Sofyan Amrabat memang sempat mencetak satu gol saat melawan Haiti, namun tugas utamanya jauh lebih krusial, yaitu memutus jalur serangan lawan. Bersama dengan Azzedine Ounahi, ia membentuk duet pengaman lini tengah yang paling solid di Grup C.
Data statistiknya sangat menggambarkan peran vitalnya: 9 kali tekel bersih, 7 kali intersepsi umpan, 4 kali blok tembakan, serta tingkat akurasi umpan pendek mencapai 91 persen. Rata-rata jarak tempuhnya mencapai 12 kilometer per pertandingan, menunjukkan semangat juang yang tidak pernah padam.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Gaya permainannya yang tangguh namun tetap disiplin membuatnya menjadi penjaga utama untuk menghadapi gelandang serang lawan yang berkualitas. Bukan hal yang mengherankan jika klub Fenerbahçe meminjamnya dari Manchester United setelah melihat performa gemilangnya di Piala Dunia 2022. Kini, nilai pasar Amrabat diprediksi akan terus meningkat seiring penampilan apiknya kali ini.
4. Youssef En-Nesyri – Ujung Tombak Penentu Gol
Youssef En-Nesyri kembali menjadi andalan di lini depan dengan mencetak gol pembuka melawan Haiti pada menit ke-25, sekaligus menjadi gol keduanya di turnamen ini. Dengan postur tubuh setinggi 188 sentimeter dan kemampuan melompat yang sangat baik, ia menjadi momok yang menakutkan bagi pertahanan lawan dalam duel udara.
Sepanjang dua laga grup, En-Nesyri mencatat 8 kali percobaan tembakan, 4 di antaranya tepat sasaran, serta memenangkan 9 kali duel udara. Rasio satu gol dari setiap empat kali tembakannya menunjukkan efektivitasnya sebagai penyerang.
Kelemahan kecil yang perlu diperbaiki adalah terkadang kurang stabilnya penguasaan bola pada sentuhan pertama. Namun, hal itu tertutupi sepenuhnya jika mendapatkan umpan silang akurat dari Hakimi atau Mazraoui, di mana ia cukup menyelesaikannya dengan sundulan kepala. Klub Sevilla yang sempat melepasnya ke liga Turki dengan harga 20 juta euro kini kemungkinan besar menyesal, mengingat En-Nesyri selalu tampil maksimal saat timnya sangat membutuhkan gol.
5. Yassine Bounou – Penjaga Gawang Andalan
Dikenal dengan panggilan akrab Bono, Yassine Bounou adalah benteng terakhir yang menjaga gawang Maroko. Meskipun kebobolan dua gol saat melawan Haiti, ia melakukan lima kali penyelamatan krusial yang mencegah timnya kebobolan lebih banyak.
Secara keseluruhan, catatannya sangat impresif: 11 kali penyelamatan, 3 kali mencatatkan gawang bersih dari empat laga, serta tingkat keberhasilan menahan tembakan mencapai 78 persen. Pengalaman menyelamatkan tendangan penalti melawan Spanyol di babak gugur edisi sebelumnya masih membekas dan menjadi kepercayaan diri tersendiri baginya.
Kelebihan utama Bono adalah refleks yang sangat cepat, kemampuan menghadapi situasi satu lawan satu, serta kepemimpinannya yang baik dalam mengatur pertahanan di area kotak penalti. Tingginya yang mencapai 195 sentimeter juga membuatnya sangat andal menghadapi ancaman serangan lewat udara. Tidak heran jika klub Al Hilal bersedia membayar 21 juta euro untuk membawanya, karena ia tetap mampu mempertahankan performa setara liga-liga top Eropa.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.