Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
Ancaman Siber Meningkat, Ini Langkah Sederhana Pelaku Bisnis Amankan Data Perusahaan   ·   Proyeksi Ekonomi Global 2026: Pertumbuhan Melambat di Tengah Bayang Ketegangan Geopolitik   ·   BRI Bandung hadirkan KPR bunga berjenjang mulai dari 4 persen   ·   Terikat Janji Episode 93: Davina Mengetahui Kebenaran, Hubungan dengan Sena di Ujung…   ·   Gelombang Panas AS 2026: Saat Lonjakan Infrastruktur AI Menguji Ketahanan Jaringan Listrik   ·   BCL Tampil Glamor dan Elegan Kenakan Kebaya, Sambut Presiden Republik Belarus di…   ·   Selat Hormuz Kembali Dibuka, Pasar Minyak Dunia Hadapi Ancaman Kelebihan Pasokan   ·   Tarif Listrik Juli 2026 Resmi Tidak Naik: Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi Rumah…   ·  
EKONOMI BISNIS

Mahasiswa KKN Unisan Gorontalo Dorong Pengembangan UMKM Berbasis Pangan Lokal Di Desa Owalanga

Mahasiswa KKN dorong UMKM berbasis pangan lokal di Desa Owalanga
UMKM berbasis pangan lokal di Desa Owalanga didorong mahasiswa KKN Unisan Gorontalo. (Ilustrasi: AI)

GORONTALO — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ichsan (Unisan) Gorontalo di Desa Owalanga, Kabupaten Gorontalo, mendorong pengembangan UMKM berbasis pangan lokal seperti ubi, jagung, dan kelapa agar produk warga punya nilai jual lebih tinggi.

Program itu dijalankan di tengah kebutuhan desa untuk mengolah hasil panen yang selama ini banyak dijual mentah. Bagi warga, arah program ini penting karena menyentuh dua hal sekaligus: menambah pendapatan dan membuka pasar yang lebih luas.

Fokus ke pengolahan, bukan hanya bangun fisik

Koordinator Desa KKN Unisan Gorontalo di Desa Owalanga, Sumitro Antu, mengatakan kelompoknya sengaja menempatkan pengembangan UMKM sebagai inti kerja, bukan sekadar kegiatan fisik selama masa pengabdian. Pilihan itu lahir dari potensi desa yang memang kuat di sektor pangan.

“Program kerja kami tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM. Kami ingin membantu masyarakat mengolah hasil pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi serta memperluas pemasarannya,” kata Sumitro.

Menurut dia, Owalanga punya bahan baku yang mudah ditemui warga. Ubi, jagung, dan kelapa tersedia dalam jumlah yang cukup, tapi pengolahannya belum maksimal. Di situ letak ruang dorong mahasiswa.

Kalau dijual mentah, nilai ekonominya memang terbatas. Begitu diolah menjadi produk turunan, margin bisa naik. Ini yang ingin disentuh mahasiswa KKN lewat pendampingan sederhana, dari ide produk sampai cara menjualnya.

Produk lokal butuh kemasan dan strategi jual

Mahasiswa KKN juga menaruh perhatian pada aspek pengemasan dan pemasaran. Dua hal ini sering jadi titik lemah pelaku usaha kecil di desa. Produk enak belum tentu laku kalau tampilannya biasa saja. Apalagi kalau tidak punya cerita yang kuat saat dipasarkan.

Sumitro mengatakan pendampingan yang dilakukan kelompoknya diharapkan memberi pengetahuan baru kepada masyarakat tentang inovasi produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Dengan begitu, produk lokal tidak berhenti di lingkungan desa saja.

Langkah seperti ini relevan bagi banyak desa di Gorontalo. Daerah ini punya sumber daya pertanian dan perkebunan yang melimpah, tetapi nilai tambah sering hilang di tahap pascapanen. UMKM berbasis pangan lokal jadi pintu masuk yang realistis untuk memperbaiki situasi itu.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda