Selasa, 23 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Fact check: AI fakes around the World Cup spread political narratives

Hoaks AI Piala Dunia menyebar lewat gambar palsu
Hoaks AI Piala Dunia menyebar narasi politik lewat foto palsu. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA β€” Hoaks AI Piala Dunia kembali beredar dan memanfaatkan momen pertandingan yang ditonton jutaan orang untuk menyelipkan pesan politik. Dari foto Keir Starmer mengenakan jersey Kroasia sampai klaim Adolf Hitler hadir di tribun fans Jerman, sejumlah gambar yang viral itu ternyata palsu.

Masalahnya bukan cuma soal gambar palsu. Konten semacam ini menumpang pada atensi besar penonton, lalu mendorong orang percaya pada peristiwa yang tak pernah terjadi. Sekali tersebar, narasinya sulit dikejar.

Kenapa hoaks AI Piala Dunia cepat menyebar

Ajang sepak bola dunia memberi panggung yang nyaris sempurna untuk manipulasi visual. Henry Ajder, pakar deepfake dan konten AI manipulatif, mengatakan kepada DW bahwa turnamen seperti Piala Dunia mempertemukan miliaran orang dari negara dan situasi politik yang berbeda pada waktu yang sama.

β€œIt is an event that gets billions of people around the world from different countries, different regions, different political circumstances, all watching the same matches at the same time,” kata Ajder. β€œIt is the perfect environment for people to start spreading deepfakes and AI generated content.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi isinya jelas. Ketika emosi publik sedang tinggi, gambar palsu lebih mudah menempel. Orang melihatnya sekilas, lalu membagikan tanpa sempat memeriksa detail kecil seperti seragam, stadion, atau bayangan wajah.

DW Fact Check menelusuri beberapa contoh yang ramai dibagikan di media sosial. Polanya mirip. Ada gambar yang sengaja diseret ke ruang politik, ada pula yang hanya memanfaatkan kemiripan visual untuk membangun kesan seolah-olah foto itu diambil langsung dari tribun stadion.

Foto Keir Starmer dan seragam Kroasia

Salah satu gambar yang paling ramai menampilkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer duduk di pub bersama tiga orang lain. Mereka semua mengenakan jersey Kroasia, padahal Inggris adalah lawan pertama tim itu di turnamen.

Caption yang beredar menyebut foto itu diambil di β€œLondon Inn in Dallas” menjelang laga Inggris versus Kroasia. Publik pun ramai menafsirkan Starmer sedang mendukung tim lawan.

Faktanya, gambar asli berbeda jauh. Pencarian cepat dengan kata kunci β€œKeir Starmer pub football fans” menunjukkan foto lama dengan orang yang sama, termasuk mantan wakil pemimpin Partai Buruh Angela Rayner. Saat foto asli diambil, Starmer mengenakan kaus putih polos, sementara tiga orang lain memakai jersey Inggris.

Seragam Kroasia pada versi viral tampak seperti hasil edit. Logo federasi sepak bola Kroasia terlihat buram, ukuran setiap logo tak konsisten, dan detail kain jersey jauh lebih lembut dibanding wajah para tokoh di foto.

Detektor AI ZeroGPT bahkan memberi indikasi tinggi bahwa gambar itu dibuat atau diolah dengan AI. Bukan bukti tunggal, tentu saja. Tapi gabungan tanda-tanda visual dan foto asli yang mudah ditemukan membuat klaimnya runtuh.

Foto Iran, protes, dan cerita yang dibelokkan

Kasus lain datang dari Iran. Sebuah gambar yang dibagikan luas menampilkan seorang pemain sepak bola Iran memegang ransel merah muda. Teks yang menyertainya menyebut itu bentuk penghormatan untuk β€œ168 siswi yang dibunuh oleh Donald Trump”. Klaim itu mengumpulkan jutaan tayangan.

Masalahnya, foto itu bukan dari pertandingan Iran melawan Selandia Baru. Pemain di gambar juga bukan anggota skuad resmi Iran di Piala Dunia. Seragam yang dipakai tak cocok dengan jersey tim nasional Iran, dan stadion di gambar terlihat berbeda dari arena tempat laga berlangsung.

Yang menarik, ada inti peristiwa nyata di baliknya. Sejumlah suporter Iran memang melakukan protes di tribun pada pertandingan di Los Angeles, termasuk mengenang anak-anak yang disebut tewas dalam sebuah serangan di kota Minab, Iran. Investigasi media seperti The New York Times dan Bellingcat juga menyoroti kemungkinan keterlibatan militer AS dalam serangan itu yang menewaskan lebih dari 150 orang.

