Dalam penjelasan Kemensos, mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 DTSEN, yakni kelompok ekonomi paling rentan. Dengan konsep boarding school, program ini memberi akses pendidikan tanpa terhambat zonasi maupun jarak geografis.
Poin itu yang ingin ditekankan dalam film Sekolah Rakyat. Cerita tidak hanya memotret kesulitan, tetapi juga menunjukkan bagaimana akses pendidikan dapat mengubah arah hidup seorang anak. Tema “dari gelap menuju terang” dipilih untuk menandai proses perubahan tersebut.
Wildanshah, Direktur Utama Penjaga Harapan, menyebut film ini penting sebagai jembatan komunikasi kebijakan kepada publik. Ia menilai pendekatan kreatif bisa membuat pesan pemerintah terasa lebih membumi tanpa mengubah substansi program.
“Kami melihat film ini sebagai bagian dari upaya menyampaikan program pemerintah secara lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. Substansi program tetap milik negara, dan pendekatan kreatif seperti ini menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan,” ujar Wildanshah.
Film akan diproduksi selama tiga hari dengan basis riset dan konsultasi bersama Kemensos serta komunitas film. Selain versi utama berdurasi sekitar 25 menit, tim juga menyiapkan trailer 30 detik untuk distribusi di kanal publik, termasuk videotron.
Rencana ini juga membuka ruang keterlibatan komunitas perfilman dalam menyampaikan program strategis pemerintah. Di balik narasi layar lebar yang singkat, ada pesan yang jelas: pengentasan kemiskinan tak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia, dan pendidikan tetap jadi jalur paling masuk akal untuk memutus rantai itu.
Film Sekolah Rakyat diharapkan selesai dalam format yang kuat secara cerita dan efektif sebagai alat komunikasi publik. “Kami ingin masyarakat melihat bahwa negara benar-benar hadir,” kata Agus Jabo menutup pembahasan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.