Selasa, 23 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Lewat Seminar Penulisan Ilmiah, HaEBI Unhas Edukasi Pemanfaatan AI…

Pemanfaatan AI dalam seminar penulisan ilmiah Unhas
Pemanfaatan AI jadi sorotan di seminar HaEBI Unhas. (Ilustrasi: AI)

MAKASSAR — Pemanfaatan AI jadi fokus utama Seminar Penulisan Ilmiah yang digelar Himpunan Ekonomi dan Bisnis Islam (HaEBI) Universitas Hasanuddin di Ruang Pegadaian, lantai 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Senin (22/6).

Alumnus FEB Unhas, Naufal Muh Aksah SE, hadir sebagai pemateri dan mengajak mahasiswa melihat kecerdasan buatan sebagai alat bantu akademik yang kuat, tetapi tetap harus dikendalikan oleh penalaran manusia.

Bagi mahasiswa, isu ini terasa dekat. AI kini mudah ditemukan di ponsel, laptop, dan layanan pencarian. Tinggal ketik satu pertanyaan, jawaban muncul dalam hitungan detik. Cepat memang. Tapi di dunia akademik, kecepatan saja tidak cukup.

Pemanfaatan AI di penulisan ilmiah

Dalam pemaparannya, Naufal menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membuka banyak peluang di lingkungan kampus. AI, menurut dia, tidak lagi sekadar dipakai untuk membantu belajar di kelas, melainkan juga masuk ke penyusunan bahan ajar, riset, sampai publikasi ilmiah.

Ia menekankan, pemanfaatan AI di penulisan ilmiah bisa membantu mahasiswa pada banyak tahap. Mulai dari mencari ide topik, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, sampai memeriksa konsistensi gaya penulisan sesuai pedoman jurnal. Di titik ini, AI bekerja seperti asisten yang sabar dan tersedia hampir setiap saat.

“Kecerdasan buatan dapat membantu proses berpikir, menata gagasan, memperjelas struktur, memperbaiki bahasa, dan memberi alternatif sudut pandang. Namun, ia tidak boleh menggantikan tanggung jawab intelektual manusia,” kata Naufal dalam seminar itu.

Pesan itu penting. Soalnya, banyak mahasiswa tergoda memakai AI sebagai jalan pintas. Tugas selesai lebih cepat, tetapi kualitas berpikir bisa menurun bila semua serba diserahkan ke mesin. Di kampus, yang dinilai bukan hanya rapi atau cepat. Orisinalitas dan nalar tetap jadi ukuran utama.

Kenapa pemanfaatan AI perlu diawasi

Naufal juga mengingatkan bahwa pemanfaatan AI menyimpan risiko bila digunakan sembarangan. Salah satunya adalah ketergantungan berlebihan. Mahasiswa bisa kehilangan kebiasaan memverifikasi data, membaca sumber asli, dan menyusun argumen sendiri. Padahal, di dunia ilmiah, satu kutipan yang keliru bisa merusak seluruh bangunan tulisan.

Masalah lain muncul saat AI dipakai tanpa pengawasan manusia. Hasil yang terdengar meyakinkan belum tentu benar. Ada jawaban yang tampak rapi, tapi isinya salah. Ada paragraf yang mengalir, tetapi melompat dari satu klaim ke klaim lain tanpa dasar yang kuat. Di situlah peran manusia tetap menentukan.

“AI boleh membantu, tetapi manusia tetap harus memutuskan, memverifikasi, merevisi, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi garis pembatas yang jelas. AI boleh masuk ke ruang akademik, tapi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab intelektual. Mahasiswa tetap wajib paham apa yang mereka tulis, dari mana data datang, dan kenapa argumen itu dipilih. Tanpa itu, tulisan ilmiah cuma tampak canggih di permukaan.

Bagi kampus, pesan seperti ini juga relevan karena penggunaan teknologi generatif terus meluas. Di banyak ruang kelas, dosen mulai berhadapan dengan pertanyaan baru: mana karya mahasiswa, mana bantuan mesin, dan sejauh apa bantuan itu masih bisa diterima. Seminar semacam ini membantu memberi batas yang lebih sehat.

Etika akademik tetap jadi fondasi

Naufal berharap mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak, etis, dan bertanggung jawab. Ia mendorong peserta seminar untuk menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Dengan cara itu, karya ilmiah tetap tumbuh dari pemikiran yang jujur, bukan sekadar hasil salin-tempel yang dipoles otomatis.

Pesan ini juga sejalan dengan kebutuhan kampus yang ingin menjaga mutu akademik. Di satu sisi, teknologi menawarkan efisiensi. Di sisi lain, integritas tidak boleh turun. Keduanya harus berjalan bersama. Kalau tidak, kemudahan justru berubah jadi jebakan.

Di seminar yang berlangsung di FEB Unhas itu, topik yang dibawa terasa sederhana, tapi dampaknya besar. Mahasiswa hari ini hidup bersama mesin yang bisa menulis, merangkum, dan menyarankan. Tantangannya bukan cuma memakai AI. Tantangannya adalah tetap berpikir saat AI sudah terlalu mudah memberi jawaban.

Dan di situ letak inti seminar ini: pemanfaatan AI memang bisa memperkuat kualitas karya ilmiah, asalkan manusia tetap memegang kendali. Satu kalimat Naufal merangkum semuanya dengan jelas—AI membantu, manusia memutuskan. Titik.

Ringkasan singkat

1. HaEBI Unhas menggelar Seminar Penulisan Ilmiah di Ruang Pegadaian FEB Unhas, Makassar, Senin (22/6), dengan fokus pada pemanfaatan AI.

2. Naufal Muh Aksah SE menyebut AI bisa membantu mencari ide, menyusun struktur, memperbaiki bahasa, dan mendukung riset, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia.

3. Penggunaan AI perlu diawasi agar mahasiswa tetap menjaga verifikasi data, orisinalitas gagasan, dan integritas akademik.

FAQ singkat

Apa inti seminar ini? Edukasi tentang pemanfaatan AI dalam penulisan ilmiah yang etis dan bertanggung jawab.

Siapa pematerinya? Naufal Muh Aksah SE, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.

Kenapa topik ini penting? Karena AI makin dekat dengan aktivitas kampus dan bisa membantu, tetapi juga berisiko jika dipakai tanpa pengawasan manusia.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda