Statistik yang mereka lakukan menunjukkan kemungkinan besar mayoritas spesimen di situs itu memang perempuan. Tapi kemungkinan besar bukan kepastian. Para peneliti berhati-hati, karena analisis protein purba dari enamel gigi hanya memberi petunjuk biomolekuler yang sangat terbatas.
Palesa Madupe, antropolog evolusi dari University of Copenhagen, menjelaskan mengapa enamel gigi begitu berharga untuk studi semacam ini. “Berbeda dari sisa tulang, protein dalam enamel gigi terawetkan karena enamel, jaringan paling keras di tubuh manusia, melindungi protein dari kontaminasi lingkungan bahkan selama jutaan tahun,” katanya.
Artinya, untuk fosil yang hidup di iklim hangat dan rentang waktu yang sangat panjang, enamel gigi sering jadi satu-satunya jalan masuk untuk membaca jejak biologis. Tidak mewah. Tapi efektif.
Raising Star dan debat soal pemakaman sengaja
Nama Rising Star sudah lama memancing perdebatan. Sebagian peneliti menilai Homo naledi mungkin sengaja menempatkan jasad anggota kelompoknya di dalam gua. Kalau benar, itu akan menjadi salah satu bukti paling awal dari ritual penguburan yang disengaja dalam sejarah manusia.
Namun, gagasan itu tidak pernah diterima bulat. Beberapa ahli berpendapat bukti yang tersedia belum cukup kuat untuk menyebutnya pemakaman ritual. Mereka mempertanyakan bagaimana jasad itu bisa masuk ke ruang gua yang sulit dijangkau, apakah memang sengaja diletakkan, atau hanya terbawa oleh proses alam.
Lee Berger, paleoantropolog yang juga terlibat dalam studi terbaru ini, sebelumnya pernah mengajukan klaim bahwa Homo naledi memang mempraktikkan penguburan sengaja. Klaim itu dipatahkan cukup keras oleh peneliti lain. Karena itu, paper terbaru memilih nada lebih hati-hati. Tidak ada pernyataan besar. Hanya dorongan untuk mencari bukti tambahan.
Kalau Rising Star benar situs pemakaman, lalu mengapa sampel yang ditemukan tampak begitu timpang? Skenarionya jadi menarik. Bisa jadi lokasi itu khusus untuk perempuan. Bisa juga ada gua pemakaman lain yang menyimpan jasad laki-laki, belum ditemukan sampai sekarang.
Genetik yang sempit, populasi yang terisolasi
Ada penjelasan lain yang tak kalah masuk akal. Para peneliti melihat bahwa urutan protein pada individu-individu itu menunjukkan keragaman genetik yang sangat rendah. Pola seperti ini sering muncul pada populasi yang terisolasi, kecil, atau mengalami perkawinan sedarah dalam jangka panjang.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.