Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Gelembung AI Masih Panjang, Meski Ancaman Koreksi Mengintai

Gelembung AI dan grafik saham teknologi di pasar AS
Gelembung AI masih panjang karena laba raksasa teknologi kuat, investor belum takut, dan pasar AS tetap digerakkan rasa ketinggalan. (Ilustrasi: AI)

Angka itu membuat pasar tampak rapuh. Bila sekelompok kecil perusahaan menguasai porsi begitu besar, satu gangguan saja bisa menekan indeks luas. Tapi anehnya, justru di saat itulah investor semakin sulit keluar. Harga terus naik. Laba masih besar. Dan ada keyakinan bahwa kecerdasan buatan akan mengubah hampir semua bisnis, dari periklanan sampai perangkat lunak.

Masalahnya, tidak semua optimisme berujung untung. Jeremy Grantham, investor kawakan yang lama dikenal sebagai pengkritik gelembung aset, melihat pola klasik: orang berinvestasi besar-besaran pada teknologi baru, lalu menyadari bahwa teknologi itu lebih mirip utilitas, seperti listrik atau rel kereta, ketimbang mesin pencetak laba tanpa batas. Nilainya nyata. Keuntungannya belum tentu sebesar ekspektasi awal.

Utang, laba, dan rasa takut ketinggalan

Tekanan lain datang dari sisi pendanaan. Sejumlah perusahaan teknologi mulai berutang untuk membiayai investasi AI. SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, bahkan disebut mengambil langkah berani dengan penjualan obligasi senilai 25 miliar dolar AS tak lama setelah meraup 86 miliar dolar AS dari pencatatan rekor di New York. Bagi Ludovic Subran, chief investment officer Allianz, langkah itu tanda pasar mulai masuk “bubble territory”.

Subran melihat gejala yang jelas: saat perusahaan yang sudah sangat kaya tetap menambah utang untuk mengejar pertumbuhan AI, pasar mulai terasa terlalu panas. Dhaval Joshi, kepala strategi global di BCA Research, menyebutnya “madness of crowds”, kegilaan massa. Dalam pandangannya, pasar sehat saat berbagai opini masih beragam. Begitu pandangan investor seragam, pasar kehilangan keseimbangan. Semua ingin masuk. Hampir tak ada yang mau tertinggal.

Rasa takut ketinggalan ini justru membuat koreksi sulit datang lebih awal. Awal tahun, minat investor sempat melemah ketika beberapa perusahaan besar mulai berutang untuk belanja AI. Lalu ketegangan geopolitik ikut mengguncang. Tetapi pasar cepat pulih. Begitu Donald Trump memberi sinyal dialog dengan Iran pada akhir Maret, S&P 500 kembali melonjak. Pesannya jelas: selama ada alasan untuk berharap, investor memilih bertahan.

Kenapa pasar masih bisa naik lebih jauh

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda