Dalam praktiknya, pendekatan seperti ini membantu menjaga keseimbangan yang rumit. Jika BI hanya menekan inflasi lewat bunga tanpa dukungan pembiayaan, ekonomi bisa melambat terlalu dalam. Sebaliknya, jika longgar berlebihan saat tekanan eksternal tinggi, rupiah dan inflasi berisiko lebih liar.
Destry menekankan bahwa mandat BI memang menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, bank sentral tidak hanya melihat angka inflasi, tetapi juga arus modal, kondisi pasar obligasi, dan kemampuan perbankan menyalurkan dana ke sektor riil.
Harga energi naik, inflasi dan BBM non-subsidi ikut jadi perhatian
BI juga menyoroti perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik di kawasan itu mendorong kenaikan harga energi di pasar global. Dampaknya mulai terasa di banyak negara, termasuk Indonesia, terutama lewat potensi kenaikan harga BBM non-subsidi yang bisa mengerek inflasi.
Ini yang membuat BI berhitung dengan hati-hati. Harga energi punya efek berantai. Begitu biaya energi naik, ongkos logistik, produksi, dan distribusi ikut terdorong. Pada titik tertentu, tekanan itu bisa masuk ke harga barang kebutuhan dan menggerus daya beli.
Namun, tak semua sisi kabar buruk. BI juga mencermati kenaikan harga komoditas lain, seperti batu bara, yang berpotensi meningkatkan devisa negara. Saat harga komoditas ekspor membaik, penerimaan sektor eksternal bisa terbantu, meski ketidakpastian global belum mereda.
Bagi pembaca, arah kebijakan ini berarti satu hal: biaya dana mungkin bergerak naik, tapi BI ingin memastikan guncangan eksternal tidak berubah menjadi krisis kepercayaan di pasar. Rupiah tetap dijaga. Stabilitas dijadikan pegangan.
Pasar akan memantau langkah berikutnya
Pasar kini menunggu bagaimana BI menerjemahkan kombinasi suku bunga, insentif makroprudensial, dan kebijakan sistem pembayaran dalam beberapa bulan ke depan. Jika tekanan geopolitik berlanjut, ruang kebijakan BI bakal tetap sempit dan penuh hitungan.
Untuk saat ini, pesan BI jelas: harga energi naik boleh menambah tekanan, tapi stabilitas rupiah, inflasi, dan sistem keuangan tidak boleh lepas kendali. Arah kebijakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh pergerakan dolar, komoditas, dan tensi perang yang belum mereda.
Dialog lengkap Destry Damayanti dengan CNBC Indonesia dibahas dalam program Economic Update pada Selasa, 23 Juni 2026.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.