Sabtu, 27 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Marketeers Tech for Business 2026: Era GEO Gantikan SEO, Brand Harus AI Friendly

Marketeers Tech for Business 2026
Generative Engine Optimization atau GEO kini disebut sebagai strategi wajib brand digital, menggantikan dominasi SEO konvensional yang selama ini jadi patokan. Foto: JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Generative Engine Optimization atau GEO kini disebut sebagai strategi wajib brand digital, menggantikan dominasi SEO konvensional yang selama ini jadi patokan marketer Indonesia. Pernyataan ini bergaung di Marketeers Tech for Business 2026, Jakarta, Rabu 25 Juni 2026.

Pergeseran ini bukan sekadar tren. Konsumen Indonesia kini memilih bertanya langsung ke ChatGPT, Gemini, atau Perplexity ketimbang mengetik kata kunci di Google lalu scroll halaman hasil pencarian. Implikasinya besar yaitu brand yang tidak muncul dalam jawaban AI bakal kehilangan visibilitas secara diam-diam.

SEO Tidak Mati, Tapi Tidak Cukup Lagi

COO Marketeers Corp Iwan Setiawan menegaskan pesan itu langsung dari panggung.

Brand tidak bisa lagi hanya mengandalkan SEO atau SMO konvensional. Strategi digital marketing 2026 harus AI-friendly, bisa dibaca dan dikutip oleh mesin AI,” kata Iwan di hadapan peserta TFB 2026.

Iwan menekankan SEO tidak mati. Tapi posisinya bergeser jadi fondasi, bukan puncak strategi. GEO adalah lapisan baru di atasnya dan inilah yang menentukan apakah sebuah brand disebut AI sebagai referensi jawaban atau tidak.

Perbedaan keduanya cukup mendasar. SEO mengejar peringkat di Google lewat kata kunci dan backlink. GEO mengejar sesuatu yang berbeda: brand mention dan citation rate di dalam jawaban yang dihasilkan mesin AI seperti ChatGPT atau Perplexity.

Aspek SEO Konvensional GEO
Target Utama Google Ranking ChatGPT, Gemini, Perplexity
Format Konten Keyword density, backlink Data terstruktur, FAQ, jawaban langsung
Tujuan Klik ke website Disebut/dikutip AI sebagai sumber
Metrik Sukses CTR, posisi 1 Google Brand mention, citation rate di AI

Konsumen Malas Scroll, AI Langsung Jawab

Perilaku konsumen digital itulah inti masalahnya. Orang malas scroll. Mereka ingin jawaban instan dan AI generatif memberikan persis itu. Rekomendasi produk, perbandingan layanan, hingga panduan pembelian kini keluar langsung dari chatbot, bukan dari daftar link biru di Google.

Untuk brand yang ingin bertahan, Iwan memetakan tiga langkah konkret. Pertama, bangun knowledge base, artikel FAQ dan konten edukasi yang menjawab pertanyaan spesifik pengguna secara langsung. Bukan konten panjang penuh keyword, tapi konten yang menjawab.

Kedua, terapkan schema markup. Struktur data produk, harga, dan ulasan yang terformat rapi memudahkan AI “membaca” dan mengutip informasi brand. Ketiga dan ini yang paling krusial, menurut Iwan optimalkan E-E-A-T: Experience, Expertise, Authoritativeness, Trust. AI cenderung mengutip brand yang kredibel dan punya rekam jejak otoritas yang jelas di bidangnya.

Sinyal untuk 2026-2027

Marketeers TFB 2026 digelar sebagai forum tahunan pelaku industri teknologi dan pemasaran Indonesia. Tahun ini, GEO menjadi topik paling dominan dan sinyal bahwa komunitas marketer nasional sudah mulai mengakui pergeseran ini sebagai realita, bukan spekulasi.

Brand yang belum menyesuaikan struktur kontennya dengan kebutuhan AI search berisiko kehilangan relevansi di hadapan konsumen yang justru paling aktif dan paling bernilai: mereka yang sudah terbiasa bertanya ke AI sebelum memutuskan membeli.

Bukan soal mengejar tren. Ini soal siapa yang dikutip AI ketika calon pelanggan bertanya dan siapa yang tidak.

“Brand yang tidak siap GEO akan ketinggalan di 2026 dan 2027. SEO masih penting, tapi GEO sekarang wajib hukumnya,” tutup Iwan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda