MAKASSAR — Pemanfaatan AI jadi fokus utama Seminar Penulisan Ilmiah yang digelar Himpunan Ekonomi dan Bisnis Islam (HaEBI) Universitas Hasanuddin di Ruang Pegadaian, lantai 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Senin (22/6).
Alumnus FEB Unhas, Naufal Muh Aksah SE, hadir sebagai pemateri dan mengajak mahasiswa melihat kecerdasan buatan sebagai alat bantu akademik yang kuat, tetapi tetap harus dikendalikan oleh penalaran manusia.
Bagi mahasiswa, isu ini terasa dekat. AI kini mudah ditemukan di ponsel, laptop, dan layanan pencarian. Tinggal ketik satu pertanyaan, jawaban muncul dalam hitungan detik. Cepat memang. Tapi di dunia akademik, kecepatan saja tidak cukup.
Pemanfaatan AI di penulisan ilmiah
Dalam pemaparannya, Naufal menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membuka banyak peluang di lingkungan kampus. AI, menurut dia, tidak lagi sekadar dipakai untuk membantu belajar di kelas, melainkan juga masuk ke penyusunan bahan ajar, riset, sampai publikasi ilmiah.
Ia menekankan, pemanfaatan AI di penulisan ilmiah bisa membantu mahasiswa pada banyak tahap. Mulai dari mencari ide topik, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, sampai memeriksa konsistensi gaya penulisan sesuai pedoman jurnal. Di titik ini, AI bekerja seperti asisten yang sabar dan tersedia hampir setiap saat.
“Kecerdasan buatan dapat membantu proses berpikir, menata gagasan, memperjelas struktur, memperbaiki bahasa, dan memberi alternatif sudut pandang. Namun, ia tidak boleh menggantikan tanggung jawab intelektual manusia,” kata Naufal dalam seminar itu.
Pesan itu penting. Soalnya, banyak mahasiswa tergoda memakai AI sebagai jalan pintas. Tugas selesai lebih cepat, tetapi kualitas berpikir bisa menurun bila semua serba diserahkan ke mesin. Di kampus, yang dinilai bukan hanya rapi atau cepat. Orisinalitas dan nalar tetap jadi ukuran utama.
Kenapa pemanfaatan AI perlu diawasi
Naufal juga mengingatkan bahwa pemanfaatan AI menyimpan risiko bila digunakan sembarangan. Salah satunya adalah ketergantungan berlebihan. Mahasiswa bisa kehilangan kebiasaan memverifikasi data, membaca sumber asli, dan menyusun argumen sendiri. Padahal, di dunia ilmiah, satu kutipan yang keliru bisa merusak seluruh bangunan tulisan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.