CARACAS — Delcy Rodriguez dicemooh warga saat mengunjungi daerah terdampak gempa di Venezuela pada Jumat, 26 Juni 2026, ketika kemarahan publik memuncak atas lambatnya penanganan bencana yang sudah menewaskan sedikitnya 920 orang.
Di lokasi yang porak-poranda, warga yang masih mencari keluarga mereka berteriak dari balik barisan pengamanan. Suara paling keras datang dari mereka yang sudah berhari-hari menggali puing dengan tangan kosong, berharap ada anggota keluarga yang masih hidup.
Suasana di lokasi bencana memanas
“Pemerintah tidak melakukan apa pun untuk rakyat,” teriak sejumlah warga, seperti dikutip AFP dan disiarkan pada Sabtu, 27 Juni 2026. Kalimat itu terdengar di tengah area yang dipenuhi debu, beton retak, dan suara alat seadanya yang memecah reruntuhan.
Rodriguez, yang disebut sebagai pemimpin sementara Venezuela, datang saat rasa frustrasi warga sedang berada di puncaknya. Banyak keluarga menilai otoritas bergerak terlalu lambat. Mereka mengeluh alat berat tak kunjung tiba, sementara setiap menit sangat berarti bagi korban yang diduga masih terjebak di bawah bangunan runtuh.
Di beberapa titik, anggota keluarga, tetangga, dan sukarelawan bekerja tanpa henti. Mereka menggunakan sekop kecil, palu godam, bahkan tangan kosong untuk memindahkan tanah dan beton. Pencarian berlangsung dalam sunyi yang rapuh. Sesekali hanya terdengar teriakan pendek, lalu diam lagi.
Korban terus dicari, waktu makin sempit
Hingga Jumat, jumlah korban tewas akibat gempa Venezuela dilaporkan setidaknya 920 orang. Puluhan ribu lainnya masih hilang. Angka itu memberi gambaran betapa luas dan berat dampak gempa yang mengguncang kawasan pesisir dekat Caracas tersebut.
Daerah pesisir La Guaira, yang berada dekat ibu kota, disebut menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Menurut laporan AFP, satu demi satu bangunan roboh setelah dua gempa besar dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah itu. Skala kerusakannya membuat banyak warga nyaris tak punya waktu untuk menyelamatkan barang, apalagi harta benda.
Marjosly Salazar, 40 tahun, berdiri di antara puing dengan wajah lelah. Ia masih mencari cucunya yang dipanggil Gael, bayi berusia lima bulan. Putri sulungnya yang berusia 16 tahun telah dipastikan meninggal dalam bencana itu. Suaranya terdengar patah saat meminta bantuan tambahan.
“Saya masih terus mencari keberadaan Gael kecil saya, dia baru berusia lima bulan,” kata Salazar. “Tolong, kami butuh bantuan di sini. Kami butuh mesin untuk mulai mengangkat tiang-tiang penyangga.”
Ia juga menegaskan bahwa sejauh itu belum melihat pejabat pemerintah di lokasi. “Kami belum melihat satu pun pejabat pemerintah di sini, sama sekali tidak ada,” ujarnya. Pengakuan seperti ini membuat kemarahan warga makin sulit diredam.
Mengapa lambatnya respons jadi masalah besar
Keluhan warga bukan semata soal kehadiran pejabat. Yang lebih mendesak adalah kemampuan pemerintah menjangkau korban. Dalam bencana gempa, beberapa jam pertama sering menentukan hidup dan mati orang yang tertimbun. Ketika alat berat terlambat masuk, peluang menyelamatkan korban ikut menyusut.
Itu sebabnya warga begitu keras menuntut peralatan, tenaga, dan koordinasi yang lebih cepat. Mereka tidak mencari seremoni. Mereka butuh mesin pengangkat, tim evakuasi, penerangan, dan akses yang aman agar pencarian tidak berhenti di tengah jalan. Di lapangan, kebutuhan itu terasa amat mendesak.
Para pekerja dan relawan juga berusaha menjaga keheningan mutlak saat membongkar puing. Tujuannya sederhana: mendengar jika masih ada korban yang berteriak dari bawah reruntuhan. Cara ini terdengar sederhana, tapi dalam situasi seperti itu, tiap suara kecil bisa jadi penentu.
Di sisi lain, pemerintah mulai membatasi akses ke zona bencana. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengumumkan bahwa akses ke wilayah terdampak akan dibatasi mulai pukul 8 malam waktu setempat pada Jumat. Langkah itu kemungkinan diambil untuk alasan keamanan dan pengaturan lalu lintas bantuan, namun bagi keluarga korban, pembatasan semacam ini juga bisa terasa sebagai hambatan baru.
Gempa Venezuela dan tekanan publik ke pemerintah
Peristiwa ini memperlihatkan hubungan yang tegang antara warga dan pemerintah saat bencana besar melanda. Ketika rumah runtuh dan orang hilang di bawah puing, publik biasanya menilai negara dari hal paling sederhana: seberapa cepat bantuan datang dan seberapa jelas koordinasinya. Jika jawabannya lambat, kemarahan mudah meledak.
Dalam kasus Venezuela, tekanan itu bertemu dengan jumlah korban yang besar dan kondisi lapangan yang kacau. Warga harus menggali sendiri, sementara kerabat mereka menunggu kabar yang tak kunjung datang. Situasi seperti ini sering membuat kepercayaan publik menguap lebih cepat daripada proses evakuasi berlangsung.
Bagi pembaca, tragedi ini juga memberi pelajaran yang keras tentang arti kesiapsiagaan bencana. Gempa besar tak memberi banyak ruang untuk terlambat. Jalur evakuasi, alat berat, komunikasi darurat, dan respons awal selalu jadi pembeda antara penyelamatan dan kehilangan.
Di La Guaira dan wilayah sekitar Caracas, pertanyaan itu sekarang terasa sangat nyata. Berapa banyak yang masih hidup di bawah reruntuhan? Dan berapa cepat bantuan bisa benar-benar menjangkau mereka? Hingga Jumat, korban tewas sedikitnya 920 orang, angka yang sudah cukup menggambarkan betapa mahal waktu dalam bencana ini.
Ringkasan singkat: Delcy Rodriguez dicemooh warga saat mengunjungi daerah terdampak gempa di Venezuela. Warga memprotes lambatnya respons pemerintah, sementara korban tewas dilaporkan sedikitnya 920 orang dan puluhan ribu lainnya masih hilang. Pencarian terus berlangsung di La Guaira dan sekitar Caracas.
FAQ singkat: Apa yang paling dikeluhkan warga? Lambatnya pengerahan alat berat dan minimnya kehadiran pejabat. Di mana kerusakan terparah? Di pesisir La Guaira, dekat Caracas. Kenapa situasi darurat? Karena gempa berkekuatan M 7,2 dan 7,5 merobohkan banyak bangunan sekaligus.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.