Senin, 9 November 2026 WIB
DAERAH

Dua Helikopter Pemadam Karhutla Jatuh Kurun Waktu 4 Hari di Kalimantan, 4 Orang Tewas

Dua Helikopter Pemadam Karhutla Jatuh Kurun Waktu 4 Hari di Kalimantan, 4 Orang
Dua Helikopter Pemadam Karhutla Jatuh Kurun Waktu 4 Hari di Kalimantan, 4 Orang

KALIMANTAN TENGAH — Helikopter karhutla kembali jatuh di Kalimantan pada Minggu (8/11/2026), empat hari setelah kecelakaan serupa di Seruyan yang menewaskan tiga prajurit. Kecelakaan kedua terjadi di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, saat helikopter menjalankan misi pemadaman.

Helikopter Super Puma H225 dengan registrasi VH-HGM jatuh di perairan Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan. Dua pilot asal Australia dan Selandia Baru selamat, sementara kru ketiga, warga negara Indonesia bernama Yayan Supyansuri, ditemukan meninggal dunia.

Dua kecelakaan saat mengambil air

Kecelakaan pertama melibatkan helikopter Mi-17V5 TNI Angkatan Darat bernomor HA-5235. Helikopter itu jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11/2026), pukul 11.18 WIB.

Armada tersebut berangkat dari Kuala Pembuang pukul 09.55 WIB menuju Telaga Pulang. Misinya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Helikopter membawa delapan kru. Saat mengambil air untuk water bombing—cara memadamkan api dengan menjatuhkan air dari udara—helikopter kehilangan kendali lalu jatuh.

Tiga prajurit gugur dalam kecelakaan itu: Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo. Lima kru lainnya selamat dan dirawat di RSUD Kuala Pembuang.

Kadispenad Brigjen TNI Donny Pramono menyebut kecelakaan terjadi ketika helikopter mengambil air dalam pelaksanaan misi. Ia menyatakan peristiwa itu sebagai kecelakaan kerja saat menjalankan tugas operasi.

Helikopter sewaan BNPB jatuh di Barito

Empat hari kemudian, Super Puma H225 VH-HGM mengalami kecelakaan ketika mendukung pemadaman karhutla di Kalimantan Selatan. Helikopter itu merupakan armada sewaan yang dikontrak BNPB, bukan milik BNPB maupun TNI.

Rekaman amatir yang diterima BNPB memperlihatkan helikopter kehilangan kendali saat bermanuver setelah mengambil air dari sungai menggunakan bambi bucket, wadah air yang digantung di bawah helikopter.

Dua pilot, Michael John Betteridge dan Hugh Andrew John Page, selamat dan mendapat penanganan medis. Informasi lanjutan dari proses pencarian menyebut kru ketiga, Yayan Supyansuri, ditemukan meninggal dunia. Dengan demikian, kecelakaan di Barito menewaskan satu kru dan menyisakan dua orang selamat.

Perbedaan jumlah korban selamat dalam keterangan awal dan perkembangan pencarian terjadi karena kru ketiga belum ditemukan saat informasi awal disampaikan. Hasil pencarian kemudian memastikan nasib seluruh awak helikopter.

Risiko operasi pemadaman dari udara

Dua kecelakaan tersebut sama-sama terjadi saat helikopter mengambil air dari sungai untuk misi pemadaman. Pola itu membuat keselamatan awak dan kondisi manuver menjadi perhatian penting dalam operasi udara.

Bagi warga di sekitar kawasan karhutla, armada udara membantu menjangkau titik api yang menjadi sasaran pemadaman. Namun, kecelakaan juga membawa konsekuensi langsung bagi kru, keluarga mereka, serta petugas yang menjalankan operasi. Di Seruyan, lima orang yang selamat harus menjalani perawatan di rumah sakit; di Barito, dua pilot selamat, sedangkan seorang kru meninggal.

Data dua insiden ini juga memperlihatkan bahwa misi pemadaman tidak berhenti pada pengangkutan air. Helikopter harus bermanuver untuk mengambil air sebelum menjatuhkannya ke titik api, dan kedua kecelakaan terjadi pada fase pengambilan tersebut.

Dalam kecelakaan Mi-17 TNI AD, Brigjen TNI Donny Pramono menyebut, “Peristiwa tersebut merupakan kecelakaan kerja saat pelaksanaan tugas operasi.”

(PE)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →