Sabtu, 11 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Temu Ilmiah ITP2I Bahas Inovasi dan Teknologi Industri Sawit Berkelanjutan

Suasana Temu Ilmiah ITP2I membahas teknologi industri sawit berkelanjutan di Pelalawan
Temu Ilmiah ITP2I mempertemukan akademisi dan pelaku industri untuk membahas masa depan sawit berkelanjutan. (Ilustrasi: AI)

PELALAWAN — Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) baru saja menggelar Temu Ilmiah III sebagai puncak perayaan Dies Natalis ke-10 di Auditorium Lantai III Kantor Bupati Pelalawan.

Acara ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, hingga pelaku industri untuk merumuskan strategi penguatan daya saing kelapa sawit melalui inovasi hilirisasi dan pemanfaatan teknologi berkelanjutan.

Mengusung tema besar mengenai teknologi pintar dan berkelanjutan untuk tantangan industri masa depan, forum internasional ini menghadirkan narasumber lintas negara. Perwakilan dari Indonesia, Thailand, Malaysia, hingga Nigeria saling bertukar wawasan tentang tantangan pasar global yang kian menuntut transparansi serta efisiensi produksi berbasis ramah lingkungan.

Pentingnya Riset untuk Daya Saing Global

Kenapa forum ini menjadi krusial? Indonesia, khususnya Pelalawan, memiliki ketergantungan ekonomi yang besar pada sektor perkebunan sawit. Tanpa sentuhan riset mutakhir dan adopsi teknologi tepat guna, komoditas ini akan sulit menembus regulasi ketat di pasar internasional.

Hilirisasi bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan agar nilai tambah produk kelapa sawit tetap berada di dalam negeri dan memberikan kesejahteraan bagi para petani lokal.

Rektor ITP2I, Prof. Tengku Dahril, menegaskan pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kampus tersebut. Hingga saat ini, kampus telah mencetak 192 alumni yang kini berkecimpung di berbagai sektor industri perkebunan, sementara 628 mahasiswa sedang berproses di bangku perkuliahan.

“Kami terus memacu kualitas sumber daya manusia. Target ke depan, seluruh dosen ITP2I harus memiliki kualifikasi doktor agar mampu melahirkan riset serta inovasi yang menjadi solusi nyata bagi pengembangan industri perkebunan,” ujar Prof. Tengku Dahril saat memberikan paparan dalam forum tersebut.

Sinergi Akademisi dan Industri

Pemerintah Daerah Pelalawan sendiri menyambut positif langkah tersebut. Mewakili Bupati, Asisten III Setdakab Pelalawan, Mayhendri, menyoroti bahwa potensi perkebunan sawit yang melimpah di daerahnya wajib dikelola dengan pendekatan ilmiah yang berkelanjutan agar mampu bersaing secara global.

Dalam sesi yang melibatkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut, diskusi juga mengerucut pada bagaimana integrasi antara temuan di laboratorium dengan praktik di kebun dapat berjalan harmonis. Sinergi ini dianggap menjadi kunci agar industri sawit tidak lagi dipandang sebelah mata dan mampu menjawab keraguan dunia internasional terkait isu-isu lingkungan.

Sebagai gambaran, keterlibatan berbagai ahli dari luar negeri membuktikan bahwa isu industri sawit adalah tantangan kolektif negara-negara penghasil kelapa sawit. Adopsi teknologi *smart* diharapkan mampu memangkas biaya produksi sekaligus menjaga standar keberlanjutan yang selama ini kerap menjadi hambatan di pasar Eropa dan Amerika.

Ringkasan Utama

  • Temu Ilmiah III ITP2I menjadi wadah kolaborasi internasional untuk membahas inovasi hilirisasi dan teknologi industri sawit berkelanjutan.
  • ITP2I menargetkan seluruh tenaga pengajar memiliki kualifikasi doktor guna memperkuat kualitas riset yang aplikatif bagi pelaku industri.
  • Pemerintah daerah dan pusat menekankan pentingnya riset berbasis teknologi untuk mempertahankan daya saing kelapa sawit di tengah tekanan standar global.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda