Rabu, 24 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Rusia Kaji Larangan Ekspor Diesel di Tengah Serangan Ukraina

Larangan ekspor diesel Rusia dibahas saat pasokan menipis
Rusia kaji larangan ekspor diesel dan opsi impor bahan bakar saat serangan Ukraina memicu kelangkaan, harga naik, dan pembatasan di Crimea. (Ilustrasi: AI)

MOSKOW — Rusia mengkaji larangan ekspor diesel saat serangan Ukraina ke infrastruktur energi memicu kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah, termasuk Crimea, pada 23 Juni. Pemerintah juga membuka opsi impor bahan bakar untuk menahan lonjakan harga dan antrean di stasiun pengisian.

Dampaknya sudah terasa. Sejumlah daerah di Rusia melaporkan pembatasan penjualan bahan bakar, harga produk minyak yang naik, dan antrean panjang di SPBU. Di Sevastopol, otoritas setempat bahkan memangkas jam operasional transportasi umum, toko, kafe, serta lampu jalan, lalu melarang kegiatan massal di luar ruangan.

Novak sebut opsi baru untuk pasar domestik

Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pemerintah sedang menimbang larangan ekspor diesel dan perubahan aturan pajak untuk menopang pasar bahan bakar domestik. Dalam rapat pemerintah yang disiarkan televisi dan dipimpin Presiden Vladimir Putin, Novak bilang langkah itu disiapkan agar suplai di dalam negeri tetap aman.

“Kami menggunakan cadangan yang sebelumnya belum disentuh, dan juga mendorong peningkatan pasokan volume tambahan ke pasar domestik. Amandemen terkait undang-undang pajak telah disiapkan bersama pemerintah,” kata Novak, dikutip dari rapat tersebut.

Langkah ini bukan muncul tiba-tiba. Rusia, produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia, selama ini mengekspor berbagai produk minyak, termasuk solar. Tapi serangan drone Ukraina berulang kali memaksa kilang menghentikan sebagian aktivitas, membuat ekspor bensin dan bahan bakar jet sudah lebih dulu dibatasi.

Impor bahan bakar ikut dipertimbangkan

Surat kabar Vedomosti melaporkan opsi impor bahan bakar dibahas dalam rapat yang dipimpin Novak pada Senin. Dua sumber industri yang dikutip Reuters menyebut subsidi untuk bahan bakar impor juga dipertimbangkan agar harga di pasar domestik tidak melonjak terlalu tinggi.

Itu penting karena harga bahan bakar termasuk isu sensitif di Rusia. Jika harga naik terlalu cepat, tekanan inflasi bisa merembet ke banyak sektor lain. Transportasi, logistik, sampai distribusi barang konsumsi ikut terkena efeknya.

Menurut sumber pasar dan data LSEG, ekspor diesel dan gasoil Rusia lewat laut naik 8 persen pada April menjadi sekitar 3,25 juta metrik ton dibanding Maret. Angka itu hanya sedikit di bawah 3,3 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Pada Mei, volume ekspor disebut stabil.

Brasil dan Turki termasuk pembeli utama diesel Rusia. Karena itu, setiap perubahan kebijakan ekspor dari Moskow bisa berdampak ke pasar bahan bakar internasional, terutama bila pasokan dari Rusia menyempit dalam waktu cukup lama.

Putin tuding serangan Ukraina ganggu stabilitas

Putin untuk pertama kalinya menanggapi serangan terbaru Ukraina ke infrastruktur sipil, termasuk kilang minyak di Moskow. Ia menyebut serangan itu sebagai upaya untuk mengguncang stabilitas sosial dan meminta pemerintah mengambil langkah tambahan untuk meredam dampaknya.

“Kami harus mengambil langkah tambahan untuk mengimbangi konsekuensi dari serangan ini,” ujar Putin dalam pernyataannya. Pemerintah, kata dia, tidak boleh membiarkan gangguan pasokan berubah menjadi keresahan yang lebih luas.

Di lapangan, tekanan sudah tampak. Sumber industri menyebut produksi bensin Rusia pekan lalu turun sekitar 25 persen dibanding rata-rata harian pada Juni 2025. Dalam paruh pertama Juni, ekspor produk minyak lewat laut juga turun sekitar 15 persen dibanding paruh pertama Mei, setelah pemeliharaan kilang yang tak direncanakan menyusul serangan drone berulang.

Sevastopol, yang berada di Crimea dan menjadi basis Armada Laut Hitam Rusia, menerapkan pembatasan tambahan pada malam hari. Otoritas setempat mematikan transportasi umum lebih awal, menutup toko besar dan kafe lebih cepat, lalu meredupkan lampu jalan.

Seorang warga Crimea bernama Anzhelika mengatakan kebijakan itu diperlukan demi keamanan. “Soal lampu jalan, saya rasa itu langkah yang tepat. Perlindungan kota harus didahulukan,” ujarnya.

Reuters melaporkan belum ada tanggapan langsung dari kantor Novak saat diminta komentar. Namun sinyal dari Moskow sudah cukup jelas: jika pasokan dalam negeri terus ketat, Rusia tampaknya siap menekan ekspor diesel, memperlebar impor bahan bakar, dan menyesuaikan pajak demi menutup lubang di pasar energi. Dalam 1 bulan terakhir, ekspor diesel laut Rusia sempat menyentuh sekitar 3,25 juta metrik ton.

(FI)

Tag: bahan bakar Crimea diesel energi Reuters rusia Ukraina
📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Artikel Untuk Anda