Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Video: DPR Sebut Pengelolaan Logam Tanah Jarang Tak Boleh Sembarangan

logam tanah jarang
Foto: Peggy Greb, US department of agriculture / Wikimedia Commons (Public domain)

Di sinilah pentingnya tata kelola yang dibicarakan DPR. Bambang menekankan perlunya memperkuat aspek teknologi, investasi, hingga pasar. Kalimat itu terdengar teknis, tapi dampaknya nyata. Teknologi menentukan seberapa jauh mineral bisa dimurnikan di dalam negeri. Investasi menentukan apakah proyek bisa jalan. Pasar menentukan ada tidaknya pembeli dengan harga yang masuk akal.

Indonesia juga perlu belajar dari pengalaman komoditas lain. Saat ekspor bahan mentah terlalu lama dibiarkan, negara sering terlambat memegang kendali harga. Begitu pasar global bergejolak, produsen dalam negeri ikut terseret. Dengan logam tanah jarang, risikonya lebih besar karena sifatnya strategis dan terkait industri yang sensitif.

Karena itu, pembentukan bursa mineral pada 2027 dan dorongan hilirisasi logam tanah jarang sebaiknya dibaca sebagai dua keping kebijakan yang saling mengunci. Satu mengatur harga dan perdagangan. Satu lagi mengatur nilai tambah dan arah industri. Kalau dua-duanya berjalan, Indonesia punya posisi tawar yang lebih kuat. Kalau tidak, potensi besar itu bisa kembali lewat begitu saja.

CNBC Indonesia melalui dialog Maria Katarina dengan Bambang Patijaya memberi sinyal bahwa pembahasan ini masih terus bergerak. Yang dinanti berikutnya adalah seberapa cepat pemerintah menerjemahkan dorongan politik itu menjadi aturan, infrastruktur, dan peta jalan industri yang konkret. Soalnya, di komoditas seperti ini, waktu sering lebih mahal daripada bijihnya sendiri.

Ringkasan singkat:

1. DPR mendorong pengelolaan logam tanah jarang dilakukan hati-hati karena komoditas ini strategis bagi industri teknologi dan pertahanan.

2. Pemerintah dan DPR menyiapkan bursa mineral yang ditargetkan mulai 1 Januari 2027 untuk membentuk harga acuan nasional dan menekan praktik transfer pricing serta under invoicing.

3. Bangka Belitung dan Sulawesi disebut punya potensi logam tanah jarang, tetapi butuh tata kelola, teknologi, investasi, dan pasar yang jelas agar nilai tambahnya tidak hilang.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda