JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Timnas Maroko yang dijuluki Atlas Lions berhasil melangkah ke babak 32 Besar Piala Dunia FIFA 2026 setelah finis di posisi kedua Grup C. Kemenangan telak 4-2 atas Haiti pada laga terakhir menjadi bukti konsistensi tim asuhan Walid Regragui. Sama seperti pencapaian luar biasa menembus semifinal pada edisi 2022, keberhasilan Maroko kali ini sangat bergantung pada performa para pilar utamanya.
Berikut adalah lima pemain kunci yang menjadi andalan tim untuk kembali menorehkan kejutan di fase gugur.
1. Achraf Hakimi β Mesin Serangan dari Sisi Sayap
Achraf Hakimi terbukti menjadi bek sayap paling produktif dan berbahaya bagi Maroko sepanjang turnamen ini. Gol yang dicetaknya melawan Haiti pada menit ke-85 menjadi bukti nyata kecepatan serta kemampuan penyelesaian akhirnya yang mematikan.
Selama tampil penuh selama 270 menit di dua laga grup, Hakimi mencatatkan rekor mengesankan: 1 gol, 2 umpan assist, 11 kali dribel sukses, serta 8 umpan silang yang akurat. Kelebihan utamanya terletak pada daya tahan fisik yang luar biasa, memungkinkannya terus naik turun di sisi kanan lapangan tanpa terlihat lelah. Tendangan keras menggunakan kaki kirinya juga menjadi senjata tambahan yang sering mengecoh pertahanan lawan.
Bermain untuk klub raksasa Prancis, Paris Saint-Germain, Hakimi membuktikan bahwa biaya transfer sebesar 60 juta euro yang dikeluarkan untuknya tidaklah sia-sia. Bersama dengan Mazraoui di sisi kiri, mereka membentuk jalur serangan sayap paling berbahaya dari tim Afrika yang tampil di turnamen kali ini.
2. Hakim Ziyech β Otak Permainan dan Spesialis Tendangan Bebas
Hakim Ziyech menjadi pengatur ritme sekaligus sumber kreativitas utama lini tengah Maroko. Gol indah yang dicetaknya melalui tendangan bebas melengkung saat melawan Haiti pada menit ke-35 menunjukkan kualitas teknisnya yang tinggi. Meskipun baru mencetak satu gol, dampak permainannya sangat terasa bagi jalannya pertandingan.
Secara statistik, Ziyech mencatatkan rata-rata 3 umpan kunci per laga, total 12 umpan berbahaya, serta tingkat akurasi operan mencapai 86 persen. Pandangan lapangannya yang tajam membuat rekan-rekannya seperti Youssef En-Nesyri dan Sofiane Boufal menerima umpan dalam posisi yang sangat menguntungkan.
Di sisi lain, usianya yang sudah menginjak 32 tahun membuat stamina Ziyech mulai menurun setelah memasuki menit ke-70. Oleh karena itu, pelatih Walid Regragui harus pandai mengatur waktu bermainnya agar tetap segar saat dibutuhkan. Namun, jika ada peluang tendangan bebas dari jarak 25 meter ke gawang lawan, Ziyech tetap menjadi sosok yang paling dipercaya untuk mengeksekusinya. Pengalaman membawakan tim ke semifinal dua tahun lalu juga menjadikannya pemimpin di ruang ganti.
3. Sofyan Amrabat β Tembok Pertahanan Lini Tengah
Sofyan Amrabat memang sempat mencetak satu gol saat melawan Haiti, namun tugas utamanya jauh lebih krusial, yaitu memutus jalur serangan lawan. Bersama dengan Azzedine Ounahi, ia membentuk duet pengaman lini tengah yang paling solid di Grup C.
Data statistiknya sangat menggambarkan peran vitalnya: 9 kali tekel bersih, 7 kali intersepsi umpan, 4 kali blok tembakan, serta tingkat akurasi umpan pendek mencapai 91 persen. Rata-rata jarak tempuhnya mencapai 12 kilometer per pertandingan, menunjukkan semangat juang yang tidak pernah padam.
Gaya permainannya yang tangguh namun tetap disiplin membuatnya menjadi penjaga utama untuk menghadapi gelandang serang lawan yang berkualitas. Bukan hal yang mengherankan jika klub FenerbahΓ§e meminjamnya dari Manchester United setelah melihat performa gemilangnya di Piala Dunia 2022. Kini, nilai pasar Amrabat diprediksi akan terus meningkat seiring penampilan apiknya kali ini.
4. Youssef En-Nesyri β Ujung Tombak Penentu Gol
Youssef En-Nesyri kembali menjadi andalan di lini depan dengan mencetak gol pembuka melawan Haiti pada menit ke-25, sekaligus menjadi gol keduanya di turnamen ini. Dengan postur tubuh setinggi 188 sentimeter dan kemampuan melompat yang sangat baik, ia menjadi momok yang menakutkan bagi pertahanan lawan dalam duel udara.
