JAKARTA — dolar AS kembali menekan rupiah pada Rabu pagi, 1 Juli, dan sempat bergerak di kisaran Rp17.900-an saat pembukaan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Amerika Serikat itu berada di level Rp17.944 pada pukul 09.05 WIB, lalu naik lagi ke Rp17.975 lima menit kemudian.
Pergerakan ini membuat pasar kembali menatap area psikologis Rp18.000. Angka itu penting bukan hanya untuk pelaku pasar valas, tapi juga buat importir, pelaku usaha, dan konsumen yang sensitif terhadap biaya barang impor.
dolar AS menguat, rupiah ikut tertekan
Tekanan pada rupiah muncul di saat dolar AS masih mendapat dukungan dari pasar global. Dalam pembanding data yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah dibuka melemah ke Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, nyaris menyentuh batas psikologis Rp18.000. Pada penutupan sehari sebelumnya, rupiah juga sudah berada di zona rapuh.
Selisih kecil di awal perdagangan seperti ini sering jadi sinyal. Pasar belum tenang. Pelaku transaksi cenderung hati-hati, apalagi jika volatilitas dolar masih tinggi dan sentimen luar negeri belum memberi ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas lebih lega.
Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan dolar AS menguat 0,21 persen. Pada 09.10 WIB, penguatannya berlanjut. Ini berarti tekanan terhadap rupiah bukan sekadar gerak sesaat, melainkan bagian dari arus yang lebih besar di pasar valuta asing pagi itu.
Tekanan global belum mereda
Di pasar internasional, dolar AS juga bergerak variatif terhadap mata uang utama lain. Terhadap euro, greenback justru melemah 0,15 persen. Terhadap pound sterling, turun 0,20 persen. Lalu terhadap dolar Australia, pelemahannya lebih dalam, mencapai 0,51 persen.
Namun pada mata uang lain, dolar AS tetap menunjukkan tenaga. Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,09 persen. Terhadap franc Swiss naik 0,10 persen, dan terhadap dolar Kanada menguat 0,18 persen.
Pola campuran seperti ini menunjukkan pasar global belum punya arah tunggal. Tapi dalam konteks rupiah, yang lebih terasa adalah sisi kuat dolar. Selama permintaan terhadap aset dolar masih tinggi, mata uang negara berkembang cenderung berada di bawah tekanan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.