Jadi, peristiwanya nyata. Tapi gambar pemain yang mengangkat tas merah muda itu palsu. Ini penting. Karena hoaks paling efektif sering bekerja dengan cara mencampur fakta dan fiksi. Orang menangkap konteks yang benar, lalu menelan visual yang salah.

Poster Lula, Hitler, dan tanda-tanda editan

Hoaks lain menyasar Brasil. Sebuah foto memperlihatkan suporter memegang papan bertuliskan, β€œI’d trade the sixth title for Lula and Janja’s imprisonment. Would you support that?” Teks itu jelas bernuansa politik, dan menyebar luas di X.

Padahal, tanda yang dipegang itu tidak meyakinkan. Tulisan tampak terlalu rapi untuk coretan tangan biasa, tekstur karton terlihat terlalu halus, dan wajah orang yang memegangnya punya kilap berlebihan yang sering muncul pada gambar hasil generatif AI.

ZeroGPT menilai kemungkinan gambar tersebut dibuat AI mencapai 96 persen. Versi lain dari konten yang sama juga muncul dengan orang berbeda yang memegang papan serupa. Pola ini sering jadi petunjuk kuat. Kontennya diproduksi berulang, bukan diambil dari kejadian nyata.

Kasus Adolf Hitler di tribun fans Jerman pun serupa. Gambar seorang pria di stadion memakai jersey Jerman, membawa bendera nasional, dan punya kemiripan mencolok dengan Hitler sempat dibagikan luas. DW Fact Check menyanggahnya tak lama setelah pertandingan Jerman melawan Curacao.

Di situ letak bahayanya. Gambar seperti ini bukan hanya bahan candaan. Ia bisa menyelipkan propaganda, memancing kemarahan, atau memperkuat stereotip politik yang sudah ada sebelumnya.

Cara mengenali hoaks AI Piala Dunia

Beberapa tanda ternyata cukup konsisten. Perhatikan seragam. Lihat logo. Cek apakah stadion sesuai dengan lokasi pertandingan. Bandingkan wajah dan tangan. AI generatif masih sering keliru di area yang detailnya kecil, seperti tekstur kain, bayangan pada tribun, atau tulisan pada poster.

Kalau foto memuat tokoh publik, cari versi aslinya lewat penelusuran gambar balik. Banyak hoaks justru jatuh karena foto sumbernya gampang ditemukan dan berbeda jauh dari versi yang viral.

Ajder menilai Piala Dunia memang rawan. Dan itu tidak berhenti pada satu turnamen saja. Selama pertandingan besar terus memusatkan perhatian global, pembuat konten palsu akan terus mencari celah.

Bagi pembaca, risikonya sederhana: jangan buru-buru percaya pada gambar yang terlihat β€œpas” dengan opini Anda. Justru di situlah jebakannya. Semakin cocok sebuah gambar dengan emosi kita, semakin wajib dicek.

Hoaks AI Piala Dunia akan terus berevolusi mengikuti teknologi. Yang berubah nanti mungkin kualitas gambarnya. Tapi polanya tetap sama: ambil perhatian publik, tempelkan pesan politik, lalu dorong orang membagikannya sebelum sempat berpikir dua kali.

Ke depan, pemeriksaan visual yang cepat dan kebiasaan mengecek sumber asli akan jadi benteng paling dasar. Tanpa itu, gambar palsu akan selalu datang lebih dulu daripada klarifikasinya.

Ringkasan singkat

1. Hoaks AI Piala Dunia memanfaatkan perhatian besar pada turnamen untuk menyebarkan narasi politik.

2. Contohnya mencakup gambar Keir Starmer, suporter Iran, poster soal Lula, dan klaim Adolf Hitler di stadion.

3. Ciri paling mudah dikenali ada pada seragam, logo, teks, tekstur wajah, dan hasil pencarian gambar asli.

FAQ singkat: Mengapa hoaks ini efektif? Karena orang cenderung percaya pada gambar yang terasa sesuai dengan suasana pertandingan. Bagaimana cara mengeceknya? Bandingkan dengan foto asli, cek detail stadion, dan cari sumber pertama sebelum ikut menyebarkan.

(FI)

πŸ“²
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

πŸ’¬ Follow @journalartanews β†’
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda