yang tidak percaya pada siapa pun. Bukan sekadar jahat tapi terluka.

Ken dan Barbie menyuntikkan humor segar. Ada juga Trixie, triceratops yang jadi warna baru dalam kelompok.

Kenapa Film Ini Terasa Berat di Dada

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda