Jumat, 26 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Airlangga Dorong Ekonomi Digital untuk Genjot Pertumbuhan RI

Airlangga Dorong Ekonomi Digital untuk Genjot Pertumbuhan RI
Ekonomi digital menjadi tumpuan baru pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 8 persen. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COMEkonomi digital menjadi tumpuan baru pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 8 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut target itu sulit dicapai bila Indonesia belum kuat di pusat data, semikonduktor, dan talenta digital.

Peringatan satu dekade IDPRO di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026, dipakai pemerintah untuk menegaskan arah kebijakan itu. Dampaknya langsung terasa bagi industri teknologi, pelaku usaha, dan pasar tenaga kerja yang kini bersaing memperebutkan kebutuhan komputasi, penyimpanan data, dan desain cip.

Airlangga bicara di hadapan pelaku industri pusat data, akademisi, dan pemangku kebijakan. Pesannya singkat. Serius.

Ekonomi digital jadi pengungkit pertumbuhan

Dalam pidato utamanya, Airlangga menegaskan Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8 persen, dan salah satu pengungkitnya adalah ekonomi digital. Menurut dia, kecerdasan buatan atau AI tak akan berjalan optimal tanpa infrastruktur yang memadai, terutama pusat data yang andal dan efisien.

“Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8 persen dan salah satu pengungkitnya adalah ekonomi digital. Dan kuncinya adalah tentunya kecerdasan buatan atau AI, sedangkan AI itu baru bisa berjalan maksimal jika infrastrukturnya, yaitu pusat data, dibangun dengan baik,” kata Airlangga.

Pernyataan itu penting karena kebutuhan komputasi Indonesia terus naik. Perusahaan teknologi, lembaga keuangan, layanan publik, sampai perdagangan elektronik makin bergantung pada ruang simpan data yang aman, cepat, dan dekat dengan pengguna. Tanpa pusat data yang kuat, biaya operasional bisa membengkak. Pelayanan melambat. Daya saing ikut turun.

Airlangga juga memberi apresiasi kepada IDPRO yang telah satu dekade mendorong industri pusat data nasional. Ia menilai sektor ini sudah berubah dari pelengkap menjadi game changer dalam ekonomi modern. Kebutuhan data yang besar membuat pusat data bukan lagi urusan teknis semata, melainkan bagian dari strategi ekonomi nasional.

DEFA dan langkah ke hulu semikonduktor

Pemerintah juga mendorong kerja sama ekonomi digital di tingkat ASEAN melalui penyelesaian dan penandatanganan Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN atau DEFA pada KTT ASEAN mendatang. Kesepakatan itu diproyeksikan membuka pasar digital yang lebih luas di Asia Tenggara dan memperbesar peluang ekspansi bagi Indonesia.

Di level kawasan, integrasi aturan digital dinilai bisa memangkas hambatan lintas negara, terutama bagi perdagangan daring, layanan berbasis aplikasi, dan aliran data. Indonesia melihat ruang besar di situ. Kalau DEFA berjalan mulus, posisi Indonesia sebagai hub ekonomi digital ASEAN berpotensi makin kuat.

Langkah pemerintah tidak berhenti di hilir. Jakarta juga mulai masuk ke hulu lewat pengembangan industri semikonduktor. Melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Inggris, ARM, Indonesia akan mengembangkan kemampuan desain cip. Satu langkah yang dianggap strategis karena desain cip menentukan kemampuan banyak perangkat modern bekerja.

Semikonduktor menjadi tulang punggung teknologi masa depan. AI, internet benda, kendaraan otonom, sampai komputasi kuantum membutuhkan chip yang semakin canggih. Tanpa kemampuan desain sendiri, Indonesia akan terus bergantung pada luar negeri untuk sektor yang sangat menentukan ini.

Target 15 ribu talenta dalam tiga tahun

Masalahnya, industri sebesar apa pun tetap butuh manusia yang paham kerja teknisnya. Karena itu, pemerintah menargetkan pelatihan 15 ribu tenaga muda di bidang semikonduktor dalam tiga tahun ke depan. Program ini diarahkan untuk melahirkan insinyur digital yang bisa masuk ke rantai pasok teknologi dan mengisi kebutuhan industri yang terus bertumbuh.

Airlangga menyebut momentum penguatan talenta digital harus dijaga. Ia menilai Indonesia punya kesiapan yang relatif lebih baik dibanding sejumlah negara ASEAN lain, tapi keunggulan itu bisa hilang kalau tidak dipacu dengan serius.

“Momentum ini harus kita jaga. Di antara negara ASEAN lainnya, saya dapat katakan Indonesia lebih siap. Oleh karena itu, pengembangan talenta digital, pusat data, dan industri semikonduktor harus terus didorong agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi digital dunia,” ujar Airlangga.

Pesan itu menegaskan bahwa pertarungan ekonomi digital kini tidak lagi sekadar soal aplikasi populer atau jumlah pengguna internet. Persaingan sesungguhnya ada di infrastruktur, chip, dan SDM. Tiga hal itu saling mengunci.

Acara tersebut turut dihadiri Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma, serta perwakilan kementerian, pelaku industri pusat data, dunia usaha, akademisi, dan mitra pembangunan.

Ke depan, pemerintah akan menghadapi ujian nyata: apakah dorongan di pusat data, semikonduktor, dan talenta digital benar-benar berlanjut dalam kebijakan, investasi, dan pendidikan vokasi, atau berhenti sebagai seruan forum semata.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda