Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Ford Rekrut Kembali Insinyur Usai AI Bikin Kualitas Turun

Ford rekrut kembali insinyur untuk perbaiki kualitas AI
Ford rekrut kembali insinyur setelah AI membuat mutu turun. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Ford rekrut kembali insinyur berpengalaman setelah strategi otomasi dan kecerdasan buatan yang mereka dorong dalam beberapa tahun terakhir justru memunculkan masalah mutu dan biaya besar.

Pabrikan mobil asal Amerika Serikat itu mengakui telah mempekerjakan lebih dari 350 insinyur veteran dalam tiga tahun terakhir. Di internal Ford, mereka disebut “gray beards”. Bloomberg melaporkan langkah ini ditempuh untuk membenahi kesalahan sistem otomatis yang sempat membuat perusahaan merugi miliaran dolar.

Langkah Ford menarik perhatian karena menunjukkan satu hal sederhana: AI bisa mempercepat kerja, tapi belum tentu paham nuansa. Di pabrik, selisih kecil pada komponen bisa berarti recall, keluhan pelanggan, atau biaya perbaikan yang membengkak. Di situlah pengalaman manusia kembali dibutuhkan.

Ford rekrut kembali insinyur untuk audit mutu

Kumar Galhotra, chief operating officer Ford, mengakui perusahaan terlalu jauh bersandar pada sistem kualitas otomatis. “We had been relying more and more on automated quality systems and not getting the desired results,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg.

Menurut Galhotra, Ford lalu membawa kembali spesialis teknis yang bisa mencari titik gagal sebelum sebuah komponen masuk ke lantai produksi. Dengan kata lain, insinyur senior itu tidak sekadar jadi pemeriksa akhir. Mereka ikut membedah desain, membaca pola cacat, lalu menilai bagian mana yang rawan lolos dari radar mesin.

Ford menyebut para pekerja ini juga membantu melatih sistem AI agar lebih baik. Jadi, yang terjadi bukan perang antara manusia dan mesin. Justru keduanya dipasangkan ulang, setelah Ford sadar bahwa otomasi tanpa pengalaman lapangan bisa menghasilkan keputusan yang terlalu kaku.

Charles Poon, wakil presiden vehicle hardware engineering Ford, juga memberi penjelasan yang cukup terang. “Artificial intelligence is a fantastic tool, but it’s only as good as the information you use to train it,” katanya. Ia menambahkan, perusahaan dulu “tidak memberi perhatian sebesar yang seharusnya” pada pengalaman para insinyur paling senior.

Kenapa AI gagal membaca masalah yang rumit

Kasus Ford memberi gambaran tentang batas AI di industri manufaktur. Sistem otomatis jago menyapu data dalam jumlah besar, memeriksa pola, dan menandai anomali. Tapi, saat berhadapan dengan kasus rumit, pengalaman manusia masih punya bobot yang sulit digantikan.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda