BARITO KUALA — Helikopter water bombing jatuh di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, saat mengambil air untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan pada Minggu (8/11/2026). Peristiwa sekitar pukul 12.15 Wita itu terjadi di Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala.
Pembaruan: tim penyelamat gabungan melaporkan satu kru asal Indonesia meninggal dunia dalam kecelakaan ini, sedangkan dua pilot asing selamat.
Kasi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, Bram Madya Temara, membenarkan kecelakaan tersebut. Tim pencarian dan pertolongan segera bergerak menuju lokasi.
“Sudah (monitor), tim segera merapat ke lokasi,” ujar Bram.
Kecelakaan saat mengangkat air
Helikopter sedang menjalankan water bombing, yakni pemadaman dari udara dengan membawa dan menjatuhkan air ke area kebakaran. Dalam operasi itu, awak menggunakan tali panjang yang terhubung ke wadah air besar bernama bambi bucket.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan helikopter mengambil air dari Sungai Barito. Saat wadah mulai terangkat, helikopter terlihat turun perlahan sebelum bagian depannya menukik ke arah sungai.
Momen itu terjadi ketika pesawat masih berada di atas permukaan air. Tim pencarian dan pertolongan kemudian bergerak ke lokasi setelah menerima informasi mengenai kecelakaan tersebut.
Lokasi berbeda dari kecelakaan MI-17 di Seruyan
Kecelakaan di Barito Kuala ini perlu dibedakan dari jatuhnya helikopter MI-17V5 milik TNI AD di perairan Seruyan, Kalimantan Tengah. Kedua peristiwa sama-sama berkaitan dengan misi pemadaman karhutla, tetapi terjadi di lokasi berbeda.
Helikopter MI-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 jatuh di perairan Kuala Pembuang, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan. Kecelakaan itu terjadi pada Rabu (4/11/2026), saat pesawat menjalankan misi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Pada Sabtu (7/11/2026), tim gabungan menemukan dan mengevakuasi perekam data penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR) serta bagian ekor helikopter tersebut. FDR kemudian diserahkan kepada tim investigasi Puspenerbad untuk mendukung penyelidikan.
Temuan dari Seruyan itu berasal dari operasi pencarian yang melibatkan penyelam TNI AL, personel Penerbad, Polairud, dan Basarnas. Informasi tersebut berkaitan dengan kecelakaan MI-17V5, bukan helikopter yang jatuh di Sungai Barito.
Dampak terhadap operasi pemadaman
Jatuhnya helikopter saat mengambil air membuat keselamatan awak dan kondisi di lokasi menjadi perhatian langsung dalam operasi pemadaman. Water bombing bergantung pada penerbangan berulang menuju sumber air dan area kebakaran, sehingga kecelakaan dapat memengaruhi pelaksanaan misi di wilayah yang ditangani.
Bagi warga sekitar, pergerakan tim menuju Desa Tabatan Baru menjadi langkah terdekat setelah insiden. Pemeriksaan di lokasi juga diperlukan untuk memastikan keadaan helikopter dan orang-orang yang berada di dalamnya.
Peristiwa di Barito Kuala terjadi kurang dari sehari setelah tim gabungan mengevakuasi FDR helikopter TNI AD di Seruyan. Namun, informasi investigasi dari Seruyan tidak menjelaskan penyebab kecelakaan di Sungai Barito; keduanya merupakan kejadian terpisah.
Tim pencarian dan pertolongan Banjarmasin bergerak ke lokasi jatuhnya helikopter di Desa Tabatan Baru untuk melakukan penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Helikopter Super Puma Jatuh di Barito Kuala, Satu Kru Tewas











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.