Skema ini dinilai akan menguntungkan sektor agraris domestik AS sekaligus meredam krisis pangan di Iran. Dana yang dicairkan tidak akan diserahkan dalam bentuk uang tunai bebas, melainkan melalui sistem kliring khusus yang terhubung langsung dengan para eksportir komoditas pertanian di Amerika.
“Jika kami mencairkan aset Iran, kami akan memastikan uang itu digunakan untuk membantu rakyat Iran mendapatkan makanan dan bukan untuk mendanai militer atau kelompok proksi. Uang tersebut akan dialokasikan untuk membeli hasil panen kedelai, jagung, dan gandum langsung dari petani Amerika,” tutur Vance.
Penolakan Keras dari Internal Israel
Rencana perdamaian ini langsung mendapat penolakan keras dari sekutu utama AS, Israel. Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, melayangkan kritik tajam dalam rapat partai Otzma Yehudit di parlemen Knesset. Ben-Gvir mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menolak mentah-mentah butir kesepakatan tersebut.
Menurut Ben-Gvir, militer Israel tidak boleh dibatasi dalam melakukan respons militer di wilayah perbatasan Lebanon. Penolakan dari kabinet sayap kanan ini diprediksi akan menjadi kerikil tajam bagi implementasi kesepakatan di lapangan.
“Saya menghargai Wakil Presiden Amerika Serikat, tetapi komitmen terbesar saya adalah kepada para tentara dan warga kami sendiri. Kita tidak bisa membiarkan keamanan dalam negeri digadaikan demi sebuah kesepakatan diplomatik di Swiss,” ujar Ben-Gvir dengan nada keras.
Meskipun ada resistensi dari internal kabinet Israel, proses negosiasi di Swiss tetap berjalan sesuai jadwal. Pihak Iran bahkan telah sepakat untuk mengizinkan kembali para inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) masuk ke fasilitas nuklir mereka sebagai bagian dari pelonggaran ketegangan geopolitik global.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.