Minggu, 28 Juni 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Puncak Kemarau Agustus 2026: Waspada Sumsel Lebih Kering dari Normal

Puncak Kemarau Agustus 2026
Puncak musim kemarau 2026 jatuh di Agustus. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Puncak musim kemarau 2026 jatuh di Agustus. BMKG resmi mengumumkan 369 Zona Musim atau 48,84% wilayah Indonesia mencapai puncak kemarau bulan itu dan Sumatera Selatan masuk kategori lebih kering dari normal, dengan risiko kebakaran hutan serta kekeringan yang nyata.

Pengumuman itu dirilis BMKG lewat siaran pers 10 Juni 2026 lalu. Dampaknya luas, lebih dari separuh wilayah Indonesia bakal merasakan kemarau lebih panjang dan lebih kering ketimbang rata-rata historis.

Tiga Gelombang Puncak Kemarau

BMKG membagi puncak kemarau 2026 ke dalam tiga periode berdasarkan Zona Musim (ZOM).

Juli 2026 menjadi babak pertama. Sebanyak 83 ZOM atau 12,26% wilayah Indonesia mencapai puncak, mencakup sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, NTT selatan, Sulawesi Barat utara, Sulawesi Tengah barat, sebagian Maluku, serta Papua Barat Daya selatan.

Puncak terbesar terjadi Agustus. Gelombang ini menelan 369 ZOM sekaligus mencakup Sumatera tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

September menyusul dengan 169 ZOM atau 25,41% wilayah. Daerah yang masuk meliputi Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Maluku Utara.

Bulan Jumlah ZOM Persentase Wilayah
Juli 2026 83 ZOM 12,26%
Agustus 2026 369 ZOM 48,84%
September 2026 169 ZOM 25,41%

Kondisi Khusus Sumatera Selatan dan Palembang

Sumatera Selatan sudah lebih dulu merasakan perubahan. Kemarau di wilayah ini dimulai Mei 2026 lebih awal dari normal.

Puncaknya Juli-Agustus 2026. Sifatnya Bawah Normal, artinya curah hujan lebih rendah dari rata-rata. Palembang, Musi Banyuasin, Muara Enim, dan Ogan Ilir masuk ZOM 125 yang terdampak langsung pada periode itu.

BMKG Sumatera Selatan sudah bergerak sejak awal. Apel Siaga Karhutla digelar 6 Mei 2026, melibatkan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan serta Gubernur Sumatera Selatan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB juga diintensifkan, terutama di kawasan lahan gambut.

El Nino Jadi Faktor Kunci

Kemarau 2026 bukan sekadar siklus tahunan biasa. Ada faktor pemberat.

La Nina lemah yang sempat mewarnai awal tahun berakhir Februari 2026. Setelahnya, peluang El Nino lemah hingga moderat meningkat menjadi 50–80% pada semester II 2026. Kondisi inilah yang mendorong curah hujan makin rendah di banyak daerah.

Angkanya bicara sendiri: 451 ZOM atau 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau Bawah Normal. Durasi kemarau di 57,2% wilayah juga lebih panjang dari biasanya. Dan 46,5% wilayah mengalami awal kemarau yang maju dari kalender historis.

Suhu ekstrem sudah tercatat. Sejak Mei 2026, suhu maksimum di atas 35°C muncul di Aceh, Riau, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Risiko Karhutla dan Kekeringan

Dua ancaman terbesar yakni kebakaran hutan dan kekeringan.

Lahan gambut Sumatera Selatan paling rentan. Gambut yang kering bisa terbakar dalam hitungan jam dan sulit dipadamkan. Risiko ISPA dari asap, krisis air bersih, hingga gangguan sektor pertanian semuanya mengintai.

Satu hal perlu diluruskan. Klaim bahwa kemarau 2026 adalah “yang terparah dalam 30 tahun” tidak akurat. BMKG menegaskan kondisi tahun ini memang di bawah normal, tapi tidak setara dengan keparahan kemarau 1997, 2015, atau 2019 yang jauh lebih ekstrem.

Yang Harus Dilakukan Warga dan Petani

BMKG mengeluarkan sejumlah imbauan konkret. Petani disarankan menyesuaikan pola tanam karena musim maju dan lebih kering tidak bisa menggunakan jadwal tahun-tahun sebelumnya begitu saja. Pengelolaan irigasi dan waduk juga perlu berbasis data prakiraan BMKG, bukan kebiasaan lama.

Warga diminta tidak membakar lahan dengan alasan apapun, memantau titik panas (hotspot) lewat aplikasi resmi, dan menjaga kesehatan dari risiko dehidrasi serta ISPA saat suhu memuncak.

Informasi terkini bisa diakses langsung lewat kanal resmi BMKG Sumatera Selatan dan BMKG pusat.

FAQ: Kemarau 2026

Kapan puncak musim kemarau 2026?
Agustus 2026. Sebanyak 48,84% wilayah Indonesia termasuk Sumatera tengah dan sebagian besar Jawa mencapai puncak pada bulan itu.

Sumatera Selatan mulai kapan?
Kemarau sudah mulai Mei 2026, lebih awal dari normal. Puncaknya Juli-Agustus 2026 dengan sifat Bawah Normal atau lebih kering dari rata-rata.

Benarkah kemarau 2026 terparah 30 tahun?
Tidak. BMKG menyatakan kemarau tahun ini memang di bawah normal, tapi tidak seekstrem tahun 1997, 2015, dan 2019.

Risiko terbesar apa?
Kebakaran hutan dan lahan gambut, plus kekeringan. Potensi El Nino moderat membuat curah hujan lebih rendah dari biasanya.

Ada operasi modifikasi cuaca?
Ada. BMKG bersama BNPB mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) khususnya di kawasan gambut Sumatera Selatan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda