Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Telah Datang Masanya Ustadz Tidak Selalu Manusia Menguji Ulang Otoritas Keagamaan Di Era Kecerdasan Buatan

Telah datang masanya ustadz tidak selalu manusia (Menguji ulang oto…
Ustazah AI dengan jutaan pengikut TikTok ternyata bukan manusia. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Jutaan orang menonton ceramahnya. Suaranya lembut, wajahnya meyakinkan, dan kata-katanya terdengar runtut seperti pendakwah sungguhan. Tapi tidak ada manusia di balik layar itu. Yang bekerja hanya algoritma.

Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan fakta bahwa seorang “ustazah” dengan jutaan pengikut di TikTok ternyata sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan (AI). Bukan rekaman ulang. Bukan akun parodi. Murni mesin.

Peristiwa ini mungkin akan segera tenggelam oleh konten viral berikutnya. Tapi pertanyaan yang ia tinggalkan tidak akan semudah itu pergi: ketika manusia tidak lagi bisa membedakan guru agama yang nyata dari representasi digital ciptaan mesin, apa yang terjadi pada kepercayaan kita?

Sanad, Ilmu, dan Tanggung Jawab

Selama berabad-abad, tradisi keilmuan Islam berdiri di atas satu fondasi yang tidak bisa digantikan begitu saja — hubungan antarmanusia. Seorang murid belajar langsung dari gurunya. Sang guru memperoleh ilmu dari gurunya yang lebih tua. Demikian seterusnya, membentuk rantai keilmuan yang disebut sanad.

Dalam Islam, ilmu tidak hanya dinilai dari isinya. Yang tak kalah penting adalah siapa yang menyampaikannya, bagaimana akhlaknya sehari-hari, dan dari mana sumber ilmunya berasal. Otoritas keagamaan bukan sesuatu yang bisa diraih dalam semalam. Ia dibangun melalui proses belajar yang panjang, keteladanan hidup, dan tanggung jawab moral yang menyertai setiap kata yang diajarkan.

AI tidak punya semua itu. Ia bisa mengutip ayat Al-Qur’an dengan fasih. Bisa menyebut hadis, menjelaskan pendapat ulama, bahkan menampilkan ekspresi wajah yang terlihat khusyuk. Tapi ia tidak memikul amanah. Tidak ada rasa takut kepada Allah. Tidak ada konsekuensi moral jika ia keliru.

Ketika Tampilan Mengalahkan Kedalaman

Di sinilah pergeseran yang sesungguhnya sedang terjadi. Dulu orang mempercayai seseorang karena kedalaman ilmunya. Sekarang, tidak sedikit yang mempercayai sesuatu karena tampilannya yang meyakinkan.

Otoritas bergeser — dari tradisi keilmuan menuju kekuatan algoritma. Popularitas digital mulai bersaing dengan otoritas yang dibangun bertahun-tahun di pesantren dan majelis ilmu.

Fenomena ini bukan hanya masalah dunia dakwah. Di berbagai bidang, masyarakat makin terbiasa menerima informasi tanpa terlebih dulu mengenali siapa yang ada di baliknya. Wajah bisa direkayasa. Suara bisa ditiru. Dalam hitungan detik, AI dapat menghasilkan ribuan konten ceramah dengan kualitas visual yang sulit dibedakan dari manusia sungguhan.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda