Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Drone thermal KLH dikerahkan bantu deteksi titik api di TPA Jatiwaringin

Drone thermal KLH dikerahkan bantu deteksi titik api di TPA Jatiwaringin
Foto: Alan Kabeš/Pexels

TANGERANG — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil langkah taktis untuk meredam bara di bawah permukaan sampah TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Teknologi *drone thermal* segera dikerahkan untuk memetakan titik-titik panas yang selama ini tersembunyi jauh di balik gunungan sampah.
Kebakaran yang melanda area pembuangan akhir ini telah berlangsung selama lima hari. Petugas di lapangan menghadapi tantangan berat karena karakteristik sampah yang menyerupai lahan gambut. Api sering kali terlihat padam di permukaan, namun terus membakar hebat di bagian bawah tumpukan. Kondisi ini membuat upaya pemadaman konvensional sering menemui jalan buntu.

Mengapa Drone Thermal Dibutuhkan?

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa api di TPA Jatiwaringin bersumber dari akumulasi gas metan yang tersimpan jauh di kedalaman. Kondisi ini menciptakan risiko ledakan yang mengintai petugas pemadam kapan saja.
“Ada beberapa titik api yang sulit terdeteksi karena gas metan berada di bawah tumpukan sampah yang sangat dalam. Kami mendorong penggunaan *drone thermal* agar pemetaan menjadi lebih presisi,” ujar Diaz saat meninjau langsung lokasi kejadian di Mauk, Tangerang, Sabtu (4/7/2026).
Penggunaan sensor suhu dari udara ini menjadi terobosan untuk memandu tim darat dan operasi *water bombing*. Selama ini, penyiraman air dari helikopter sering kali hanya membasahi bagian luar, sementara api di inti tumpukan sampah tetap menyala. Tanpa data visual suhu yang akurat, tim darat bekerja bak mencari jarum dalam jerami.
Selain akurasi, teknologi ini membantu menghemat sumber daya. Dengan mengetahui koordinat panas yang tepat, penggunaan bahan bakar helikopter dan air untuk *water bombing* bisa lebih efisien. Tidak ada lagi penyiraman di area yang suhunya sudah normal.

Sinergi Penanganan Terpadu

Tantangan utama pengerahan *drone* di kawasan ini adalah lalu lintas udara. TPA Jatiwaringin berada di jalur penerbangan yang cukup sibuk dan dekat dengan fasilitas bandara. Koordinasi intensif kini dilakukan oleh KLH bersama TNI AU serta pihak otoritas bandara untuk mengatur celah waktu terbang yang aman.
Selain pemantauan udara, tim gabungan yang terdiri dari BNPB, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah menerapkan metode *inject*. Teknik ini melibatkan penyuntikan air secara langsung ke kedalaman tumpukan sampah dengan bantuan personel Manggala Agni.
“Mereka ini ahli dalam memadamkan kebakaran gambut. Karena TPA ini punya karakteristik serupa, penyiraman dari atas saja kurang efektif. Kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan suntikan air hingga ke titik terdalam,” tambah Diaz.
Metode *inject* ini sebenarnya meniru teknik pemadaman kebakaran hutan gambut yang memiliki kedalaman api serupa. Air disuntikkan melalui pipa-pipa khusus yang ditancapkan langsung ke titik api. Dengan cara ini, air tidak terbuang percuma di permukaan, melainkan langsung mendinginkan bara api di kedalaman.
Saat ini, dua helikopter jenis MI-8AMT dengan kapasitas kantung air 4.000 liter terus dioperasikan setiap hari. Laporan terbaru dari BNPB menunjukkan bahwa dari total area seluas 15 hektare, sekitar 40 persen titik api sudah berhasil dikendalikan. Angka ini diharapkan terus bertambah seiring masuknya data termal dari *drone*.

Upaya Perlindungan Warga

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda