JAKARTA — Membuat musik akhirnya jadi rutinitas yang membebaskan, bukan lagi menunggu inspirasi datang. Pengalaman itu dialami seorang penulis esai yang pada musim panas 2020 mengambil cuti tiga bulan penuh untuk menuntaskan album, lalu pulang dengan cara kerja baru yang membuatnya yakin bisa membuat album sebanyak yang ia mau tanpa harus meninggalkan pekerjaan.
Dalam tulisan yang dilaporkan The Verge, ia bercerita bahwa perjalanan panjangnya sebagai pembuat musik dimulai sejak 2005. Namun, selama bertahun-tahun, ia hanya merilis satu album pertama, karya yang ia sebut lahir dari “ketidakbersalahan dan ketidaktahuan” masa muda. Di luar itu, ada sekitar dua lusin lagu yang sempat selesai, tapi tak pernah terasa cukup kuat untuk dibentuk menjadi album utuh.
Yang berubah justru datang dari hal yang tampak sederhana: waktu. Banyak waktu. Dan tekanan tenggat yang pelan-pelan mengubah cara pandangnya terhadap proses kreatif.
Membuat musik bukan lagi menunggu ilham
Selama dua bulan pertama cuti panjang itu, ia menghabiskan sekitar 10 jam per hari untuk fokus ke musik. Ia menonton tutorial, memperbaiki teknik, dan merangkai sekitar 10 lagu baru. Dari situ, ia sadar bahwa masalah utamanya bukan kekurangan bakat semata. Masalahnya ada pada cara kerja yang terlalu menggantungkan semuanya pada momen spesial.
“Membuat lagu selalu terasa seperti pencapaian istimewa,” tulisnya. “Sesuatu yang hanya terjadi jika bintang-bintang sejajar.”
Kalimat itu penting. Soalnya, banyak orang yang punya hobi kreatif sering terjebak pada pola yang sama: menunggu mood, menunggu inspirasi, menunggu suasana pas. Akhirnya, karya yang dihasilkan sedikit dan prosesnya terasa berat setiap kali dimulai dari nol.
Ia justru menemukan bahwa pendekatan yang lebih membosankan, teratur, dan “profesional” menghasilkan lebih banyak musik. Bukan karena ilham mendadak, tapi karena jam terbang yang dipaksa hadir tiap hari.
Kerja kecil yang diulang terus
Perubahan paling besar datang saat ia mulai bekerja dengan musisi lain. Pada September 2020, saat sisa cuti mulai terasa menipis, ia bergabung dengan beberapa komunitas kecil produser techno daring. Waktu itu hampir semua orang berada di rumah. Orang-orang bosan, cemas, dan menyalurkan energi ke hobi masing-masing.
Kolaborasi pun mengalir begitu saja. Satu lagu yang belum rampung berubah jadi lima. Lalu 10 kolaborasi. Lalu 15. Setiap sesi pagi bisa melahirkan 10 loop yang layak dipakai. Sore hari, mixdown harus siap karena orang lain menunggu. Kotak masuknya penuh dengan sketsa baru dan permintaan lanjutan.
Dari situ, musik menjelma menjadi serangkaian “tugas” kecil. Ia sengaja memakai kata chores, atau pekerjaan rutin yang terasa mekanis. Bagi dia, istilah itu lebih jujur ketimbang menyebut semuanya sebagai “proses kreatif” yang megah.
“Tidak ada yang spesial dari tugas-tugas ini,” tulisnya. “Mereka cukup mekanis.”
Dan justru di situlah poinnya. Kalau sebuah sesi terasa membosankan, itu bukan kegagalan. Kalau sebuah ide mentok, ia pindah ke tugas lain. Kalau tidak ada yang terasa menarik, ia beristirahat dan bersepeda. Ada ritme. Ada jeda. Ada kebiasaan.
Ketika hasil bagus lahir dari sesi yang menyebalkan
Dalam beberapa waktu, ia mulai menuntaskan satu, lalu dua, lalu tiga lagu per hari tanpa benar-benar sadar. Semua terasa seperti rangkaian sesi yang mirip. Banyak file musik bahkan cuma mendapat nama seadanya, seperti “jam a02 idea 5”, sebelum akhirnya ia beralih ke sistem penamaan yang lebih rapi agar 200 track techno tak saling tertukar.
Di titik ini, pelajaran paling tajam muncul: nilai sebuah ide tidak selalu terlihat saat ide itu baru lahir. Kadang, baru setelah waktu berlalu dan materi menumpuk, sebuah potongan musik tampak layak disimpan. Kadang malah sebaliknya. Yang dulu terasa penting ternyata biasa saja.
Ia menulis bahwa tidak ada hubungan jelas antara seberapa puas ia terhadap sebuah sesi dan seberapa menarik hasil akhirnya. Bahkan, beberapa musik favoritnya justru lahir dari sesi yang paling menjengkelkan. Jarang sekali ada momen ajaib ketika sebuah lagu hebat muncul utuh dalam satu malam.
Ini menarik buat banyak pembaca, terutama yang suka bikin konten, nulis lagu, desain, atau menggarap karya digital. Pelajarannya sederhana tapi keras: karya bagus jarang lahir dari romansa proses. Ia lebih sering lahir dari pengulangan yang disiplin, dari file yang ditata rapi, dari keputusan untuk terus lanjut meski hasil sementara belum terasa memuaskan.
Pelajaran buat pembuat musik dan pekerja kreatif
Penulis esai itu menyimpulkan bahwa ia harus membuat dirinya “kebal” dulu sebelum menjadi bagus. Maksudnya bukan mati rasa, melainkan cukup akrab dengan kerja berulang sampai rasa canggung, takut, dan terlalu berharap pada inspirasi mulai berkurang.
Kalau ia terus membuat satu lagu sesekali di akhir pekan, ia mungkin tak akan pernah sampai pada kesadaran itu. Ia perlu hidup seperti musisi penuh waktu, meski awalnya cuma berpura-pura. “Saya harus memalsukannya untuk bisa melakukannya,” tulisnya.
Bagi industri kreatif, gagasan ini punya makna besar. Banyak orang mengira kreativitas lahir dari momen langka yang sangat emosional. Padahal, di balik karya yang terdengar spontan, biasanya ada kerja rutin yang panjang dan kadang terasa hambar. Di Indonesia, logika ini juga akrab di kalangan produser bedroom, beatmaker, penulis lagu, sampai podcaster yang membangun katalog karya sedikit demi sedikit.
Ia kini melihat proses membuat track sebagai pekerjaan yang selesai lalu dilupakan. Beratnya hilang. Tapi musiknya tetap tinggal. Dan itu yang membuatnya bahagia.
“Saya tak bisa lebih senang dari ini,” tulisnya. “Tenaga kerjanya cepat terlupa, tapi musiknya bertahan selamanya.”
Pesan akhirnya cukup tegas. Buat sebagian orang, musik memang terasa seperti panggilan jiwa. Tapi untuk sampai ke titik itu, kadang seseorang harus lebih dulu memperlakukannya seperti tugas harian. Bukan untuk merusak seni. Justru agar seni itu bisa hidup lebih lama.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.