JAKARTA — Lebih dari 40 ribu balita sudah terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pemerintah kini mendapat tekanan untuk memberikan perlindungan dan intervensi khusus bagi kelompok paling rentan, terutama anak balita dan lansia.
Angka 40 ribu anak di bawah lima tahun yang jatuh sakit menunjukkan dampak nyata dari polusi udara yang melanda wilayah-wilayah dengan karhutla. Kelompok usia ini memiliki sistem imun yang belum matang, sehingga sangat mudah tertular penyakit pernapasan ketika terpapar asap tebal.
Masalahnya tidak sekadar menjalani pengobatan rutin. Balita yang mengalami ISPA berisiko mengalami komplikasi serius, termasuk pneumonia dan gangguan pernapasan kronis jika tidak ditangani dengan cepat. Orang tua harus bolak-balik ke fasilitas kesehatan, biaya berobat meningkat, dan produktivitas keluarga menurun.
Desakan untuk Intervensi Serius
Berbagai pihak, mulai dari organisasi kesehatan hingga aktivis lingkungan, menekan pemerintah agar segera mengambil langkah konkret. Intervensi yang diminta bukan sekadar kampanye kesadaran, tetapi tindakan nyata seperti:
Pertama, penyediaan masker N95 gratis untuk anak balita dan lansia di zona terdampak karhutla. Masker biasa tidak cukup menyaring partikel asap yang sangat halus. Kedua, peningkatan kapasitas rumah sakit dan puskesmas di wilayah karhutla dengan stok obat pernapasan yang memadai. Ketiga, program monitoring kesehatan berkala untuk balita dan lansia yang tinggal di area dengan risiko tinggi.
Keempat, penghentian atau pengurangan drastis pembakaran lahan untuk persiapan pertanian. Jangka pendek bisa jadi efektif mengatasi ISPA yang sudah ada, tapi jangka panjang hanya pengendalian karhutla yang bisa memutus akar masalah.
Dampak Jangka Panjang pada Tumbuh Kembang
Data medis menunjukkan paparan asap berkepanjangan pada masa balita meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis di masa depan. Kapasitas paru-paru yang berkembang pada usia balita dapat terganggu secara permanen jika terlalu sering terpapar polusi udara tingkat tinggi.
Lansia juga terancam. Sistem imun mereka sudah melemah seiring usia, sementara jutaan dari mereka memiliki riwayat penyakit pernapasan atau kardiovaskular. Satu episode ISPA berat bisa menjadi pemicu gangguan kesehatan yang lebih serius atau bahkan fatal.
Wilayah dengan karhutla terberat tahun ini mencakup Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Jutaan warga di kota besar seperti Pekanbaru, Palembang, dan Banjarmasin bernapas asap hampir setiap tahun saat musim kemarau tiba.
Tanggung Jawab Bersama
Pemerintah pusat dan daerah perlu bergerak cepat. Bukan hanya Kementerian Kesehatan, tetapi juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, dan pemerintah provinsi harus membuat rencana konkret dengan anggaran yang jelas.
Tanpa intervensi serius, angka 40 ribu balita terkena ISPA bisa menjadi awal dari masalah kesehatan masyarakat yang lebih besar. Setiap tahun musim karhutla berulang, angka korban meningkat, dan generasi muda Indonesia terancam tumbuh dengan sistem pernapasan yang lemah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.