PANGKALPINANG, JOURNALARTA.COM – Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Indonesia memasuki fase persiapan yang semakin konkret setelah melalui kajian panjang selama lebih dari enam dekade. Pemerintah menegaskan energi nuklir kini menjadi opsi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission tahun 2060.
Dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah memasukkan energi nuklir ke dalam peta jalan energi masa depan.
“Teknologi nuklir, termasuk Small Modular Reactor (SMR), menjadi pilihan yang layak dikembangkan karena fleksibel dan sangat sesuai dengan karakteristik negara kepulauan seperti Indonesia,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, keunggulan utama energi nuklir terletak pada kemampuannya menyediakan pasokan listrik stabil berskala besar dengan tingkat emisi karbon yang sangat rendah, sehingga menjadi solusi penting menghadapi lonjakan kebutuhan energi nasional di tengah transisi hijau.
Target Resmi Terhubung Jaringan Tahun 2032
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan bahwa energi nuklir telah resmi masuk dalam perencanaan energi nasional dengan target operasi pertama dan terhubung ke jaringan listrik nasional pada tahun 2032.
“Target tercepat kita adalah on grid dan komisioning pada tahun 2032,” tegasnya dalam sejumlah forum energi terkini.
Pemerintah kini tengah mematangkan empat pilar utama persiapan: teknologi yang akan diadopsi, ketersediaan sumber daya manusia, penentuan lokasi prioritas, serta penguatan kelembagaan pendukung. Tahap awal, kapasitas pembangkit yang dikembangkan berada di kisaran ratusan megawatt sebelum diperluas secara bertahap.
Kesiapan Sektor Ketenagalistrikan dan Lokasi Prioritas
PT PLN (Persero) juga mulai memperkuat kesiapan institusi dan penyiapan tenaga ahli. Dalam kegiatan Capacity Building Awareness Nuklir 2026, General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh menjelaskan bahwa satu unit PLTN membutuhkan minimal 200 tenaga inti yang terlatih khusus untuk menjamin pengoperasian aman dan andal.
“Persiapan SDM harus dimulai sejak tahap perencanaan, tidak bisa disiapkan mendadak saat pembangunan dimulai,” ujar Soleh.
Saat ini pemerintah dan PLN menjadikan wilayah Bangka Belitung dan Kalimantan Barat sebagai lokasi prioritas kajian pembangunan PLTN awal dengan kapasitas sekitar 500 MW. Dukungan politik juga semakin kuat, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menegaskan pengembangan nuklir akan terus dilanjutkan hingga mencapai kapasitas beberapa gigawatt di masa mendatang.
Keselamatan Menjadi Prinsip Utama
Pemerintah menegaskan percepatan ini tidak mengesampingkan aspek keamanan. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) akan berperan sebagai regulator independen yang memastikan seluruh tahapan mulai dari perencanaan, konstruksi hingga operasi sepenuhnya memenuhi standar keselamatan nasional dan internasional.
Pengembangan PLTN juga harus disertai penyelesaian regulasi, upaya penerimaan masyarakat, penguatan industri pendukung lokal, serta pengelolaan limbah yang terjamin keamanannya.
Dengan dukungan penuh pemerintah, regulator, akademisi, dan pelaku industri, Indonesia kini memasuki babak baru menuju realisasi pembangkit nuklir pertama sebagai pilar bauran energi rendah karbon nasional. (KBO Babel)

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.