Banyak pria merasa perjuangan menurunkan berat badan adalah mimpi buruk yang tak kunjung usai. Sudah menahan lapar seharian, menghindari gorengan, sampai rajin bolak-balik ke gym, tapi jarum timbangan tetap saja membandel di angka yang sama. Frustrasi pun muncul. Ujung-ujungnya, niat diet kandas dan kembali ke pola makan lama.
Dokter sekaligus praktisi kesehatan, dr. Gia Pratama, menyoroti fenomena ini dari sudut pandang yang sering luput dari perhatian banyak orang. Ia menegaskan, kegagalan program penurunan berat badan pada pria bukan selalu karena salah metode. Masalah utamanya justru terletak pada porsi makan yang sering kali terlalu kecil dan tidak memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh laki-laki.
Faktor Massa Otot yang Terabaikan
Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis (13/8/2026), dr. Gia mencoba meluruskan kesalahpahaman umum soal diet. Ia mengingatkan bahwa memaksakan porsi makan yang minim—yang mungkin cocok bagi perempuan—justru menjadi bumerang bagi kaum pria.
Tubuh pria, secara biologis, memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Massa otot laki-laki cenderung lebih besar dan ukuran tubuhnya pun lebih lebar.
Perbedaan massa otot inilah yang menentukan seberapa besar energi yang dibakar tubuh. Semakin besar massa otot, semakin tinggi pula suplai kalori yang dibutuhkan agar metabolisme berjalan optimal.
Ketika seorang pria memotong asupan kalori secara drastis hingga di bawah kebutuhan dasar, tubuh akan bereaksi. Rasa lapar yang ekstrem muncul. Otak kemudian mengirim sinyal darurat agar tubuh segera mendapatkan asupan energi.
Inilah alasan utama mengapa pria sering gagal bertahan di tengah jalan; mereka tidak sedang kekurangan niat, tapi kekurangan bahan bakar untuk fungsi organ vitalnya.
Jangan Asal Ikut Tren Diet
Banyak pria terjebak mengikuti tren diet populer yang sebenarnya tidak dirancang untuk profil metabolisme mereka. Mengikuti porsi makan anggota keluarga atau rekan kerja yang memiliki struktur tubuh berbeda bukanlah keputusan bijak.
Mengurangi porsi secara ekstrem justru mengancam stabilitas metabolisme jangka panjang. Alih-alih membakar lemak, tubuh justru masuk ke mode “hemat energi” atau *starvation mode*, yang justru bisa menghambat proses penurunan berat badan itu sendiri.
Dr. Gia menekankan bahwa pria butuh strategi yang lebih cerdas. Fokus utamanya bukan sekadar memangkas angka di timbangan lewat pembatasan kalori yang menyiksa. Sebaliknya, pria perlu menjaga kecukupan nutrisi untuk mendukung pemeliharaan massa otot.
Ketika massa otot terjaga, pembakaran lemak secara alami akan menjadi lebih efisien. Tubuh tetap bertenaga, aktivitas harian tidak terganggu, dan vitalitas tetap terjaga meski berat badan perlahan turun.
Memahami kebutuhan energi individu adalah kunci emas. Pria tidak perlu merasa harus makan sesedikit mungkin untuk bisa tampil lebih ramping. Yang mereka butuhkan hanyalah pengaturan nutrisi yang seimbang, di mana kebutuhan energi untuk aktivitas fisik tetap terakomodasi.
Strategi yang lebih manusiawi ini memungkinkan pria untuk tetap menjalani pola hidup sehat tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa lapar yang konstan.
Ke depan, para praktisi kesehatan menyarankan agar pria yang ingin mulai diet lebih memperhatikan komposisi makronutrisi—seperti protein tinggi untuk otot—daripada sekadar menghitung kalori rendah. Dengan porsi yang tepat, diet tidak lagi terasa seperti sebuah hukuman. Konsistensi pun lebih mudah dijaga ketika tubuh tidak merasa terancam oleh kekurangan nutrisi yang parah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.