MSP menjalankan sejumlah program ekoinovasi untuk menekan jejak karbon di fasilitas pengolahan. Salah satu langkahnya ialah transisi dari penggunaan solar atau diesel ke listrik berbasis Renewable Energy Certificate atau REC PLN.
Perusahaan juga memakai green electricity furnace dalam proses pengolahan timah. Teknologi ini dipilih untuk meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi karbon dari aktivitas smelter.
Perubahan lain dilakukan pada sistem produksi. MSP mengonversi teknologi dari tanur pantul ke tanur listrik, mengganti fuel burner berbahan bakar fosil dengan sistem elektrik, serta mengoptimalkan overhead crane untuk mengurangi ketergantungan pada forklift berbahan bakar konvensional.
MSP juga masuk ke skema nilai ekonomi karbon melalui carbon trading. Perusahaan membeli 1.000 kg CO2 ekuivalen yang terdaftar dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim atau SRN PPI.
Di sisi bahan bakar, perusahaan mengintegrasikan listrik REC dan biosolar B35 sebagai bagian dari strategi transisi energi. Target berikutnya lebih ambisius. Aryo menyebut perusahaan ingin memperluas pemakaian energi bersih di smelter.
“Insyaallah tahun depan kami menargetkan penggunaan 100 persen renewable energy di smelter,” kata Aryo.
Warga mendapat ruang ekonomi baru
Program sosial MSP dijalankan melalui Program ARSARI dengan pendekatan ekonomi sirkular. Limbah kelapa diolah menjadi biochar dan asap cair memakai teknologi retort berbasis pembakaran tertutup.
Model ini membuka peluang usaha bagi warga sekitar. Empat kelompok masyarakat yang mengikuti program memperoleh peningkatan pendapatan rata-rata Rp1,5 juta sampai Rp1,9 juta per bulan.
Dampak lingkungannya ikut dihitung. Inovasi pengolahan limbah kelapa disebut menurunkan emisi dari 115 ton menjadi 35 ton CO2 ekuivalen. Program itu juga mendukung rehabilitasi daerah aliran sungai seluas 72 hektare.
Bagi MSP, pemberdayaan masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitra dalam menjaga lingkungan di sekitar area operasi.
Perusahaan menyatakan akan memperluas prinsip keberlanjutan ke sektor hulu atau area pertambangan. Langkah ini penting karena industri ekstraktif berada dalam sorotan publik terkait reklamasi, emisi, tata kelola air, dan dampak sosial di daerah tambang.
Aryo menegaskan penghargaan bukan tujuan akhir. Ia menyebut MSP ingin menjaga integritas operasional agar kegiatan bisnis tidak merusak lingkungan dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Dampak yang dirasakan masyarakat adalah kualitas udara yang semakin bersih. Ini komitmen kami menuju net zero, yakni tidak menghasilkan pencemaran udara maupun air yang sudah Alhamdulillah mulai dirasakan masyarakat sekitar dan ke depan akan terus kami tingkatkan,” ujar Aryo.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.