Sepanjang dua laga grup, En-Nesyri mencatat 8 kali percobaan tembakan, 4 di antaranya tepat sasaran, serta memenangkan 9 kali duel udara. Rasio satu gol dari setiap empat kali tembakannya menunjukkan efektivitasnya sebagai penyerang.
Kelemahan kecil yang perlu diperbaiki adalah terkadang kurang stabilnya penguasaan bola pada sentuhan pertama. Namun, hal itu tertutupi sepenuhnya jika mendapatkan umpan silang akurat dari Hakimi atau Mazraoui, di mana ia cukup menyelesaikannya dengan sundulan kepala. Klub Sevilla yang sempat melepasnya ke liga Turki dengan harga 20 juta euro kini kemungkinan besar menyesal, mengingat En-Nesyri selalu tampil maksimal saat timnya sangat membutuhkan gol.
5. Yassine Bounou β Penjaga Gawang Andalan
Dikenal dengan panggilan akrab Bono, Yassine Bounou adalah benteng terakhir yang menjaga gawang Maroko. Meskipun kebobolan dua gol saat melawan Haiti, ia melakukan lima kali penyelamatan krusial yang mencegah timnya kebobolan lebih banyak.
Secara keseluruhan, catatannya sangat impresif: 11 kali penyelamatan, 3 kali mencatatkan gawang bersih dari empat laga, serta tingkat keberhasilan menahan tembakan mencapai 78 persen. Pengalaman menyelamatkan tendangan penalti melawan Spanyol di babak gugur edisi sebelumnya masih membekas dan menjadi kepercayaan diri tersendiri baginya.
Kelebihan utama Bono adalah refleks yang sangat cepat, kemampuan menghadapi situasi satu lawan satu, serta kepemimpinannya yang baik dalam mengatur pertahanan di area kotak penalti. Tingginya yang mencapai 195 sentimeter juga membuatnya sangat andal menghadapi ancaman serangan lewat udara. Tidak heran jika klub Al Hilal bersedia membayar 21 juta euro untuk membawanya, karena ia tetap mampu mempertahankan performa setara liga-liga top Eropa.
Tantangan Menghadapi Juara Grup D
Di babak 32 Besar nanti, Maroko akan menghadapi juara Grup D, yang kemungkinan besar dihuni oleh tim-tim tangguh seperti Jerman, Ekuador, atau Senegal. Lawan-lawan ini dikenal memiliki fisik yang kuat dan kecepatan serangan yang tinggi.
Beberapa tantangan yang harus diatasi Regragui dan timnya adalah mengurangi kesalahan individu di lini belakang, seperti yang terlihat saat kebobolan dini melawan Haiti. Selain itu, serangan tim cenderung sangat bergantung pada kondisi fisik dan kreativitas Hakim Ziyech. Jika ia tidak tampil maksimal, alur serangan bisa terhenti. Ketersediaan pemain cadangan yang kualitasnya setara dengan pemain inti juga menjadi perhatian.
Meskipun demikian, modal mental yang sudah terbentuk sejak pencapaian di Qatar 2022 membuat Maroko tidak lagi merasa takut menghadapi tim-tim besar. Mereka telah membuktikan mampu mengalahkan Belgia, Spanyol, dan Portugal pada edisi sebelumnya.
Kesimpulan
Kelima nama tersebut adalah tulang punggung yang menentukan nasib Maroko di Piala Dunia 2026. Keberhasilan mengulangi sejarah kejutan atau terhenti di babak 32 Besar sangat bergantung pada konsistensi performa Achraf Hakimi, Hakim Ziyech, Sofyan Amrabat, Youssef En-Nesyri, dan Gassine Bounou.
Pertanyaan Umum
Q: Siapa saja pemain kunci Maroko di Piala Dunia 2026?
A: Achraf Hakimi, Hakim Ziyech, Sofyan Amrabat, Youssef En-Nesyri, dan Yassine Bounou.
Q: Lawan apa yang akan dihadapi Maroko di babak 32 Besar?
A: Juara Grup D, yang kemungkinan besar adalah Jerman, Ekuador, atau Senegal.
Q: Di klub mana saja mereka bermain?
A: Hakimi di PSG, Ziyech di Galatasaray, Amrabat di FenerbahΓ§e, En-Nesyri di FenerbahΓ§e, dan Bounou di Al Hilal.
Q: Apa pencapaian terbaik Maroko di Piala Dunia?
A: Menembus babak semifinal pada edisi Piala Dunia 2022 di Qatar.
π Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.